Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 49 Dua Bayi Mungil


__ADS_3

Satu tahu kemudian, kehidupan Raka dan Launa lebih berwarna dari tahun yang lalu. Dimana hari ini Raka telah memiliki dua bayi kembar yang telah dilahirkan oleh Launa.


Proses melahirkan secara normal untuk dua bayi kembar Raka dan Launa. Kini Raka menatap wajah lelah Launa yang telah berhasil melahirkan dua bayi kembar untuk dirinya.


"Terima kasih sayang, terima kasih sudah memberikan dua bayi kembar yang lucu," ucap Raka sembari mencium punggung tangan Launa dengan sayang.


Launa tersenyum menatap wajah Raka yang terlihat bahagia.


"Sama-sama sayang, terima kasih juga telah menemaniku proses melahirkan dua bayi kembar kita dengan selamat. Walaupun dua tangan kamu menjadi korban berkas cakaranku." Launa menatap ke arah kedua tangan Raka yang dipenuhi oleh bekas luka cakarannya.


Raka yang melihat kedua tangannya terkena cakaran dan ada rasa perih sedikit tetapi tidak berlaku dengan kebahagiaan untuk dirinya sudah menjadi seorang ayah.


"Tidak masalah, aku tidak merasa sakit apapun. Aku sangat bersyukur karena kamu selamat melahirkan dua bayi lucu-lucu untukku." Raka menoleh ke arah dua bidan yang sedang memandikan dua bayi mungilnya.


"Dua Bayi Kita sepasang kan jenis kelaminnya laki-laki dan perempuan?" tanya Raka memastikan lagi pada Launa.


Launa mengangguk cepat atas perkataan Raka yang sudah 10x Raka memberikan pertanyaan yang sama pada Launa.


"Iya sayangku, apa Kakak tidak bosan mengajukan pertanyaan yang sama padaku?" tanya Launa balik membuat Raka menyenggir kuda.


"Tuan!" panggil Bidan Seta membuat Raka menoleh ke arah samping.


"Iya." jawab Raka cepat.


"Proses memandikan bayi Tuan dan Nona sudah selesai. Sudah waktunya untuk mengazankan bayi di ruang bayi." jelas Bidan Seta dan Raka mengangguk cepat.


"Sayang, aku mau ke ruangan bayi dulu." pamit Raka pada Launa.


"Iya sayang, ini berikan dua kalung hitam ini pada kedua anak kita." Launa menyerahkan dua kalung hitam hiasan tiga bunga di depannya pada Raka.


Raka menerima dua kalung hitam yang diberikan oleh Launa.


"Baiklah." setelah itu Raka mengikuti langkah kaki Bidan Seta menuju ruangan bayi di sebelah ruang rawat Launa.

__ADS_1


Di dalam ruangan bayi, banyak sekali bayi-bayi konglomerat yang berbaring di atas ranjang tidur bayi. Langkah kaki Raka terhenti saat menatap dua bayi mungil dengan wajah merah merona ciri khas baru lahir sedang menangis.


Oeek... Oeek... Oeek...


Raka mendekatkan dirinya pada ranjang tidur dua bayi.


"Cup... Cup... Anak papa yang cantik dan tampan ini jangan menangis sayang. Papa sudah datang menemui kalian," bujuk Raka sambil mengusap wajah bayi mungilnya.


Seketika suara dua bayi kembar Raka berhenti dan Raka bisa bernafas lega.


"Syukurlah bayi-bayiku sudah mengerti, bayi-bayiku anak pintar dan lucu." puji Raka dengan tersenyum manis ke arah dua bayi mungil sedang menatap polos ke arah dirinya.


Bidan Seta yang berdiri di sebelah Raka. Ia memberitahu Raka agar mulai mengadzani kedua bayinya dan Raka langsung mengikuti instruksi Bidan Seta.


Raka mulai mengendong bayi laki-laki dan perempuanya satu persatu dengan hati-hati, dibantu oleh Bidan Seta untuk memperbaiki posisi gendong bayi yang benar. Raka terlihat khushu mengadzani kedua bayi kembarnya.


Setelah selesai mengadzani kedua bayinya, barulah Raka memasangkan dua kalung pada bagian kedua leher bayi kembarnya.


"Aamiin." sahut Bidan Seta mengaminkan doa Raka.


"Bidan Seta, setelah memeriksa kedua bayi saya. Tolong, dua bayi saya langsung bawa ke ruang rawat istri saya. Jangan salah membawa bayi saya, saya tahu ciri khas kedua bayi saya," ucap Raka memberi peringatan pada Bidan Seta.


"Baik Tuan, saya akan bekerja dengan baik." jawab Bidan Seta cepat karena tidak mau membantah pria keturunan konglomerat atau miliader di hadapannya.


Raka melangkah pergi menuju ruang rawat Launa yang ternyata sudah ada Mama Siska dan Nenek Melati yang menjaga Launa. Iya, pagi dini hari tadi, Raka dan Launa yang telah melaksanakan sholat subuh. Tiba-tiba air ketuban Launa pecah dan mengeluarkan sedikit darah. Ia langsung membawa Launa menuju rumah sakit. Tanpa memberi kabar pada Mama Siska dan Nenek Melati kalau dirinya dan Launa pergi ke rumah sakit.


Raka melangkah masuk ke dalam ruang rawat Launa. Kedatangannya di dalam ruangan langsung diberi berbagai pertanyaan oleh Mama Siska.


"Raka, dimana dua bayi kembar kalian? Mama tidak sabar ingin melihat cucu mama," ucap Mama Siska.


Raka menghentikan langkah kakinya di hadapan Mama Siska dan ia mencium punggung tangan Mama Siska dan Nenek Melati.


"Bayi kembar kami sedang diperiksa di ruang bayi, Ma. Nanti bidan akan membawanya kesini." jawab Raka jujur.

__ADS_1


"Baiklah, selamat Raka sudah menjadi papa untuk anak-anak kalian," ucap Mama Siska tersenyum.


"Iya, tidak terasa Cucu Nenek yang tampan ini sudah menjadi papa. Selamat ya Raka atas kelahiran dua bayi kembar kalian. Semoga sehat selalu dua bayi kembar dan mamanya," ucap Nenek Melati lagi.


"Aamiin, terima kasih atas ucapannya Nek, Ma. Ayo kita duduk di sofa saja. Launa butuh istirahat." ajak Raka melirik sekilas ke arah Launa yang mulai menguap dan butuh istirahat.


Raka, Nenek Melati dan Mama Siska memilih duduk di sofa rumah sakit. Mereka sedang bercerita mengenai kelahiran Launa secara normal dan mudah saat mengeluarkan dua bayi kembarnya. Raka meminta maaf kepada Nenek Melati dan Mama Siska tidak memberi tahu mereka saat berangkat pagi tadi. Raka tidak ingin Nenek Melati dan Mama Siska sangat menghawatirkan kondisi Launa hingga jatuh sakit.


Tidak berapa lama, datanglah dua bidan perempuan yang sedang mengendong dua bayi kembar Raka dan Launa.


Mama Siska yang melihat kedatangan dua bidan yang berjalan masuk ke dalam ruang rawat Launa. Ia tersenyum lebar karena mendapatkan dua cucu sekaligus.


"Eh dua cucu kembarku yang lucu sudah datang, Masya Allah cucu aku ini tampan dan cantik sekali." puji Mama Siska berjalan mendekati dua bidan perempuan.


Raka dan Nenek Melati ikut berjalan mendekati Mama Siska yang sedang menatap bayi kembar mungil di dalam gendongan dua bidan perempuan itu.


"Permisi Nyonya, Tuan, ini bayi kembarnya. Kondisinya sehat, berat badannya ideal dan sudah diberikan suntik vaksin anti sakit," ucap Bidan Ika sopan.


"Alhamdulillah, saya senang mendengar kabar baik ini. Kalau begitu saya mau mengendong anak saya." sahut Raka seraya mengambil bayi perempuan di tangan Bidan Ida.


"Baik Tuan, ini saya bantu membetulkan posisi mengendong yang benar." balas Bidan Ida dan dibalas anggukan cepat oleh Raka.


Mama Siska dan Nenek Melati yang melihat Raka sedang mengendong cucu mereka. Mereka ingin mengendong bayi laki-laki di dalam gendongan Bidan Liya.


"Bayi perempuannya biarkan saya saja yang mengendongnya," ucap Mama Siska dan Nenek Melati secara bersamaan membuat Bidan Liya binggung untuk memberikan bayi mungil pada siapa.


Raka menatap wajah bayi mungil yang terlihat lucu dan cantik sedang menatap polos ke arah dirinya.


"Anak Papa yang cantik, kamu cantik sekali. Semoga kamu sehat dan sukses selalu ya nak," ucap Raka membuat bayi mungil perempuannya tersenyum manis.


Raka yang mendengar suara perdebatan kecil, ia menoleh ke arah Mama Siska dan Nenek Melati sedang rebutan ingin mengendongnya.


"Nenek, Mama, jangan rebutan mengendong anakku. Nanti anakku menangis." Baru saja Raka menasehati Mama Siska dan Nenek Melati agar tidak rebutan dan rupanya anak laki-lakinya menangis.

__ADS_1


__ADS_2