Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 7 Semoga Kita Bertemu Lagi


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, mobil bus sengaja terparkir di depan pintu utama rumah sakit. Launa yang menyuruh Pak supir agar tidak kesulitan mengangkat tubuh pria tampan yang tak sadarkan diri.


"Pak supir, tolong bantu angkat kakak ini," ucap Launa yang berusaha merangkul tubuh kekar Raka tapi tenaganya tidak berhasil membawanya agar bisa keluar dari dalam bus.


"Baik Nona." jawab Pak supir cepat.


Launa hanya menghela nafas kasarnya disaat melihat satu keluarga hanya duduk saja tanpa berniat membantunya. Launa tidak ingin memperkeruh keadaan, lebih baik ia meminta bantuan pada pak supir saja biar gak ada ribut saling suruh menyuruh.


"Pak, tolong bantu angkat kakak ini karena aku tidak bisa mengangkat tubuhnya." pinta Launa lagi.


"Okey." Launa memberikan rangkulan tubuh Raka agar berpindah tangan pada Pak supir itu.


Lalu, Launa mengikuti langkah kaki Pak supir dari arah belakang tapi sebelum itu Launa membalikkan tubuhnya kearah belakang agar berhadapan dengan penghuni sekeluarga di mobil bus.


"Terima kasih atas kebaikan kalian sudah bersedia menampung aku dan kakak itu. Aku minta maaf sudah membuat kalian merasa risih atas perbuatanku yang sedikit memaksa," ucap Launa dengan senyuman tulusnya.


"Tidak apa-apa nak, saya dan suami beserta anak saya senang menolong kalian. Semoga laki-laki tampan tadi baik-baik saja." sahut wanita cantik berparuh baya yang mewakili menyahut perkataan Launa.


"Amiin, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum." balas Launa lalu membalikkan tubuhnya agar bisa melangkah keluar dari ruangan.


Sementara didepan pintu rumah sakit, sudah ada beberapa perawat dan dokter yang menangani pria yang digendong oleh Pak supir telah berpindah diatas brankas rumah sakit.


Tapi, Launa yang berdiri tidak jauh dari posisi kakak tampan yang diselamatinya itu. Ia menyerhitkan keningnya merasa binggung dengan kondisi semua dokter dan perawat keluar untuk menyambut keberadaan kakak tampan itu.


"Aneh, kenapa semua tenaga kesehatan di rumah sakit ini keluar menyambut kakak itu? Seperti orang memiliki jabatan penting saja mau disanjung begitu. Tapi, ngomong-ngomong, apa benar kakak ini orang penting?"


"Tidak-tidak, aku tidak boleh berpikir macam-macam. Sebab, tugasku hanya menolong orang tanpa melihat identitas dirinya." kata Launa dalam hati. Launa mengikuti brankas tempat tidur itu yang didorong oleh beberapa perawat dan dokter secara ramai-ramai. Sungguh pemandangan aneh tapi nyata yang dilihatnya sekarang.


Sementara Raka yang tidak sadarkan diri di dunia nyata karena luka benturan di kepala ya cukup serius membuatnya tidak bisa sadar dan setia dialam bawah sadarnya.


Raka sekilas mendengar suara pintu ditutup rapat dan beberapa alat medis, seperti alat pernapasan oksigen, alat pendeteksi detak jantung yang diletakkan dibagian dada Raka.


Raka masih tak sadarkan diri dan dirinya asyik dengan sukmanya yang melayang ke suatu tempat.

__ADS_1


Ditaman yang ditumbuhi oleh bunga yang bermekaran indah diiringi pepohonan hijau yang menghiasi keindahan suasana taman membuat siapapun merasa nyaman saat berada disini. Tentu saja, Raka merasakan ada rasa nyaman tersendiri dari taman ini.


Raka menatap takjud dengan taman yang indah begitu luas di sekelilingnya. Raka melihat-lihat berbagai bunga yang tumbuh dan indah. Ia tidak tahu ditempat apa ia sekarang tapi ia merasa tenang dan nyaman saat berada disini.


Raka memilih berjalan mendekati kupu-kupu yang hinggap diatas bunga.


"Indah sekali, sudah berapa lama aku tidak melihat keindahan alam seperti ini?" tanya Raka pelan.


Samar-samar, Raka mendengar suara minta tolong yang posisinya berada tidak jauh dari sana.


"Suara itu seperti seorang wanita meminta tolong." Raka menajamkan Indra pendengarannya untuk mencari sumber suara itu.


"Benar, ada orang yang meminta tolong. Aku harus menolongnya." Raka mulai melangkah cepat menuju kearah sumber suara yang terletak disebelah selatan taman.


Raka mempercepat langkah kakinya agar bisa menolong wanita yang meminta tolong itu tepat waktu. Hingga langkah kaki Raka terhenti tepat dihadapan dua preman dan satu wanita kecil yang berusaha melepaskan pegangan erat dari tangan kekar itu.


"Lepaskan dia!" perkataan Raka membuat kedua preman yang sibuk membujuk wanita cantik yang berusia lebih muda darinya itu langsung terhenti dan menoleh kearah Raka.


Raka membalas tatapan tajam itu apalagi ekspresi wajahnya sudah berubah menjadi dingin.


"Lepaskan atau aku akan mematahkan tangan kalian!" ucap Raka dengan suara dinginnya dan tidak main-main.


"Kamu mengancam!" ucap Preman itu.


"Mungkin." setelah mengatakan itu Raka langsung melangkah mendekati kedua preman yang sudah melepaskan pegangan tangan dari wanita muda itu dan terjadilah baku hantam.


Lihatlah, betapa ahlinya Raka mengalahkan kedua preman itu tanpa menggunakan senjata api apapun. Raka tersenyum penuh kemenangan dikala ia melihat kedua preman jatuh tersungkur dengan luka lebam yang menghiasi wajah jelek mereka.


Raka ingin melanjutkan menghajar kedua preman itu tapi sepertinya preman sudah menyerah.


"Cukup, jangan pukuli kami. Ambillah wanita itu kami tidak butuh," ucap kedua preman secara bersamaan dan dengan langkah terbirit-birit lari dari hadapan Raka.


Raka tersenyum tipis menatap kepergian Preman yang berlari menjauhinya. Ia mengambil tisu dari saku celananya untuk menghapus sisa   dari tangan orang gak punya akhlak itu.

__ADS_1


Kemudian, Raka menoleh menuju kearah wanita muda yang terlihat ketakutan dengan bersembunyi dibelakang pohon. Lantas, Raka berjalan pelan mendekati wanita itu hingga menghentikan langkah kakinya tepat dihadapannya.


"Kemarilah, sudah aman sekarang. Si pecundang sudah aku kalahkan," ucap Raka.


Satu detik, dua detik dan tiga detik telah berlalu tapi wanita itu masih setia bersembunyi dibelakang pohon.


"Jangan takut, aku laki-laki baik. Aku mana mungkin mau mencuri bocah ingusan sepertimu." sambung Raka terdengar cetus.


Raka melihat wanita itu keluar dari tempat persembunyian dibelakang pohon.


"Enak saja, aku bukan bocah ingus. Aku wanita sudah dewasa kok." sahut Wanita itu.


"Masa sih? Tapi kok tubuh kamu kecil sekali. Berapa umurmu?" tanya Raka to the point.


"Kok kepo, baru tahu malah tanyain umur." jawab wanita itu mengabaikan perkataannya Raka.


"Kamu ini percaya diri sekali, tentu saja aku harus tahu identitas kamu agar bisa menolongmu. Bukannya berterima kasih malahan kamu ngajak berantem saja."


"Terima kasih," ucap Wanita muda itu cepat dan ia terlihat malu-malu saat Raka menatap intens menuju kearah dirinya.


"Kenapa kamu berada ditaman ini sendirian? Dimana temanmu? Dimana orang tuamu?" tanya Raka menatap ke sekelilingnya.


"Aku sedang bertengkar dengan kedua orang tuaku. Makanya, aku pergi kesini dan nasib buruk membuatku seperti ini." jawab Wanita itu sedikit menjelaskan dan Raka hanya menjadi pendengar baik saja.


"Siapa namamu?" tanya Raka lagi dan entah kenapa rasa penasaran menyelimuti dirinya.


"Launa, itu namaku." jawab Launa cepat.


"Oh, pulanglah ke rumah nanti orang tuamu mencariku. Kalau begitu, aku pergi dulu." Raka membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan wanita itu.


Tapi, sepertinya wanita muda itu tersenyum kecil menatap punggung bidang pria lebih tua darinya.


"Semoga kita bertemu lagi," ucap Launa sedikit berteriak.

__ADS_1


__ADS_2