Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 48 Berziarah Di Makan Papa Rayhan


__ADS_3

Keesokan harinya, Raka mengajak Launa, Mama Siska dan Nenek Melati untuk mengunjungi pemakaman Papa Rayhan.


Di pemakaman umum elit di Jakarta


Raka telah berdiri di depan pemakaman baru yang di batu nisan bertuliskan nama Rayhan bin Ahmad. Disinilah Raka, Launa, Mama Siska dan Nenek Melati berkumpul untuk mengunjungi tempat peristirahatan terakhir Papa Rayhan.


Launa memegang batu nisan Papa Rayhan dan ia mengusapnya dengan lembut seolah-olah ia sedang membelai kepala Papa Rayhan.


"Papa, Maafin Launa tidak bisa menjaga papa dengan baik. Maafin Launa belum bisa membahagiakan Papa. Launa sangat menyesal karena mempercayai Mita membuat hidup kita menderita. Maafin Launa, Pa. Maafin Launa, Hiks... Hiks..." Launa menangis sejadi-jadinya di hadapan pemakaman Papa Rayhan. Ia meluapkan isi hatinya yang penuh penyesalan.


Raka berjongkok di sebelah Launa untuk menenangkan istrinya yang sedang kacaw.


"Launa, kita harus mengikhlaskan papa pergi menghadap Tuhan. Dengan begitu, Papa bisa tenang," ucap Raka pelan. Ia menoleh ke arah Mama Siska yang menangis tersedu-sedu atas kepergian suaminya untuk selama-lamanya.


"Mama, maafin Raka tidak bisa menjaga Papa dengan baik. Raka sangat menyesal karena tidak menunggu kalian di ruang operasi itu." lanjut Raka yang teringat dimana ia disuruh pulang untuk meladeni kedatangan Mita dan Tuan Leo di rumahnya.


"Tidak Raka, semua kejadian ini bukanlah salahmu. Ini semua salah Leo dan Mita. Sungguh mereka tidak punya hati untuk menghancurkan hidup orang tak bersalah termasuk hidupmu yang penuh penderitaan. Mama sangat mengerti dengan semua cobaan hidup yang telah dilewati. Seharusnya Mama sangat bersyukur telah dipertemukan dengan kamu bisa menjaga Launa dan membantu kehidupan kami." sahut Mama Siska panjang lebar di hadapan Raka.


"Siska, jangan sungkan seperti itu. Aku dan Raka sudah menganggap kalian Keluarga kami sendiri. Jika sudah menikah dengan cucuku, kamu sudah menjadi anakku dan Launa cucuku sendiri. Jadi, tidak ada rasa canggung atau tidak enakkan diantara kita." balas Nenek Melati terdengar tulus di hadapan Mama Siska.


Mama Siska tersenyum tulus di hadapan Raka dan Nenek Melati.


"Terima kasih banyak atas kebaikan kalian. Semoga tidak ada lagi orang-orang jahat yang menggangu hidup kita," ucap Mama Siska mendoakan baik-baik pada Raka dan Mama Siska.


"Aamiin." jawab Raka dan Nenek Melati.


Raka mengalihkan pandangannya dari Mama Siska menuju ke arah Launa yang terus menangis dalam diam.


"Launa, sebaiknya kita berikan doa terbaik untuk Papa. Setelah itu kita taburkan bunga dan air agar papa tenang di alam sana." ajak Raka dan Launa mengangguk mengiyakan perkataan Raka.


Mereka mulai berdoa menurut agama Islam dalam hati. kemudian, Raka mengambil plastik hitam berisi bunga dan daun pandan untuk ditaburi di atas pemakaman.

__ADS_1


"Ini ambillah bunganya," ucap Raka dengan menyerahkan plastik hitam pada Launa.


"Baiklah kak." Launa mengambil bunga dan ditaburi bunga itu di atas pemakaman. Diikuti oleh Raka, Mama Siska dan Nenek Melati. Terakhir, mereka menyirami air di atas pemakaman.


Setelah selesai berziarah di tempat pemakaman umum elit Jakarta. Raka mengajak Launa, Mama Siska dan Nenek Melati pulang ke rumahnya. Raka membawa mobil mewahnya sendiri dan ada satu mobil berisi empat bodyguard yang menjaga mereka dari belakang.


Hari ini hari Senin yang seharusnya Raka masuk kerja di perusahaannya. Tetapi, adanya musibah meninggalnya Papa mertua. Raka menunda jadwal masuk kerjanya. Tidak ada yang berani memarahi Raka karena dia sendiri bos di perusahaannya. Sebelum berangkat berziarah di tempat pemakaman Papa Rayhan, Raka mengirim pesan pada Zack yang menggantikan posisinya sementara waktu saat tidak masuk kerja.


Dari kejauhan Raka menyerhitkan keningnya merasa heran dengan banyaknya mobil terparkir di depan gerbang rumahnya yang terbuka. Ia melaju masuk ke dalam pekarangan rumah mewahnya. Dugaannya benar, ternyata semua pemilik mobil mewah itu milik dari rekan bisnis, teman-teman sekolahnya dan karyawan di perusahaannya yang mengunjungi rumah Raka.


Raka memarkirkan mobilnya di tempat parkiran mobilnya saja. Lalu, ia membuka pintu mobil untuk melangkah keluar dari mobil.


Kakak, siapa pemilik semua mobil mewah terparkir di rumah kita?" tanya Launa dengan polosnya.


Raka menoleh ke arah Launa yang berdiri di sebelahnya. Ia langsung merangkul pundak Launa agar berjalan di sebelahnya.


"Mereka semua rekan bisnis, teman-teman sekolahku dan karyawan di perusahaanku. Ayo kita masuk ke dalam rumah untuk menyambut kedatangan mereka yang bela sungkawa atas kepergian Papa." jawab Raka dan dibalas anggukan cepat oleh Launa.


Raka menerima ucapan turut berduka cita atas semua tamunya yang ikut sedih atas kepergian Papa Rayhan. Ia melirik ke arah Launa yang terlihat pucat dan sedih. Ia berniat akan membawa Launa ke ruang kamar untuk beristirahat.


"Terima kasih atas kedatangan kalian semua, terima kasih atas perhatiannya dan ucapannya. Saya dan istri saya permisi ke kamar dulu. Silahkan menikmati makanan dan minuman yang disajikan." pamit Raka pada semua tamunya.


Disaat langsung kaki Raka dan Launa menaiki anak tangga. Ia mendengar suaranya dipanggil oleh seseorang. Ia langsung menghentikan langkah kakinya dan ia menoleh ke arah belakang yang ternyata Zack telah berdiri hormat di hadapannya. Ia merubah posisi berdirinya agar berhadapan langsung dengan Zack.


"Kenapa Zack?" tanya Raka to the point.


"Tuan, Nona, saya turut berduka cita atas meninggalnya Tuan Rayhan. Semoga ibadahnya diterima disisi Tuhan. Tuan, maaf saya memberitahu informasi ini dalam kondisi tidak tepat. Saya ingin memberi kabar bahwa Tuan Leo meninggal dunia pagi tadi." jawab Zack mulai menjelaskan panjang lebar mengenai informasi yang diterimanya dari bodyguard suruhannya.


Raka dan Launa yang mendengar kabar duka cita, mereka ikut sedih mendengar kabarnya.


"Inalillahi wa innailaihi rojiun, Tuan Leo sakit apa? Padahal kamu hanya mematahkan kedua tangannya saja, Zack? Lalu, bagaimana dengan kondisi Mita? Apa dia sudah tahu dengan kabar kematian Papanya?" Raka memberikan beberapa pertanyaan pada Zack untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

__ADS_1


"Iya Tuan, setelah Tuan Leo dibawa menuju rumah sakit untuk menangani kedua tangannya yang patah. Salah satu Perawat wanita memberikan suntik mati pada Tuan Leo. Diduga Perawat wanita itu anak dari rekan bisnis Tuan Leo yang dibunuh tanpa sebab. Perawat wanita mengaku sakit hati pada Tuan Leo karena hidupnya menjadi miskin."


"Kabar kematian Tuan Leo sudah diterima oleh Nona Mita. Kondisi Nona Mita yang semakin kurus dan jelek karena tidak makan 3 hari dalam kurungan ruang bawah tanah. Kini memperburuk kondisi Nona Mita menjadi depresi dan melukai dirinya sendiri. Nona Mita telah dibawa ke rumah sakit jiwa Pelita." jelas Zack panjang lebar membuat Raka dan Launa merasa kasihan atas bejana kehidupan Mita saat menerima hukum karmanya.


"Baiklah Zack, setelah saya terima informasi ini membuat saya dapat bernafas lega karena tidak ada lagi pengacaw di kehidupan saya. Walaupun di sisi lain, saya sangat kasihan pada cobaan hidup Mita dan Tuan Leo yang menerima hukum karmanya." sahut Raka dengan tatapan sendunya menatap ke arah Zack.


"Saya harap semoga hidup Tuan Raka dan Nona Launa hidup bahagia" doa Zack terdengar tulus di indera pendengaran Raka.


"Aamiin, terima kasih," ucap Raka dan Launa secara bersamaan.


"Okey Zack, tolong temani semua tamu saya. Saya mau mengantar istri saya ke kamar dulu. Istri saya masih sedih atas kehilangan Papa Rayhan." pamit Raka di hadapan Zack.


"Baik Tuan." jawab Zack cepat.


Raka dan Launa melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga hingga sampailah mereka menuju lantai tiga di ruang kamarnya.


Raka memegang gagang pintu ruang kamar dan dibukanya pintu ruangan dengan terbuka lebar.


Cekrek!


"Ayo masuk ke dalam kamar, Launa. Kamu pasti capek." ajak Raka mengenggam tangan Launa agar melangkah masuk ke dalam ruang kamarnya.


Launa berjalan menuju kasur tidur dan didudukinya di pinggir kasur tidur. Ia membuka jilbab syar'i hitamnya dan mengganti pakaian gamis hitam menjadi baju kaos santai.


Sementara Raka memilih berbaring di atas kasur dan memeriksa semua laporan perusahaan yang dikirimkan oleh Zack pagi tadi. Sekilas, ia melirik ke arah punggung belakang Launa yang terlihat mulus sedang mengenakan pakaian.


Seketika ide jail Raka muncul di pikirannya. Ia bangun dari posisi tidurnya dan ia berjalan cepat mendekati Launa. Ia langsung memeluk tubuh Launa dari belakang dan mencium aroma wangi khas tubuh Launa.


Hal itu membuat Launa terkejut saat tubuhnya dipeluk oleh seseorang. Ia menoleh ke arah Raka yang sedang tersenyum penuh arti ke arah dirinya.


"Sudah lama aku berpuasa, bagaimana kita bermain sebentar." perkataan Raka membuat Launa mengerti dengan keinginannya dan tanpa menunggu lama Raka langsung melancarkan aksinya untuk bulan madu dengan Launa di dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2