
Ayu pikir setelah akad nikah di laksanakan, acaranya langsung selesai. Ternyata ia salah karena tepat jam 08 malam ada banyak tamu yang datang untuk memeriakan pernikahan.
Kembali mendengus kesal, Ayu menatap pantulan dirinya di cermin. Disana ia dapat melihat kalau Bagas tengah berdiri di belakangnya.
"Ini hanya pesta kecil nona, anda tidak perlu cemas" ucap Bagas
"Tapi kenapa kau tidak bilang kalau malam ini akan ada acara lagi ?, ku pikir setelah akad tadi aku dan tuan Leon akan segera pulang" balas Ayu
Bagas menyipitkan matanya, menurutnya Ayu terlalu berani padanya.
"Apa sudah selesai ?" suara barinton seseorang membuat Ayu menolehkan kepalanya.
Ia menatap penampilan Leon saat ini, pria itu begitu tempan dengan setelan jas berwarna putih.
Sementara Ayu mengenakan gaun berwarna putih, sebuah gaun yang sangat mewah dan hanya ada satu di dunia ini.
"Sudah tuan, nona Ayu sudah selesai di dandani" jawab Bagas.
Leon berjalan mendekati Ayu, ia menatap wajah istrinya dengan seksama "Ayo keluar ! Dan bersikaplah santai !"
"Iya aku tau" balas Ayu
Leon meraih tangan Ayu, kemudian melingkarkan tangannya di lengan dirinya. Mereka berjalan bergandengan menuju ruang tamu yang sudah banyak orang.
Sesekali Ayu melirik ke arah suaminya, sampai detik ini ia sama sekali tak menyangka kalau dirinya sudah menikah dengan Leon, pria tampan yang baru ia kenal beberapa hari. Dan hal yang paling menyakitkan bagi Ayu adalah ia menikah tanpa restu dari sang Papa.
Usianya baru 19 tahun, bahkan ia belum lulus kuliah, entah bagaimana masa depannya nanti.
Dan di saat seperti ini tiba-tiba wajah Danu melintas di pikirannya, bagaimana mereka baru saja bertemu dulu.
"Aku mencintai mu Yu, maukah kau jadi kekasihku ?" begitulah yang Danu katakan waktu itu, membuat Ayu di penuhi dengan kebahagiaan.
Namun kali ini Ayu sangat membenci pria itu, karena Danu ia menjadi seperti ini, nama baiknya hancur dan Di usir oleh Papa nya sendiri.
Dan untuk melanjutkan hidup Ayu terpaksa menikah dengan Leon, laki-laki yang berjalan di sampingnya saat ini.
"Duduklah !" pinta Leon.
Ayu mengangguk, ia duduk di sebuah kursi yang tersedia disana. Seingatnya tadi tidak ada kursi itu selain dekorasi pernikahan.
"Kenapa harus ada pesta seperti ini ?" tanya Ayu dengan suara pelan.
"Hanya pesta kecil" jawab Leon dengan enteng.
__ADS_1
Ayu tersentak saat merasakan tangan besar Leon melingkar di pinggangnya, pria itu sedikit mendekatkan wajah kemudian berbisik di telinga Ayu.
"Jangan pikirkan masalah pesta ini" bisik Leon dengan suara kecil "Ini semua aku yang bayar"
Seketika Ayu menoleh, ia mencibir ke arah pria itu. Tanpa Leon kasih tau pun ia sudah tau kalau pesta ini di bayar oleh Leon. -Ayu menarik napas dalam-dalam kemudian berkata.
"Iya aku tau kalau pesta ini kau yang bayar"
"Sekarang berikan tangan mu !" pinta Leon
Kening Ayu mengkerut mendengar perintah sang suami "Untuk apa ?" tanya Ayu heran.
"Tadi aku belum memasangkan cincin di jari manismu, jadi sekarang akan aku lakukan"
Sesaat Ayu tertegun mendengar ucapan Leon, bukankah ini hanya pernikahan sementara dan sembunyi. Menurut Ayu tidak perlu memakai cincin.
"Tidak usah pakai cincin, pernikahan ini kan di rahasiakan"
"Saya tau, tapi tetap saja kamu itu istri sah ku"
Karena Ayu tak kunjung memberikan tangannya, Leon langsung mengangkat tangan kanan Ayu. Dengan gerakan pelan Leon menyematkan cincin berlian pada jari manis Ayu.
Mata Ayu mengerjap beberapa kali, ia merasa terharu melihat perlakuan Leon.
Setelah Leon selesai memakaikan cincin, tiba-tiba terdengar suara tawa seseorang yang berjalan mendekati Leon dan Ayu.
Tapi tawa pria itu langsung berhenti begitu saja, saat melihat tatapan mematikan dari Leon.
"Jika kau masih ingin hidup ! Jangan pernah tertawa lagi di hadapanku !" kata Leon dengan suara dingin.
Pria paruh baya yang berdiri di hadapannya menelan saliva berkali-kali, wajahnya mendadak menjadi pucat.
"Maafkan saya tuan"
"Silahkan pergi dari hadapan ku ! Aku tidak ingin melihatmu"
"Ba-baik tuan"
Ayu menatap kepergian pria itu, ia kembali menoleh ke arah Leon.
"Dia sangat ketakutan" ucap Ayu memberi tahu
"Tentu saja, aku berkuasa disini"
__ADS_1
Ayu mencibir, kemudian mengalihkan tatapannya ke jari manis, dimana di sana melingkar sebuah cincin yang begitu mewah.
"Kapan kamu membeli cincin ini ?" tanya Ayu ingin tahu.
"Tadi pagi, setelah kamu pergi dari kantorku, aku langsung menyiapkan gaun dan cincin ini"
"Bagaimana kalau aku menolak menikah dengan mu ?"
"Itu tidak akan terjadi, kamu tidak akan menolak. Dan terbukti kan"
Ayu terdiam, dan ia semakin terkejut saat Leon menarik kepalanya kemudian mendaratkan ciuman di bibirnya secara singkat.
Mata Ayu membulat dengan sempurna, bahkan ia kehabisan kata-kata. Detak jantungnya berpacu dengan kuat.
"Untuk memberi tahu mereka kalau kita menikah karena cinta" bisik Leon saat melihat Ayu hanya terdiam.
Tampak sekali kalau Leon menahan tawanya melihat ekspresi Ayu saat ini. Wajah Ayu begitu lucu dengan ekspresi kaget seperti ini.
"Berhentilah menatapku ! Apa kau ingin aku mengulangnya lagi"
"I-ya, ah tidak" Ayu menggeleng cepat, ia merutuki kebodohannya karena keceplosan saat berkata.
Leon menyunggingkan senyum, keduanya kembali menatap kedepan. Kemudian berdiri dari duduknya saat melihat semua orang mendekat.
"Kalian pasti membawa hadiah untuk kami kan ? Jadi bawa hadiah itu kehadapanku sekarang !" pinta Leon.
Beberapa orang langsung membawa hadiah kehadapan Leon. Sementara Ayu hanya menganga karena tidak percaya dengan kelakukan sang suami.
"Cih, katanya dia orang kaya. Kenapa masih minta hadiah yang harganya tidak seberapa" batin Ayu.
Orang-orang itu memberi selamat pada Leon dan Ayu.
"Sebelumnya tidak ada berita jika tuan akan menikah, kami semua kaget saat Bagas memberikan undangan tadi, apalagi saat melihat istri tuan yang begitu cantik dan masih sangat mudah"
"Benarkah dia cantik ?" tanya Leon sambil meletakkan tangan nya di pinggang Ayu. Nada bicara Leon sangat berbeda, tidak sedingin biasanya, bicara Leon sangat lembut dan wajahnya menawan.
"Tentu saja tuan" jawab pria tadi dengan gugup, entah kenapa sikap Leon yang lembut justru menakutkan bagi semua orang.
"Terima kasih kalau begitu" Leon tersenyum penuh arti "dan karena kalian semua sudah datang, saya akan mengundang kalian makan bersama satu minggu lagi"
Leon menoleh ke arah Bagas yang berdiri tak jauh dari nya.
"Bagas, tolong siapkan bonus dan kirimkan kepada mereka" pinta Leon.
__ADS_1
"Baik tuan" jawab Bagas patuh.
Semua orang disana tersenyum, pasti bonus yang akan di kirimkan Leon sangat besar.