
Ayu terpaksa meninggalkan apartemennya. Entah dari mana Samuel tau tentang Apartemen ini, padahal setau Ayu hanya dirinya dan Afri yang tau.
Tidak mungkin Afri yang mengatakan, Ayu cukup mengenal wanita itu. Jika Afri ingin mengatakan pada Samuel kenapa tidak selama ini ?.
Berjalan dengan pelan, langka Ayu langsung terhenti saat mendengar pria yang mengusirnya tadi berbicara lewat telepon. Ayu sedikit mendekat untuk mendengarkan pembicaraan pria itu.
"Kami sudah berhasil nona Nadine untuk mengusir wanita itu. Jadi anda jangan khwatir dia sudah pergi dari apartemen ini. Selama nona membayar kami dengan harga setimpal kami akan melakukan apa saja untuk nona"
Mata Ayu melebar dengan sempurna, kedua tangannya menggepal. Sekarang ia tau siapa dalang dari semua ini.
Nadine adiknya sendiri yang menusuknya dari belakang. Ayu tidak menyangka Nadine akan sekejam ini padanya. Padahal selama ini Ayu sangat menyayangi Nadine.
"Wanita itu tidak akan balik lagi nona, saya jamin itu" kembali pria itu berkata, membuat kedua mata Ayu memanas sehingga cairan bening yang telah menumpuk meluncur begitu saja.
Ayu langsung meninggalkan tempat itu saat melihat pria itu selesai menelpon. Ia berjalan pelan menjauh dari kawasan Apartemen, sesekali telapak tangannya menghapus air mata yang masih mengalir.
Entah kemana tujuan nya saat ini, dan tiba-tiba ingatan Ayu tertuju pada ucapan Leon tadi.
"Lebih baik menikah saja dengan ku dari pada lontang-lantung di jalanan"
Ucapan Leon terus saja berputar di kepalanya, membuat Ayu mendesah frustasi. Mengapa harus begini jalan hidupnya ?.
Ayu menghentikan mobil taksi, ia masuk kedalam dan duduk dengan tenang. Matanya menatap layar ponsel dan mencari nomor telepon Bagas.
Ayu sadar hanya Leon yang bisa membantunya saat ini. Namun saat berpikir sejenak Ayu membtalkan niatnya untuk menghubungi Bagas, menurutnya bukan waktu yang tepat.
"Mau kemana nona ?" tanya sang sopir taksi.
"Perumahan Melati pak" jawab Ayu sambil memakai kaca hitam miliknya, ia melakukan itu supaya tidak ada orang yang mengenalinya.
Perumahan Melati adalah kawasan perumahan orang-orang kaya, Ayu masih ingat dulu saat berpcaran dengan Danu mereka berdua membangun sebuah rumah disana.
Danu mengatakan kalau itu akan menjadi istana mereka berdua, saat itu Ayu bahagia mendengarnya ia akan menjadi ratu di kerajaan cintanya bersama Danu.
__ADS_1
Tapi ternyata semua itu palsu, rumah yang ia bangun bersama Danu bukan untuk dirinya. Melainkan untuk Nadine. Ayu tersenyum kecut saat mengingat betapa bodohnya ia selama ini karena terlalu percaya pada sandiwara Danu.
Sementara itu di tempat lain, seorang laki-laki tampan baru saja keluar dari mobil mewahnya bersama seorang pria paruh baya.
"Siapa yang bersama Ayu malam itu ?" Danu menghentikan langkahnya, menoleh kebelakang dan menatap pria paruh baya itu dengan tatapan mengerikan.
"Saya tidak tau tuan" pria paruh baya itu membungkukan badannya, karena takut pada Danu. "Nona Nadine menyuruh saya menunggunya di depan lift lantai enam, tapi sepanjang malam aku menunggu tapi Nona Ayu tak kunjung datang" jelasnya lagi.
Terdapat penyesalan di wajah pria paruh baya ini, karena tidak berhasil tidur dengan Ayu malam itu. Padahal dia tau kalau Ayu adalah wanita tercantik .
Danu menyipitkan matanya menatap pria itu kemudian kembali berkata "Tidak apa-apa, lagian urusanku dengan dia sudah sslesai"
Pria paruh baya itu justru tertawa terbahak-bahak "Sekarang apa saya sudah boleh pergi tuan ? Saya benar-benar tidak tau dengan siapa nona Ayu malam itu ??"
"Pergilah ! Dan jangan muncul lagi di hadapanku ! jika anda berani muncul saya tidak akan segan-segan untuk membunuh anda" ancam Danu dengan suara mengerikan.
Pria itu menelan salivanya berkali-kali, wajahnya mendadak langsung pucat.
Wanita yang hampir saja akan ia nodai tengah menatanya dengan tajam, membuat pria paruh baya itu menunduk dan pergi dengan tergesa-gesa.
Sementara itu, Ayu masih terdiam. Matanya menatap ke arah Danu yang sedang menelpon seseorang. Ia tidak menyangka kalau Danu benar-benar terlibat dengan kasusnya saat ini.
Tak berapa lama sopir Danu mendekat dan berkata "Tuan jam 07 nanti malam ada acara makan malam dengan walikota, tuan di undang untuk menghadiri acara tersebut"
Danu mengangkat sebelah tangannya agar sopir itu diam, karena saat ini ia sedang bicara lewat telepon.
"Apapun yang terjadi, aku mau sebidang tanah itu menjadi milikku" ucap Danu di sambungan telepon.
"Dan tolong katakan pada Nadine ! aku tidak bisa makan malam berdua dengan nya malam ini, karena aku sedang banyak kerjaan"
Hati Ayu rasanya teriris mendengar ucapan Danu, selama ini dialah yang sering di ajak makan malam oleh pria itu, tapi sekarang berpindah. Nadine adiknya yang merasakan.
__ADS_1
Setelah selesai menelpon, Danu membalikan badannya. Ia menatap ke arah Ayu, sedari tadi Danu sudah menyadari kehadiran Ayu disana. Hanya saja Danu masih sibuk teleponan.
Satu tangannya ia masukan kesaku celana, senyum liciknya tersungging.
"Masih berani kamu menemuiku Yu" ucap Danu.
"Aku cuman mau tau alasan kenapa kamu lakukan ini padaku ? Apa salahku ?" tanya Ayu lirih, menahan air mata yang sebentar lagi akan lolos.
Danu hanya tersenyum menanggapi ucapan Ayu, tak sedkitpun pria itu ingin menjawab pertanyaannya.
"Apa kamu masih ingat pertemuan pertama kita ?" Ayu kembali bertanya, matanya menatap wajah Danu.
"Waktu itu kamu terus mengejarku, meyakinkan aku kalau kamu mencintaiku. Sampai akhirnya aku luluh dan jatuh cinta padamu. Ku kira kamu memang tulus mencintaiku tapi ternyata semua itu palsu" sambung Ayu lagi, dadanya terasa sesak mengatakan semua itu.
"Hemmmm" hanya suara itu yang keluar dari bibir Danu.
"Apa kamu mendengar pembicaraan aku dan pria tadi ?" kali ini Danu membuka suara.
"Tentu saja aku mendengarnya, aku berada di dekat kalian tadi" jawab Ayu mencoba tersenyum. Jika saja malam itu Elsa tidak memberinya obat perangsang mungkin semua ini tidak akan terjadi. Reputasinya tidak akan sehancur ini.
Danu kembali tersenyum licik.
"Sudah jangan banyak bicara ! Sekarang aku tanya lagi padamu, siapa pria yang bersama mu malam itu ?" tanya Danu dengan menatap Ayu tajam. Bukan tanpa alasan ia menanyakan hal itu, pasalnya saat selesai konferesi pers ada seseorang yang menelponnya dengan berkata-
"[Laki-laki sejati tidak akan melakukan tindakan bodoh ini, apalagi sampai menjebak seorang wanita hanya untuk mencari kebenaran]"
Mengingat hal itu Danu emosi, ia ingin sekali mencari siapa pria itu.
"Katakan padaku ! Siapa pria yang bersama mu malam itu ?" Kali ini Danu mencengkram dagu Ayu dengan kuat membuat wanita itu meringis.
"Kamu tidak punya hak untuk bertanya tentang nya" jawab Ayu. Ia menyingkirkan tangan Danu kemudian menyunggingkan senyum.
"Dia jauh lebih baik dari kamu, dari penampilan, pesona dan kekayaan. Bahkan kamu tidak ada apa-apanya di banding dia. Dan satu lagi yang harus kamu tau aku akan segera menikah dengannya"
__ADS_1
Danu menatap Ayu dengan intens, sedetik kemudian laki-laki itu tertawa terbahak-bahak.
"Apa kau begitu menginginkan hal itu ? Sampai-sampai di usiamu yang masih 19 tahun ini kau sangat mendambakannya"