
Setelah acara hampir selesai, Bagas mendekati Ayu.
"Nona, tuan Leon meminta saya mengantar anda ke rumah nya." ucap Bagas.
"Kerumah nya ?" tanya Ayu bingung dan di jawab anggukan oleh Bagas "Bukankah di surat perjanjian kalau kami akan tinggal terpisah ? kenapa sekarang saya akan di antar kerumahnya ?"
"Tuan Leon memiliki tiga rumah pribadi, jadi anda tenang saja nona, kalian akan tetap tinggal terpisah seperti yang sudah di janjikan"
"Baiklah"
Ayu menurut, ia melangkah meninggalkan gedung itu bersama dengan Bagas. Tapi saat di depan gedung Ayu menghentikan langkahnya karena melihat ada tiga orang berkumpul disana.
"Ada apa ini ?" tanya Ayu pada dirinya sendiri.
Pertama seorang pria seumuran Leon mendekat, kemudian menyerahkan sebuah cek pada Ayu.
"Selamat karena sudah menikah dengan tuan Leon nona" ucapnya lalu mundur kebelakang lagi.
Begitupun dengan kedua wanita lainnya, mereka juga memberikan sebuah cek pada Ayu sambil berkata.
"Selamat nona, yakinlah tuan Leon tidak akan mengecewakan anda"
"Semoga anda dan tuan Leon hidup bahagia, mendapatkan momongan dan cinta yang tidak ada habisnya"
Ayu tersanjung mendengar semua doa tulus itu, ia tak mampu mengucapkan kata-kata untuk membalasnya. Ayu hanya menatap kepergian mereka.
*******
Leon menatap kepergian Ayu dan Bagas, ia menyunggingkan senyum setelah melihat teman-temannya memberikan selamat pada Ayu. Pria itu berbalik dan mendekati pembantu di rumahnya yang di kirimkan untuk mengawasi pernikahan Leon tadi.
"Sekarang kamu sudah melihat kan kalau saya beneran sudah menikah, itu tadi istri saya" ucap Leon dengan tegas. "Jadi setelah ini jangan mengganggu urusanku" lanjut Leon lagi.
Art itu menganggukan kepalanya "Baik tuan muda nanti akan saya sampaikan. Luangkanlah waktu anda untuk membawa nyonya muda kerumah"
Setelah mengatakan itu Art itu langsung berlalu dari hadapan Leon. Pria itu menarik napas panjang.
*******
Sementara di perjalanan Ayu menatap jumlah cek yang ia terima tadi, jumlahnya begitu besar Ayu tak menyangka kalau dirinya akan mendapatkan hadiah sebesar ini dari teman-teman Leon.
Hingga tak berapa lama mobil berhenti tepat di depan rumah mewah dan megah. Bahkan rumah yang Ayu tempati dulu tak sebanding dengan rumah milik Leon.
"Silahkan masuk nona !" pinta Bagas dengan tenang.
"Iya"
Pintu rumah terbuka, ada dua orang wanita yang seumuran dengan Ayu yang berdiri disana. Saat melihat kehadiran Bagas kedua wanita itu langsung membungkukan badannya.
"Ini nona Ayu, dia istrinya tuan Leon jadi perlakukan dia dengan baik" ucap Bagas dengan suara tegas.
__ADS_1
"Baik tuan"
"Antarkan dia ke kamarnya !"
Kedua wanita itu kembali mengangguk patuh.
"Mari ikut saya nona ! saya akan mengantar anda ke kamar"
Ayu melirik ke arah Bagas sebentar.
"Istirahatlah nona ! Saya tau anda lelah" ucap Bagas pada Ayu.
Ayu menganggukan kepalanya, ia berjalan mengikuti langka kaki wanita itu. Hingga tiba di sebuah kamar mereka berhenti.
"Silahkan masuk nyonya ! Ini kamar tuan Leon" ucap wanita itu.
"Ba-ik, hemmm bisakah saya tau nama kamu ?"
"Tentu saja nyonya, panggil saya Liya"
"Ok Liya" Ayu tersenyum, setidaknya ia sudah punya teman di rumah besar ini, karena sudah pasti Leon tidak akan sering mengunjunginya.
"Kalau nyonya minta bantuan, panggil saya saja"
"Iya Liya"
Liya keluar dari ruangan itu, sementara Ayu meneliti setiap isi ruangan.
**********
Keesokan paginya Ayu terbangun, ia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang hanya di hiasi lampu saja.
Ayu menguba posisi menjadi duduk, bersandar pada kepala ranjang besar itu. Matanya melirik kesamping. Tidak ada siapa-siapa disana hanya ada dirinya seorang menempati kamar luas dan megah itu.
"Lihat betapa buruknya aku, baru semalam aku jadi istri tapi aku tidak tau kemana suamiku" gumam Ayu lirih, ia tersenyum kecut saat menyadari betapa buruknya kehidupan ini.
Ayu turun dari ranjang, ia membuka pintu balkon dan beranjak disana, dapat Ayu rasakan hembusa angin pagi yang terasa dingin tapi menyegarkan.
"Rumahnya luas sekali, bahkan kolam renangnya saja ada dua" gumam Ayu menatap kebawah dimana ia dapat melihat kolam renang secara langsung.
Beberapa saat kemudian terdengar ketokan pintu. Ayu bergegas memasuki kamar dan membuka pintu.
"Selamat pagi nyonya, sarapanya sudah siap" ucap Liya sembari tersenyum hangat.
Ayu tertegun sejenak, walau terlahir sebagai orang kaya tapi ia tidak pernah merasakan di layani seperti ini. Elsa sang Mama tiri selalu menuntutnya untuk bangun pagi dan melakukan semuanya sendiri.
"Silahkan masuk Liya" ucap Ayu.
Liya menurut, wanita masuk dan meletakkan nampan berisi makanan ke atas meja.
__ADS_1
"Saya mau mandi dulu"
"Silahkan nyonya ! Saya akan membersihkan kamar ini"
Ayu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, sementara Liya kembalu membersihkan tempat tidur. Ia ingat pesan Bagas semalam kalau harus selalu memastikan Ayu baik-baik saja.
Flasback On.....
"Saya sudah mengantar nyonya muda ke kamarnya tuan" ucap Liya pada Bagas.
"Bagus" balas Bagas, kemudian ia mengeluarkan dua kartu ATM dan menyerahkan nya pada Liya.
"Untuk apa ini Tuan ?" tanya Liya bingung.
"Simpan kartu ini baik-baik, setiap bulan tuan Leon akan mengirim uang ke kartu satu ini" jawab Bagas seraya menunjuk kartu berwarna hitam.
"Dan sekarang gajimu akan di transfer ke kartu yang ini" Lanjut Bagas lagi lalu kembali menunjuk sebuah kartu berwarna hijau.
"Kenapa begitu tuan ?"
"Karena mulai sekarang kamu menjadi asisten nona Ayu, apapun yang dia inginkan kamu harus penuhi. Tuan Leon ingin Nona Ayu baik-baik saja"
Liya tertegun, ini kerja yang besar menurutnya. Dan Liya yakin kalau Ayu begitu berharg untuk Leon.
"Baik tuan, saya akan menjalankan tugas"
"Bagus, kalau begitu saya permisi"
Flasback Off.
Liya menatap pintu kamar mandi yang terbuka, di susul dengan kehadiran Ayu disana. Wanita itu masih berbalutkan kimono.
"Saya tidak punya baju ganti Liya, bisakah kamu pinjamkan saya baju ?" tanya Ayu, ia ingat kalau semalam ia tak membawa pakaian apapun.
"Silahkan anda buka lemari nya nyonya, disana sudah lengkap semua kebutuhan nyonya"
Ayu menganga, dan tanpa bertanya apa-apa lagi ia langsung membuka lemari itu. Mata Ayu membulat lebar melihat pakaian mewah ada disana. Dan bukan hanya baju saja melainkan tas, sepatu berserta make up pun sudah tersusun rapih.
"Ini kapan ada disini Liya ?" tanya Ayu heran
"Tuan Bagas yang menyiapkan nya"
"Jadi dalaman juga dia yang siapkan ?"
Liya mengangguk pelan, membuat Ayu kembali membulatkan matanya.
"Dia pria misterius, bagaimana dia bisa tau ukuran dalaman ku" batin Ayu bergidik ngeri dengan sosok Bagas.
"Anda kenapa nyonya ?" tanya Liya saat melihat Ayu diam saja.
__ADS_1