Satu Malam Dengan Milliader

Satu Malam Dengan Milliader
SMDM-Bab 19


__ADS_3

Leon terdiam mendengar ucapan Bagas, memang kenyataan nya benar kalau ia membeli tanah itu dan berani membayar dengan harga tertinggi untuk Ayu. Ia sudah berjanji pada istri kecilnya itu untuk membalaskan dendam.


"Tuan Danu pasti akan terkena masalah besar dengan Papanya, karena tidak berhasil mendapatkan tanah itu" ucap Bagas terkekeh.


"Aku tidak peduli apa yang akan terjadi pada pria itu, karena yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan Ayu" balas Leon membuat Bagas langsung terdiam.


Mobil terus melaju, membela jalanan ibu kota yang terlihat cukup padat. Pikiran Leon saat ini sedang terfokus pada Ayu yang sedang ia hukum selama seminggu. Keningnya mengkerut saat mendengar ponselnya berbunyi.


Leon melihat ponselnya, tertera nama sang Papa disana membuat Leon segera menggeser menu hijau untuk menjawab panggilan.


"Ada apa Pa ?" tanya Leon dengan tenang.


"Kenapa kamu membuat masalah dengan perusahaan Maheswara ?, bukankah dulu kau sendiri yang mengatakan kalau kau tidak menginginkan tanah itu, lalu kenapa sekarang begini ?" suara khas sang Papa terdengar dengan nada sedikit marah.


"Aku hanya mencoba melakukan yang terbaik"


Suasana menjadi hening, Leon menghembuskan napas dengan teratur. Sampai akhirnya ia kembali mendengar sang Papa bicara.


"Memang terserah kamu sih, perusahaan itu sudah jatuh ke tanganmu, jadi kamu berhak melakukan apa saja"


"Ya" balas Leon datar.


"Ok Papa tidak akan bertanya lagi masalah itu, sekarang yang jadi pertanyaan Papa ?, kapan kamu akan membawa menantu ku berkunjung kerumah ?"


"Maaf Pa, untuk masalah itu aku tidak akan melakukannya, jadi jangan tanyakan soal istriku" Setelah mengatakan itu Leon langsung menutup telepon.


*


Sementara itu di rumah Ayu baru saja selesai menonton televisi, senyumnya tak henti-hentinya mengembang saat telinganya mendengar kalau Danu kalah dari Leon.


Wanita berparas cantik itu mengambil ponselnya di atas meja, lalu mencari nomor Danu. Ia ingin menertawakan pria itu.


"Danu berita hari ini sungguh menggemparkan bukan ?" Ayu tertawa keras setelah panggilan terhubung "Aku baru saja melihat wajahmu yang penuh dengan kesedihan karena gagal mendapatkan tanah incaran mu"


"Ayu, saat ini suasana hatiku sedang buruk, jika kamu bicara lagi, aku akan mencekik mu sampai mati jika aku bertemu dengan mu" balas Danu di seberang sana, nada suaranya begitu mengerikan.

__ADS_1


"Oh begitu kah ?" Ayu mengelus dadanya pelan "Aku sangat lega mendengarnya" sambung Ayu lagi.


"Apa maksudmu ?"


"Ya kalau suasana hatimu sedang buruk, itu adalah suatu kesenangan bagiku"


"Dasar brengsek"


Ayu kembali tersenyum, rasanya senang sekali mendengar pria itu seperti ini. "Ini belum seberapa Danu Maheswara"


Setelah itu Ayu menutup telepon yang di iringi tawa menggelegar, ia pun berdiri dan berjalan ke arah dapur. Hari ini Ayu ingin memasak untuk menyambut kedatangan sang suami.


Tentu saja ia harus berterima kasih pada Leon, karena pria itu sudah membalaskan dendamnya. Tapi Ayu belum benar-benar puas sebelum Danu benar-benar hancur. Ia ingin kehidupan nya kembali seperti dulu yaitu di sayangi sang Papa.


*


*


Malam harinya Leon baru pulang, pria itu turun dari mobil dengan gagah. Di ambang pintu ada Liya yang sudah menunggu untuk menyambut kedatangannya.


Leon tak menjawab, pria itu berjalan memasuki rumah. Hal pertama yang Leon lihat adalah kamar Ayu yang pintunya tertutup rapat.


"Apa dia sudah tidur ?" tanya Leon.


"Belum tuan" jawab Liya "Hari ini Nyonya muda senang sekali karena tuan berhasil memenangkan tanah itu, makanya nyonya muda memasak makan malam untuk tuan, padahal saya sudah memberi tahunya kalau tuan tidak akan datang. Tapi nyonya tetap memasak, saya pikir nyonya sedang merindukan tuan"


Di meja makan Ayu duduk dengan santai, dia sedang menunggu Leon datang. Di atas meja sudah tersaji berbagai masakan yang entah seperti apa rasanya. Karena tampilannya saja sudah membuat orang ingin muntah.


Begitu melihat Leon datang, Ayu langsung berdiri sambil berkata "Akhirnya kamu datang, aku sudah memasak makan malam untukmu, ini sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah membuat Danu marah besar"


Leon mengerutkan keningnya, lalu menatap ke arah piring yang warna masakannya sangat tak menggugah selera "Kenapa semua masakan ini berwarna hitam ?" tanya Leon.


Liya menahan tawanya, kemudian ia mengingat sesuatu "Tuan muda, tadi nyonya muda menghubungi tuan Danu"


Mendengar hal itu wajah Leon langsung berubah, pria itu menatap Ayu dingin "Kamu kembali menghubungi Danu ?, apa kamu ingin menguji kesabaranku ?, atau kamu sudah melupakan apa yang aku peringatkan ?"

__ADS_1


Ayu mengedip kan matanya, lalu menatap punggung Leon yang sudah menjauh. Kini tatapan mata Ayu tertuju pada hasil masakan yang ia buat dengan susah payah. Ayu baru sadar kalau pernikahan mereka hanyalah pernikahan palsu.


"Huh, tidak ada yang mau memakan masakan ku ?, baiklah aku yang akan memakannya sendiri"


*


Leon naik ke atas dan menuju kamar nya, namun sebelum memasuki kamar itu ia menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Liya yang memang mengikutinya dari tadi.


"Apa kamu yakin kalau masakan yang ia buat di sebut masakan ?, atau kamu ingin melihatnya meracuniku ?"


Liya menunduk, sekuat tenaga ia menahan tawanya "Saya tau kalau hasil masakan nyonya muda sangatlah buruk, tapi saya melihat sendiri usahanya untuk memasak. Nyonya bahkan menghabiskan waktu selama dua jam untuk menyelesaikan semua itu"


"Terus ?" tanya Leon yang ingin kembali mendengar apa saja yang Ayu lakukan.


"Mungkin penampilannya tidak enak di lihat, tapi rasanya pasti enak, sebaiknya tuan coba dulu hasil masakan nyonya" jawab Liya, dia memang ingin mempererat hubungan antara Leon dan Ayu. Ia berharap suatu hari nanti kedua nya bisa menjadi sepasang suami istri seperti pada umumnya.


"Saya khawatir, jika saya makan masakan nya, selera makan saya akan hilang" balas Leon lagi. "Siapkan makan malam lain, aku tidak mau makan itu"


"Baik tuan muda" Liya menganggukkan kepalanya


Tiba-tiba...


"Air-air, tolong siapapun itu ambilkan air untuk saya !" suara teriakan Ayu menggema di lantai bawah, membuat Leon menatap Liya dengan ekspresi.


"Ini yang kau bilang rasanya pasti enak, yang membuatnya saja sampai teriak-teriak seperti itu" ucap Leon


Liya hanya menunduk tak tau harus menjawab apa ?, sepertinya ia harus mengajari Ayu cara memasak yang enak.


"Untuk kedepannya jangan biarkan dia memasak lagi !, lagian aku tidak menginginkan dia memasak, di sini banyak pembantu yang bisa memasak apapun yang dia inginkan" pinta Leon kemudian, padahal dalam hatinya ia merasa bahagia mendengar kalau Ayu menyiapkan makan malam untuknya.


"Baik tuan muda !" balas Liya.


"Ya sudah kamu turun, dan singkirkan masakan itu !"


Liya mengangguk, ia menuruni anak tangga dan langsung menuju meja makan dimana Ayu berada. Ia melihat Ayu sedang minum segelas air putih yang di berikan oleh seorang Art.

__ADS_1


"Anda tidak apa-apa nyonya ?"


__ADS_2