
"Tuan muda ini kotak P3K nya" ucap Liya sembari menyerahkan kotak itu pada Leon.
Leon mengambil kotak itu dan membawa Ayu duduk di kursi meja makan. Mengeluarkan sebuah kasa untuk membalut jari Ayu yang terluka.
Ayu menatap wajah Leon yang begitu fokus mengobati lukanya, nampak sekali raut kekhawatiran di wajah pria itu. Padahal luka di jari Ayu terbilang sangat kecil.
"Tuan...." Ayu hendak bicara tapi Leon langsung menatap wajahnya.
"Diamlah ! jangan banyak bicara" potong Leon, ia menatap wajah Ayu dengan lembut kemudian menyelipkan rambut Ayu ke belakang telinga. "Di sini ada pembantu, jadi kamu tidak perlu memasak. Kamu adalah istriku" sambung Leon lagi.
"Maafkan aku" balas Ayu
"Art di sini memiliki tugas masing-masing, jadi kamu tidak perlu bekerja keras untuk memasak"
"Aku hanya ingin menjadi istri yang baik untukmu"
"Cukup turuti ucapanku, itu sudah menandakan kalau kau istri yang baik" balas Leon.
"Emmm, apa makan siang yang ku antar tadi enak ?" tanya Ayu malu-malu.
Leon tersenyum lembut tapi tidak menjawab pertanyaan Ayu.
"Mulai sekarang berjanjilah padaku agar kau tidak akan memasak lagi, kejadian ini membuat aku merasa tidak becus menjaga mu"
Mendengar ucapan lembut dari Leon membuat Ayu sangat bahagia, ia seakan sedang berada di alam mimpi sekarang. Dalam hatinya penuh tanda tanya, kenapa Leon sangat peduli padanya.
"Apa sudah tidak apa-apa ?" tanya Leon lagi.
Ayu menganggukkan kepalanya, kemudian Leon mengajaknya pergi dari dapur. Tatapan dingin Leon berikan pada seluruh pelayan dan juga Liya, mereka semua ketakutan dan merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Ayu.
"Masuklah ke kamar mu untuk istirahat ! aku juga ingin istirahat" ucap Leon pada Ayu.
"Baiklah"
__ADS_1
Setelah memastikan Ayu masuk ke kamarnya, barulah Leon memasuki kamarnya sendiri. Pria itu menghela napas panjang, memikirkan bagaimana kalau Ayu tidak mau mendengarkan dirinya. Apa yang harus Leon lakukan untuk menjaga istri kecilnya itu.
Leon mencintai Ayu, ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga Ayu dengan baik.
Sementara itu, Ayu duduk di bibir ranjang. Matanya menatap jarinya yang tadi di balut oleh Leon, perasaan wanita itu terus menghangat namun kembali dingin saat teringat dengan kejadian di kantor tadi.
"Lupakan perhatiannya Yu ! dia laki-laki yang suka sama siapapun, bahkan dengan sesama jenis saja dia suka" gumam Ayu.
*
*
*
Malam harinya Leon mengajak Ayu makan malam di luar, wanita itu menurut begitu saja karena menolak baginya percuma. Ayu juga ingin menjadi dekat dengan Leon.
Sebuah restoran jepang menjadi pilihan Leon untuk makan berdua dengan istri kecilnya itu. Leon ingin memesan ruangan VIP tapi Ayu menolak katanya lebih baik duduk di dekat jendela saja.
"Kamu kenapa ? apa tanganmu masih sakit ?" tanya Leon sembari melirik jari tangan Ayu yang masih di perban.
"Tidak, ini sudah sembuh"
"Lalu kenapa kamu diam"
Ayu menatap wajah Leon, ada keraguan di diri Ayu untuk menanyakan apa yang mengganjal perasaannya, tapi jika tidak di tanyakan Ayu tidak akan tau yang sebenarnya.
"Apa aku boleh bertanya ?" tanya Ayu ragu.
"Tentu saja, apapun boleh kau pertanyakan" jawab Leon santai.
"Apa kamu juga menyukai sesama jenis, maaf kejadian di kantor tadi membuat aku salah paham"
Detik itu juga raut wajah Leon langsung berubah, tatapan yang tadi lembut menjadi sangat dingin. Membuat Ayu menyesali tindakannya.
__ADS_1
Harusnya tadi ia tidak perlu menanyakan hal itu, cukup di simpan saja dan biarkan ia terus di hinggapi dengan rasa penasaran.
"Yu, apa kamu ingat perjanjian pernikahan kita ?" tanya Leon dengan suara dingin.
"Iya aku ingat, maafkan aku ! kamu tidak perlu menjawabnya" jawab Ayu yang mulai ketakutan.
Tidak berapa lama pesanan makanan mereka sampai, Leon makan dengan diam sementara Ayu susah payah untuk menelan makanan itu. Biasanya rasanya akan sangat enak namun entah kenapa kali terasa hambar.
Setelah menghabiskan makanan, Leon meletakkan beberapa lembar uang untuk membayar makanan mereka. Setelah itu Leon berdiri dan meninggalkan Ayu sendiri.
"Dia pasti sangat marah padaku" gumam Ayu menatap kepergian Leon. Ia yakin Leon akan menunggunya di mobil.
Ayu tak menghabiskan makanannya, ia meraih tas kecilnya lalu keluar restoran dan menyusul Leon..
Sepanjang perjalanan Leon terus saja terdiam, sesekali Ayu melirik Leon yang sangat fokus ke jalanan yang padat. Hingga tak berapa lama mereka tiba di rumah.
"Apa terjadi sesuatu nyonya ? kenapa tuan muda sangat marah ?" tanya Liya heran.
"Tadi aku bertanya sesuatu padanya"
"Menanyakan apa nyonya ?"
"Apa dia menyukai sesama jenis"
"Astaga, anda terlalu berani bertanya seperti itu nyonya. Pantas kalau tuan muda marah besar"
Tubuh Ayu merinding mendengar ucapan Liya, keduanya masih berdiri di ruang tamu. Hingga tak berapa lama terdengar suara Leon yang menggema.
"Ayu, aku tunggu kamu di kamar" ucap Leon dengan lantang membuat Ayu semakin ketakutan.
"Apa yang akan dia lakukan ?" gumam Ayu.
"Pergilah nyonya, sebelum tuan muda benar-benar marah" pinta Liya
__ADS_1