
Zela menatap kepergian Ayu yang di bawa Bagas. Sementara dirinya akan di antarkan oleh salah satu pengawal yang tadi datang bersama Bagas. Sampai saat ini ia masih mencerna apa yang terjadi, kejadian ini membuatnya takut namun juga bingung.
"Mari nona, saya akan mengantar anda pulang" ujar pria berbadan sedikit gendut pada Zela.
Zela menoleh lalu mengangguk, kakinya ia langkahkan memasuki mobil mewah itu.
*
*
*
Mobil yang di kendarai Bagas berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah dimana Ayu tinggal. Pria itu turun terlebih dahulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Ayu.
Ayu berjalan dengan anggun memasuki rumah, lampu-lampu rumah sudah terang benderang karena memang sekarang sudah hampir maghrib. Mata Ayu melihat sekitar dan berhenti saat melihat Leon duduk di sofa ruang tamu dengan tatapan ke arahnya.
"Hari ini kau sudah keluar seharian penuh" suara Leon yang terdengar dingin membuat bulu-bulu Ayu meremang. Ia mere mas baju yang ia pakai untuk menghilangkan rasa gugup.
Ayu berusaha setenang mungkin menghadapi Leon "Hari ini aku pergi bersama teman ku, dan aku sangat bahagia"
"Apa kamu menyukai mobil nya ?" Leon terus menatap Ayu, sedikitpun ia tak mengalihkan tatapannya "Kalau kau tidak suka, kau bisa menukarnya" sambung Pria itu.
"Aku sangat menyukai mobilnya Tuan, terima kasih" Ayu menunjukan senyum manis.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan !, karena aku tidak menyukainya" Leon menjeda ucapannya "Panggil aku seperti seseorang memanggil seorang suami"
Ayu terdiam untuk beberapa detik, aliran darahnya terasa cepat mengalir. Ia berpikir keras, panggilan apa yang sekiranya pas untuk memanggil Leon.
Mas ..
Ah tidak mungkin, dengan gerakan cepat Ayu menggelengkan kepalanya. Panggilan itu terdengar menggelikan menurut Ayu.
"Ayu" Leon memanggil.
"Iya" balas Ayu
"Katakan padaku !, apa kamu menganggap ku seorang suami ?"
"I-ya, tapi aku----" Ayu menundukkan kepalanya tak berani menatap Leon, ia kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan pria itu.
Melihat Ayu menunduk tak tidak menjawab pertanyaan nya, Leon terkekeh, ia sedang tidak ingin berdebat dengan istri kecilnya itu. "Jika kamu tidak bisa menjawab tidak apa-apa, tapi kenapa hari ini kamu tidak menjawab panggilan dari Liya ?"
__ADS_1
"Eh" Ayu mengangkat kepalanya, ia tidak tau kalau Liya menghubunginya. Dengan cepat Ayu melihat ponselnya dan ternyata ponsel itu sudah mati. "Maaf aku tidak tau kalau ponselnya mati, hari ini aku terlalu senang bisa jalan-jalan sama temanku, jadi aku tidak tau kalau baterainya habis" jelas Ayu. Ia ingat terakhir ia melihat ponsel saat menghubungi Leon kalau ada yang mengganggu nya.
"Benarkah ?" Alis sebelah kanan Leon terangkat.
"Iya itu benar" balas Ayu.
Leon mangut-mangut, ia berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Ayu. Pria itu berdiri tepat di hadapan Ayu.
"Ayu" ucap Leon, suaranya begitu serius membuat Ayu memberanikan menatap wajah tampan Leon balik
"I-ya"
"Apa yang pria itu katakan padamu ?"
Ayu kembali mengingat kejadian tadi, juga suara seseorang di balik tirai yang tidak ia kenal. Namun satu yang Ayu ketahui kalau orang itu bagian dari keluarga Leon.
"Dia hanya menanyakan tentang pernikahan kita" balas Ayu.
"Lalu apa jawaban mu ?"
"Aku menjawab kalau pernikahan kita bahagia, kita hidup harmonis"
Mata tajam Leon terus menatap wajah cantik Ayu, tatapan yang begitu dalam membuat Ayu tertunduk kembali "Lain kali jangan berbicara apapun jika ada yang bertanya tentang pernikahan kita"
Ayu menatap punggung tegap Leon yang terus menjauh, hingga kemunculan Liya membuat pandangan Ayu teralihkan.
"Ada apa Liya ?, apa ada masalah ?" tanya Ayu saat melihat raut wajah tak bersahabat dari wanita itu.
"Nyonya muda, hari ini anda terlalu lama pergi, hingga mengabaikan panggilan dariku. Beruntung Tuan Leon masih baik pada nyonya"
Ayu mengerucutkan bibirnya saat mendengar ucapan Liya.
"Hari ini tuan Leon pulang lebih cepat, dan ia ingin makan malam berdua dengan nyonya"
Hati Ayu bagai tertusuk duri, apa ini akan menjadi masalah juga untuknya ?. Mendengar kalau Leon ingin makan malam berdua dengannya membuat perasaan bersalah itu muncul. Harusnya tadi Ayu tidak pergi terlalu lama.
"Harusnya anda menghubungiku jika anda akan pulang terlambat" Liya kembali melanjutkan ucapannya.
"Maafkan aku, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi" Balas Ayu.
Padahal seingatnya di surat perjanjian tidak ada masalah jika dirinya tidak menemani Leon makan malam. Lalu kenapa Liya selalu mempermasalahkan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
*
*
*.
Malam sudah larut, namun mata Ayu enggan terpejam. Ia ingin bicara berdua dengan Leon untuk mengutarakan apa yang selama ini membuat perasaannya tak karuan.
"Aku harus bicara malam ini, mumpung dia ada, karena belum tentu besok malam ia tidur di rumah ini lagi" Ayu bermonolog sendiri.
Dengan memberanikan diri, Ayu menuju kamar Leon. Ia mengetok pintu kamar dengan pelan tapi tetap mengeluarkan suara.
Tidak berapa lama pintu terbuka, di susul kemunculan Leon yang memakai piyama dengan rambut yang acak-acakan, tapi sialnya itu membuat Leon semakin terlihat tampan.
"Ada apa ?" tanya Leon dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Emm, i-tu"
"Bicaralah !" Leon bersandar di pintu dengan kedua tangan di lipat di depan dada. Pria itu menunggu apa yang akan Ayu katakan.
"Hari ini aku tidak berbohong, aku benar-benar pergi bersama temanku"
"Terus ?" Mata Leon memicing, karena bingung kenapa Ayu membahas masalah itu.
"Tapi hari ini aku di bawa seseorang untuk mendengarkan pembicaraan seorang pria yang tidak aku kenal" Ayu menarik napas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapannya "Pria itu terus bertanya tentang pernikahan kita, jika memang dia keluargamu dan dia tidak setuju kamu menikah dengan ku, aku ikhlas kamu ceraikan"
"Jangan pedulikan ucapan pria itu, yang harus kamu dengarkan hanya aku, bukan orang lain" ucap Leon dengan nada dingin.
"Sekarang baliklah ke kamarmu ! selamat malam !" pinta Leon, hendak meninggalkan Ayu, tapi langkahnya kembali terhenti karena Ayu kembali memanggil dirinya.
"Leon" panggil Ayu.
"Apa lagi ?, katakan semuanya yang membuatmu bingung !" Pria itu kembali membalikan tubuhnya berhadapan dengan Ayu.
"Emmm, bisakah kita membatalkan salah satu perjanjian pernikahan kita ?" tanya Ayu ragu.
"Yang mana ?"
"Soal anak, aku belum siap untuk mengandung apalagi melahirkan"
Mata cokelat Leon menatap Ayu tajam, ia tidak suka dengan ucapan istri kecilnya itu.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi kamu harus tetap melahirkan anak untukku" kata Leon dengan tegas.