
Setelah berganti pakaian, Ayu langsung menyantap sarapannya yang sudah Liya siapkan..
"Apa anda menyukai makanannya Nyonya ?" tanya Liya yang masih berdiri di dekat sofa, dimana Ayu duduk sambil sarapan.
"Iya, makanannya enak" balas Ayu.
"Kedepannya nyonya bisa bilang pada saya, makanan yang nyonya sukai"
Ayu masih tidak menyangka kalau saat ini ia menjadi seorang nyonya, ia di perkenalkan sebagai nyonya Leon saat kondisinya begitu terpuruk. Bukankah ini suatu kebetulan yang menguntungkan ?
"Tadi tuan Leon menghubungi saya, katanya anda di beri hukuman selama seminggu, karena kemaren anda bertemu dengan Tuan Danu. Jadi mulai hari ini nyonya tidak boleh kemana-mana"
"Apa ?" teriak Ayu membulatkan kedua matanya. "Apa maksudmu aku di hukum ?, apa itu berarti aku tidak bisa bebas lagi ?" tanya Ayu, ia cukup terkejut dengan hukuman yang Liya katakan.
"Nyonya muda mohon tenanglah ! Ini hanya seminggu dan Tuan Leon hanya memberi hukuman supaya anda tidak kemana-mana, bukankkah ini hukuman yang mudah ?" seru Liya yang sudah tau alasan kenapa Leon dan Ayu menikah.
"Meskipun nyonya dan Tuan Leon menikah secara diam-diam, tetap saja prilaku nyonya akan menimbulkan dampat negatif bagi tuan Leon, jadi tolong berhati-hatilah dalam bersikap" sambung Liya lagi.
Ayu menarik napas dalam-dalam, ia menatap wajah Liya kemudian berkata "Itu berarti dia akan menyulitkan aku"
"Tuan Leon tidak akan pernah menyulitkan hidup anda nyonya, bukankah tuan Leon sudah menolong anda dengan menjadikan anda istrinya"
"Sudah cukup" ucap Ayu yang tak mau lagi mendengar perkataan Liya, karena baginya itu akan semakin membuatnya pusing. Atau bisa jadi dia akan menjadi gila karena semua ini.
Lagian kenapa tidak Leon saja yang menjelaskan semuanya ?, kenapa harus melalui Liya ?.
"Satu lagi yang harus anda tau nyonya, tuan Leon tidak akan pernah selingkuh"
Ayu mendesis tak percaya mendengar ucapan Liya, bagaimana bisa wanita itu mengatakan dengan cukup enteng kalau Leon tidak akan selingkuh darinya. Padahal menurut kabar yang beredar Leon suka bergonta-ganti wanita setiap malam.
"Nyonya muda" panggil Liya saat melihat Ayu melamun, ia bahkan menggerakan bahu Ayu agar wanita itu segera sadar.
"Apalagi Liya ? Katakan saja jika masih ada !" balas Ayu sedikit sengit.
"Sebentar lagi seorang dokter akan datang nyonya, tadi saya sudah menghubunginya"
__ADS_1
Ayu menoleh dengan cepat, keningnya mengkerut. "Kenapa kamu panggil dokter ? Apa ada yang sakit di rumah ini ?" tanya Ayu
Tapi belum sempat Liya menjawab pertanyaan Ayu, pintu kamar tersebut di ketok dari luar. Liya berjalan membuka pintu dan melihat seorang Art berdiri dengan seorang dokter wanita.
"Silahkan masuk dokter Vera ?" ucap Liya sambil membungkukan badannya.
"Terima kasih"
Ayu masih heran, ia menatap dokter Vera dengan tatapan penuh dengan pertanyaan.
"Liya, kenapa kamu memanggil dokter ?" tanya Ayu lagi karena tadi pertanyaannya tak di jawab oleh Liya.
"Tentu saja untuk memeriksa kesehatan nyonya, menurut perjanjian pernikahan bukankah anda harus melahirkan seorang anak untuk tuan Leon" jawab Liya dengan enteng, ternyata wanita itu sudah banyak mengetahui tentang pernikahan Ayu dengan Leon.
Wajah Ayu langsung pucat mendengar jawaban Liya, padahal ia pikir kemaren Leon sudah melupakan semua itu. Namun ternyata ia salah.
"Mela-hirkan" ucap Ayu terbata-bata "Aku ini masih sangat muda, dan aku belum siap mengandung" sambung Ayu lagi dengan suara lirih.
"Tapi ini sudah menjadi perjanjian nyonya dan tuan Leon" balas Liya lagi, wanita itu membungkuk kemudian berlalu pergi dari kamar Ayu.
"Punya bayi" Ayu mengelus bagian perutnya, lalu menatap dokter Vera dengan ketakutan "Aku tidak mau punya bayi"
Dokter Vera mendekat lalu tersenyum manis ke arah Ayu. "Nyonya tidak perlu takut. Memiliki seorang bayi itu bukanlah hal yang perlu di takutkan, seluruh wanita di dunia ini sangat menginginkan memiliki seorang bayi" jelas dokter Vera mencoba meredahkan ketakutan yang Ayu alami saat ini.
Menurutnya hal yang wajar jika Ayu takut untuk hamil, mengingat umur Ayu baru 19 tahun, masih sangat mudah untuk hamil.
"Tapi aku belum siap untuk melahirkan bayi secepat ini" balas Ayu lirih.
"Kenapa tuan Leon begitu tega, membiarkan aku hamil di usia yang cukup muda ?" batin Ayu tak habis pikir.
"Ayo berbaring ke atas tempat tidur !" ajak dokter Vera.
"Un-tuk Apa ?" tanya Ayu gugup.
"Saya akan memeriksa kesehatan nyonya, menghitung masa ovolasi nyonya supaya cepat hamil" jawab dokter Vera.
__ADS_1
"Saya tidak mau dok, bukankah saya sudah bilang kalau saya belum siap hamil"
"Ya sudah kalau nyonya belum siap untuk di periksa, kita lupakan masalah itu dulu. Sekarang kita hitung masa menstruasi nyonya" Terlihat dokter Vera masih mencoba tersenyum, ia berusaha sabar supaya ketakutan di diri Ayu dapat hilang.
"Nyonya boleh saya tau kapan terakhir kali anda menstruasi ?" tanya Dokter Vera lagi, ia memegang sebuah polpen dan sebuah buku.
"10 hari yang lalu" jawab Ayu dengan cepat.
"Biasanya nyonya haid berapa hari ?"
"7 hari"
Dokter Vera menganggukan kepalanya, kemudian memcatat di sebuah buku yang sejak tadi ia pegang.
"Ok, pemeriksaannya cukup sampai disini. Terima kasih atas kerja samanya nyonya, kalau begitu saya permisi"
Ayu hanya menatap kepergian dokter Vera dengan nanar, ia sama sekali tak mengerti untuk apa dokter Vera menanyakan soal masa menstruasinya selama ini.
Saat Ayu sibuk dengan pikirannya, ponselnya menggelegar membuat Ayu beranjak untuk mengambil ponsenya di atas meja nakas samping tempat tidur.
Tapi saat Ayu hendak menjawab panggilan yang ternyata dari Afri, panggilannya langsung mati membuat Ayu menarik napas panjang. Beberapa saat kemudian ponsel Ayu kembali berbunyi kali ini ada pesan suara di aplikasi WatshApp nya.
"Ayu bagaimana kabarmu ? Waktu itu kamu pernah mengatakan kalau kamu akan menikah ? Apa itu beneran terjadi ?" pesan suara dari sahabatnya Zela membuat Ayu segera melakukan panggilan suara.
"Kamu dimana sekarang Yu ? Kemaren aku ke apartemenmu tapi kamu tidak ada" ucap Zela di seberang sana.
"Aku sudah tidak tinggal di apartemen lagi Zel, seseorang telah mengusirku dari sana" jawab Ayu yang kembali mengingat kalau ia di usir karena perbuatan Nadine.
"Siapa yang melakukan nya Yu ? Apa itu Nadine ? Terus sekarang kamu tinggal dimana ?"
"Siapa lagi kalau bukan Nadine, dialah pelakunya yang mengatakan pada Papa kalau aku punya apartemen" Ayu mencibir.
"Sialan memang si Nadine, apalagi yang dia inginkan dari mu ? bukankah keinginannya untuk mendapatkan Danu sudah terwujud"
"Mungkin dia ingin melihatku benar-benar hancur" balas Ayu lirih
__ADS_1