
"Katakan pada pria tua itu ! jangan pernah mengganggu Ayu lagi, karena jika sampai dia melakukannya lagi, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki kerumah" pinta Leon
"Baik Tuan" balas Bagas.
Bagas membalikan tubuhnya, menatap rantang makanan yang tadi Ayu letakkan di atas meja. "Ini sudah jam makan siang Tuan, apa tuan akan memakan masakan nyonya muda atau mau saya pesankan makanan di luar ?"
Kali ini Leon yang menatap rantang makanan itu, keraguan yang begitu besar merasuki hatinya. Entah akan seperti apa reaksi lidahnya saat mencoba masakan sang istri. Tetapi melihat hasil kerja keras Ayu, membuat Leon tidak tega jika membuang hasil masakan tersebut.
Leon tau betul, kalau memasak bukan hal yang mudah. Ia saja masak air saja bisa membuat panci sampai gosong.
"Tidak perlu memesan makanan di luar, kamu kembalilah keruangan !" pinta Bagas sembari berjalan menuju meja.
"Baik tuan" Bagas membungkukkan tubuhnya sebelum keluar dari ruangan Leon.
Setelah kepergian Bagas, Leon duduk di sofa. Tangannya terulur untuk membuka rantang makanan tersebut.
"Untung warna nasinya masih putih" gumam Leon terkekeh saat membuka rantang paling atas, yang mana isinya adalah nasi putih.
Selanjutnya barulah alis Leon mengernyit saat melihat warna masakan yang berwarna hitam. Dengan kedua sumpit yang sudah di siapkan, ia mengangkat potongan udang yang warna nya sudah tak layak untuk di hidangkan.
"Ini di goreng apa di bakar" kembali Leon bergumam.
"Semoga saja rasanya tidak seburuk penampilannya"
Dengan keraguan yang teramat besar, Leon memasukan potongan udang itu ke mulutnya. Dan---
"Airrrrr" teriak Leon sembari menyemburkan makanan yang sudah di dalam mulutnya. Lalu meraih segelas air putih yang tadi Bagas sediakan.
"Makanan macam apa ini" ucap Leon yang bergidik ngeri saat matanya kembali melihat potongan udang yang masih banyak di dalam rantang.
"Apa Ayu benar-benar mencicipi hasil masakan nya ?, ini benar-benar masakan yang sangat buruk"
*
*
*
Sore harinya, Ayu duduk sendiri di pinggiran kolam renang. Matanya menatap air kolam yang begitu tenang. Sesekali ia menarik napas panjang saat ingatannya kembali tertuju pada kejadian yang ia lihat tadi siang.
Apalagi yang belum ia ketahui dari sang suami, di luar sana semua orang bilang kalau Leon adalah seorang playboy. Namun apa yang ia lihat tadi siang berbanding terbalik dengan kenyataan.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu itu laki-laki seperti apa ? kenapa menurutku kamu sangat misterius" gumam Ayu.
Setelah merasa bosan Ayu berdiri dari duduknya. Berjalan masuk dan menuju dapur. Baru saja kakinya menginjakkan area dapur suara Liya sudah membuat langka kaki Ayu terhenti.
"Anda mau ngapain nyonya ?" tanya Liya.
"Aku akan memasak untuk makan malam suamiku" jawab Ayu.
Liya kembali terkejut, kali ini ia harus menghentikan Ayu, jangan sampai nyonya mudanya itu kembali memasak.
"Jangan nyonya !"
"Kenapa Liya ? apa aku tidak boleh masak untuk suamiku ?, aku hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya"
Liya terdiam sejenak, memikirkan alasan yang tepat agar Ayu tidak memasak lagi. Liya takut Leon akan marah padanya, apalagi waktu itu Leon pernah mengatakan supaya Ayu jangan memasak lagi.
"Bukan begitu nyonya, lebih baik nyonya menyambut kedatangan Tuan muda dengan cara lain. Dari pada memasak nanti nyonya akan lelah" jelas Liya kemudian.
"Tidak kok, aku tetap akan memasak. Lagian aku ingin belajar memasak yang enak"
Liya menarik napas panjang, entah apa yang akan ia jelaskan pada Leon kalau Ayu kembali memasak.
*
*
Terkadang Liya terkekeh kecil saat mendengar teriakan Ayu, mungkin saja kulit putih dan mulusnya sudah terkena percikan minyak.
"Akhirnya selesai" Ayu berteriak histeris sambil bertepuk tangan, tingkahnya saat ini seperti anak kecil yang baru saja menyelesaikan tugas.
Liya mendekat, matanya menatap Ayam goreng yang masih dalam wajan. Warnanya cantik dan tidak gosong tapi entah apa rasanya.
"Sebaiknya nyonya cicipi dulu hasil masakannya !, sebelum di hidangkan untuk tuan muda" pinta Liya.
"Tolong ambilkan piring dulu ! baru aku akan mencicipinya" pinta Ayu pada Liya.
Baru saja Liya akan beranjak mengambil piring, seorang Art berlari ke arah nya.
"Tuan muda sudah pulang nyonya" ucap Art itu pada Ayu.
Liya langsung mengurungkan niatnya untuk mengambil piring, ia meninggalkan Ayu dan berjalan untuk menyambut kedatangan Leon.
__ADS_1
"Tuan muda, maafkan saya ! tolong jangan marah" tiba-tiba saja Liya langsung mengatakan hal serupa membuat langka kaki Leon terhenti.
"Ada apa Liya ?" tanya Leon heran
"Saya sudah berusaha melarang nyonya muda untuk memasak, tapi nyonya muda begitu keras untuk mewujudkan semuanya, katanya nyonya ingin membuat tuan muda senang"
Mendengar hal itu Leon kembali ingat dengan makan siang yang tadi Ayu antarkan, pria itu tersenyum misterius membuat Liya ketakutan.
"Sekarang dimana dia ?" tanya Leon karena belum melihat kehadiran Ayu disana.
"Nyonya muda sedang ada di dapur tuan"
Leon langsung berjalan cepat menuju dapur, baru saja kakinya menginjakan area dapur sebuah wortel sedang berguling di lantai menuju Leon.
Seorang Art berlari untuk mengambil wortel itu, melihat kalau wortel itu berhenti tepat di depan sepatu Leon membuat Art itu ketakutan.
"Tuan muda" ucap Art itu dengan suara bergetar
Leon tak menjawab apa-apa, matanya menatap keadaan dapur yang saat ini seperti kapal pecah. Sementara sih pembuat onar masih asik dengan peralatan masaknya.
"Aaaaahhhh" tiba-tiba Ayu menjerit membuat Leon segera berlari ke arah Ayu.
"Ada apa ?" tanya Leon khawatir.
"Jariku berdarah" jawab Ayu seraya menunjukan jari telunjuknya yang mengeluarkan darah.
"Kenapa bisa ? kamu habis ngapain ?" Leon segera mengangkat tangan Ayu, Pria itu mendekatkan jari telunjuk Ayu ke bibirnya, Supaya darah itu langsung berhenti.
Di lubuk hati Leon, ingin sekali mengutuk dan mengumpat Ayu.
Setelah di rasa darah di tangan Ayu telah berhenti, Leon menyudahi aksinya.
"Kamu ini tidak punya keterampilan dalam memasak, jadi jangan coba-coba untuk melakukannya. Sebaiknya kamu mencari keterampilan mu sendiri" ucap Leon dengan nada kesal.
Ayu menundukkan kepalanya, membuat Leon meneliti penampilan istri kecilnya saat ini. Sebuah celemek terpakai juga rambut yang di kuncir sembarangan, membuat penampilan Ayu begitu cantik menurut Leon.
Leon menarik napas panjang, kemudian mengeluarkan suara.
"Liya" panggil Leon.
"Iya tuan muda" jawab Liya yang berdiri di belakang Leon
__ADS_1
"Ambilkan kotak p3k sekarang"
"Baik tuan muda"