
...~Happy Reading~...
Usai menghabiskan makan siang, keduanya pun langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk nenek dari Zefa. Masih belum ada perubahan sedikit pun, membuat hati Zefa merasa sangat sedih dan hampir menyerah.
"Sejak kapan di rawat disini?" tanya Raihan ketika menatap seorang wanita tua renta yang sedang terbaring lemah dengan begitu banyak alat medis di tubuh nya.
"Hampir tiga bulan," jawab Zefa menghela napas nya berat.
Seketika itu juga, Raihan langsung menatap ke arah Zefa dengan tatapan yang sulit di mengerti. Tiga bulan? Sekarang Raihan mengerti mengapa Zefa sampai mau di bayar oleh Erick untuk menemani nya, karena untuk biaya pengobatan nenek nya.
Namun, yang masih jadi pikiran bagi Raihan. Mengapa Erick sampai mau membayar Zefa untuk dirinya?
"Mas, aku mau menemui dokter Aris. Bisakah Mas disini sebentar?" tanya Zefa yang langsung di balas anggukan kepala oleh Raihan.
"Zefa!" panggil seseorang, ketika baru saja Zefa keluar dari ruang perawatan nenek nya.
Tubuh wanita itu langsung berbalik, dan menatap seorang laki laki yang sedang berjalan cepat ke arah nya.
"Akhirnya kau datang juga. Dia ingin bertemu dengan mu," ucap nya seolah tak sabar.
__ADS_1
"Benarkah? Kapan? Tapi aku—" jawab Zefa terlihat bingung.
"Plis, temui dia sebentar saja!" laki laki itu langsung menarik tangan Zefa tanpa menunggu persetujuan darinya, membuat Zefa mau tak mau harus sedikit berlari kecil untuk menyeimbangkan langkah kaki laki laki tersebut.
"Pak, tolong pelan sedikit. Perut saya sakit!" keluh Zefa sedikit meringis hingga membuat laki laki itu tersadar.
"Ah sorry! Aku terlalu bersemangat," jawab nya dengan tidak enak hati.
Zefa menganggukkan kepala nya, lalu keduanya berjalan pelan seperti biasa untuk menuju salah satu ruangan yang pernah Zefa temui beberapa waktu yang lalu.
Cklek!
Tanpa mengetuk pintu dulu, laki laki yang tak lain adalah Erick itu langsung membuka pintu nya. Memperlihatkan seorang wanita muda yang saat itu koma, kini sudah terlihat membuka matanya.
"Terimakasih," ucap wanita itu menatap pada Zefa.
"A—ada apa?" tanya Zefa pelan, "Ada apa, ingin bertemu dengan ku?"
"Bagaimana Raihan?" tanya wanita itu pelan dengan menatap lekat pada wajah Zefa.
__ADS_1
Deg!
Seketika itu juga, Zefa langsung mendongak dan membalas tatapan itu.
"Dia ... "
"Aku berterima kasih, karena kamu sudah mau menikah dengan nya. Terlepas dari apapun yang membuat kalian akhirnya bisa menikah. Tapi, aku berharap, kalian bisa bersama selamanya," ucap nya dengan tulus sambil menggenggam tangan Zefa.
"Zefa, berjanjilah bahwa kamu akan bertahan. Berjanjilah bahwa kamu akan mencintai Raihan selamanya, dan—" Wanita itu menghentikan ucapan nya saat dengan tiba tiba ia merasakan dadanya kembali terasa sangat sesak.
"Dia laki laki baik Zefa, aku sangat mencintai nya, tapi aku sadar bahwa aku bukan jodoh nya. Aku tidak akan bisa membahagiakan dia, jadi aku mohon, bahagiakan dia dan buatlah dia bahagia," imbuh wanita itu dengan lirih dan terbata.
"Kenapa kamu tidak jujur saja sama mas Raihan?" tanya Zefa dengan sekuat tenaga nya.
Wanita itu tersenyum, ia menatap langit langit di ruangan itu dengan senyuman getir. Ada begitu banyak alasan mengapa ia tidak bisa berkata jujur kepada laki laki yang pernah mengisi hari hari nya dulu.
"Aku, aarrkkkhh!" pekik wanita itu langsung mencengkram kepala nya, hingga membuat Zefa panik.
Brakkk!
__ADS_1
Tepat saat Zefa hendak meminta bantuan, saat itu juga ia di kejutkan dengan suara pintu yang di buka kasar dari arah luar.
...~To be continue......