Scandal Sang DUTA (Duda Tampan)

Scandal Sang DUTA (Duda Tampan)
Penyakit serius


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Apa yang kamu rasakan?” tanya Raihan pelan saat mendudukkan diri di samping Zefa.


“Sedikit pusing, sakit, sshhtt!” jawab Zefa terlihat masih sedikit meringis saat memegang bagian perut nya.


“Apakah perut kamu masih sakit?” tanya Raihan mengerutkan dahi nya, sambil tangan nya dengan sangat perlahan tangan nya hendak menyentuh perut Zefa namun buru buru dia urungkan.


“Hanya sedikit,” jawab Zefa kembali memejamkan mata, lalu membuka nya lagi, “Apakah aku sakit parah?” kini ganti Zefa yang bertanya, membuat Raihan nampa diam dan sedikit berfikir.


“B—bukan ... Bukan penyakit serius, hanya—“


“Jadi benar kalau aku sakit? Aku punya penyakit apa?” tanya Zefa yang kini sudah mulai meneteskan air mata nya, “Apakah parah? Berapa lama lagi umur ku yang tersisa? Hiks hiks hiks.”


Zefa tak kuasa menahan tangisan nya, kala mengingat bagaimana nanti nasib nenek nya jika memang dirinya memiliki penyakit mematikan. Apa yang harus dia lakukan, jika memang benar dirinya nanti meninggal, siapa yang akan mengurus nenek nya.

__ADS_1


Berbagai pikiran melayang tanpa tujuan, membuat Zefa tiba tiba kembali memekik kesakitan.


“Ahhhh, sakittt!” pekik Zefa kembali mencengkram perut nya sambil menggigit bibir.


“Zef, tenang dulu. Kamu tidak apa apa, jangan terlalu berfikir aneh!” bujuk Raihan saat dirinya teringat apa perkataan dokter saat setelah selesai memeriksa Zefa beberapa saat yang lalu.


Kandungan Zefa sangat lemah, sehingga membuat wanita itu tidak bisa mengalami stres sedikit atau benturan kecil pun, akan sangat berdampak pada kehamilan nya.


“Sakit, Mas. Perut aku sakitt!” rintih Zefa terus meringis dan menangis kesakitan, membuat Raihan semakin tak tega melihat nya.


Tak berapa lama, dokter pun tiba dan melihat bagaimana Zefa yang sudah mulai tenang berada di pelukan suaminya. Dokter segera meminta agar raihan kembali merebahkan tubuh Zefa ke tempat tidur, namun wanita itu justru menolak.


“Saya ingin seperti ini Dok,” ujar Zefa masih dengan suara serak nya menolak untuk melepaskan pelukan Raihan.


Entah mengapa, dirinya merasa begitu nyaman saat di peluk seperti itu. Dan juga, sejak saat Raihan memeluk nya, Zefa merasa sakit di perut nya mulai berangsur membaik tidak seperti sebelum nya.

__ADS_1


“Bagian mana yang masih sakit?” tanya Dokter akhirnya mengalah dan membiarkan pasien nya berada di posisi duduk dan berpelukan dengan suami nya.


“Sekarang sudah tidak begitu sakit dok. Hanya saja, tadi sedikit sakit,” jawab Zefa begitu lirih sambil terus mengendus aroma parfum yang ada di tubuh suaminya.


“Apakah anda sudah mengatakan kepada istri anda?” tanya Dokter kini menatap pada Raihan.


“Saya—“


“Mengatakan apa dok? Apakah benar, saya memiliki penyakit serius?” tanya Zefa lagi lagi dengan suara bergetar, membuat Raihan langsung menghela napas nya berat dan segera mengusap bahu Zefa agar lebih tenang.


“Sudah ku katakan, kamu tidak memiliki penyakit apapun, Sayang. Jadi tolong jangan berfikir macam macam,” ujar Raihan sedikit menghela napas nya berat.


“Suami anda benar, anda tidak sedang sakit. Justru kami memberikan anda ucapan selamat, karena kini anda tengah mengandung dan sudah memasuki usia sepuluh minggu,” tutur dokter itu tersenyum, namun seketika membuat Zefa langsung membulatkan matanya dengan sempurna.


Seketika itu juga, Zefa langsung melepaskan pelukan nya dari raihan, ia menundukkan kepala nya sambil mengusap perut nya yang masih datar, benarkah dirinya hamil? Gumam nya dalam hati juga tak percaya.

__ADS_1


...~To be continue ......


__ADS_2