
...~Happy Reading~...
"Shhhttt!" Zefa langsung menggigit bibir bawah nya dengan sekuat tenaga.
Tangan nya mencengkram erat perut bagian bawah nya yang terasa sangat menyakitkan bagi nya.
"Mas, perut ku sakitt!" ringis Zefa pelan, namun tiba tiba mata nya langsung membulat saat ia merasakan ada sesuatu yang mulai keluar dari bagian inti nya.
"Zefa, i—ini... " Bukan hanya Zefa yang terkejut, namun Raihan juga sangat terkejut ketika melihat dress yang di kenakan oleh Zefa sedikit terangkat, hingga membuat nya bisa melihat darah yang mulai. merembes di paha istri nya.
"Sakit Mas, sakitt! sshhttt!" Zefa semakin menggigit bibir bawah nya sambil terus mencengkram erat jas yang di kenakan oleh Raihan.
Panik, itulah yang di rasakan oleh Raihan. Ia mengabaikan suara teriakan dari Alika dan juga mama nya yang terus memanggil nya.
Dengan cepat, ia segera mengangkat tubuh Zefa dan segera membawa nya keluar.
"Rai! Kamu mau kema—" tanya Erick terhenti saat melihat bagaimana Zefa menggigit bibir bawah nya untuk menahan rasa sakit.
Bukan hanya itu, bahkan Erick juga melihat adanya darah yang tertinggal di lantai.
__ADS_1
"Ris, tolong urus Alika. Aku akan—"
"Pergilah!" ucap dokter Aris yang seolah paham dengan apa yang akan di katakan oleh Erick.
Erick menganggukkan kepala nya, dan segera ikut berlari mengejar langkah Raihan yang sedang mencari UGD.
Sementara itu, mama Zarra hanya menatap datar pada kepergian semua orang. Tangan nya terkepal dengan perasaan campur aduk yang tidak menentu.
Bohong jika ia tidak khawatir dengan keadaan Zefa. Namun, logika nya menolak untuk perduli dan membuatnya ingin berada di samping Alika.
Entahlah, rasa bencinya kepada Zefa, yang sudah terjebak skandal dengan putranya semakin mencuat.
Setelah sekian lama ia mencari keberadaan Alika, kini akhirnya ia bisa menemukan nya namun keadaan nya yang sangat tidak memungkinkan, membuat hatinya semakin sedih dan hancur.
"Mas, sakit hiks hiks hiks!" Raihan terus menggenggam tangan Zefa sambil terus membantu mendorong brankar menuju ruang UGD.
Ia tidak tau, apa yang terjadi dengan istrinya. Namun, melihat adanya darah, membuat nya berfikir bahwa luka Zefa tidaklah main main.
"Maaf, silahkan tunggu di luar!" ucap seorang perawat yang langsung menahan Raihan dan Erick agar tidak ikut masuk ke dalam ruang UGD.
__ADS_1
Raihan menyandarkan tubuh nya pada dinding, perlahan ia meluruhkan tubuh nya hingga kini ia terduduk lemas di lantai dengan kaki sebelah ia selonjorkan dan satu lagi di tekuk.
Kedua tangan nya terangkat, matanya menatap lekat pada tangan yang masih berlumur darah dan bergetar hebat. Hingga tanpa sadar, air matanya menetes membasahi wajah.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Erick membuka suara hingga membuat Raihan langsung mendongak dan menatap sahabat nya.
Tentu saja Erick sedikit terkejut, karena melihat sahabat nya menangis. Benarkah seorang Raihan menangis karena Zefa? batin Erick kurang percaya.
Pasal nya, Raihan sangat sulit menangis. Bahkan saat bercerai dari Alika pun, laki laki itu tidak menangis. Bahkan tadi, ketika melihat keadaan Alika yang kembali kritis, Raihan juga tidak menangis.
Namun, kini laki laki itu menangis karena melihat darah di tangan nya. Entah darah apa yang ada di tangan Raihan, namun dua hal yang ada di pikiran Erick.
Raihan menangis karena melihat istrinya terluka, menandakan bahwa Raihan mulai mencintai dan takut kehilangan Zefa. Atau, Raihan menangis karena takut melihat darah di tangan nya.
Cklek!
Belum sempat Raihan menjawab pertanyaan Erick, suara pintu yang terbuka membuat perhatian dua laki laki itu langsung teralihkan.
...~To be continue......
__ADS_1