
...~Happy Reading~...
"Setidaknya, jika dia bersama kamu, aku bisa sedikit tenang!" ucap Erick dengan raut wajah datar nya.
"Hah, brengsek ternyata lo!" Raihan mengepalkan tangan nya dengan kuat.
Ia tidak menyangka, bahwa ternyata Erick bisa setega itu.
"Iya, gue emang brengsek. Dan lo tau jelas itu sejak dulu!" balas Erick dengan tersenyum getir.
Pengkhianatan yang di lakukan oleh ayah nya, masih begitu membekas di hati Erick. Dan saat itu sudah mulai sembuh oleh kehadiran Alika, saat itu juga ia merasakan kembali betapa sakitnya sebuah penghianatan dari sahabat nya sendiri.
Berulang kali Erick mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Lebih mementingkan persahabatan daripada seorang wanita. Namun, nyatanya masih begitu sulit.
"Rai!" panggil seseorang dari ujung lorong itu seketika membuat perdebatan Raihan dan Erick terhenti.
"Mama!" Raihan langsung menatap mama nya yang sedang berjalan ke arah nya masih dengan pakaian dokter nya, "Kenapa Mama disini?" tanya Raihan sedikit bingung, pasal nya ini bukan tempat kerja ibu nya.
"Harusnya Mama yang tanya, kenapa kau ada disini?" ucap mama Zarra yang malah balik bertanya.
"Aku—"
"Arrrkkhhh!" Suara teriakan dari dalam ruangan itu, seketika membuat percakapan ibu dan anak itu langsung terhenti.
__ADS_1
"Alika!" gumam keduanya saling menatap saat merasa sangat mengenal suara teriakan itu.
Brakk!
Erick yang mendengar suara teriakan juga langsung membuka pintu itu dengan kasar. Namun, saat ia hendak masuk, tiba tiba tubuh nya di tarik oleh mama Zarra yang lebih dulu menerobos untuk masuk.
Deg!
Dan benar saja, itu adalah suara Alika. Tak hanya mama Zarra yang terkejut, Raihan pun tak kalah terkejut nya. Terlebih ketika mereka melihat keberadaan Zefa di sana dengan tangan yang berada di atas kepala Alika.
Bukan, Zefa tidak bermaksud menyakiti Alika. Tapi wanita itu yang justru menyakiti tangan Zefa dengan mencengkram nya erat di atas kepala nya.
"Arrkkhhh sakittt!" pekik Alika semakin menjerit kesakitan.
"Aku panggil kan dokter," ucap Erick segera berlari keluar. Sedangkan Raihan, ia terlihat bingung dan terus menatap ke arah Alika yang terlihat sangat kesakitan.
Merasa tidak ada pegangan lagi yang menguatkan nya, akhirnya Alika menarik tangan Raihan dan mencengkram nya erat berharap rasa sakit itu bisa berkurang.
"Ma, a—aku, tidak—" Tubuh Zefa terasa bergetar, ia menjadi sangat gugup dan takut.
Walaupun ia tidak bersalah, dan hendak menjelaskan. Namun, kala itu dengan mama Zarra seketika ia menjadi sangat gugup.
"Kamu mau membunuh Alika? Iya!" seru mama Zarra lagi semakin geram dan membenci keberadaan Zefa.
__ADS_1
"Enggak Ma, Zefa—"
"Bohong kamu!" pekik mama Zarra dan...
Plakkk!
"Ma!" seru Raihan terkejut dan hendak menghampiri mama nya, namun karena tangan nya masih di cengkram oleh Alika, ia tidak bisa melepaskan nya.
"Kamu mau membunuh Alika, agar kamu bisa terus sama anak ku, iya kan! Jangan lampaui batas mu Zefanya." ucap mama Zarra penuh penekanan.
"Tapi aku tidak bermaksud—" Zefa terus menggelengkan kepala nya sambil berjalan mundur, hatinya sangat sakit setiap kali harus berhadapan dengan mama Zarra.
Serendah itukah dirinya, sampai ibu mertua nya sangat membenci nya. Apa kesalahan yang di buat oleh Zefa terlalu fatal? batin Zefa dalam hati.
"Kalau sampai terjadi sesuatu sama Alika, aku pastikan kamu akan—"
Brukk!
Tubuh Zefa langsung terjatuh di lantai saat tubuh nya menabrak sebuah lemari kecil yang berada di samping pintu.
"Zefanya!" pekik Raihan langsung melepaskan tangan Alika dengan kasar dan berlari menghampiri istrinya yang terlihat meringis kesakitan.
...~To be continue... ...
__ADS_1