Scandal Sang DUTA (Duda Tampan)

Scandal Sang DUTA (Duda Tampan)
Tetangga masa gitu?


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Zefa menarik napas nya dengan sedikit berat, saat ia menatap sebuah bangunan rumah yang tidak begitu besar namun juga tidak begitu kecil.


Rumah minimalis yang menjadi tempat tumbuh kembang nya selama belasan tahun. Kini terlihat semakin lusuh karena termakan usia.


Namun, meski begitu, dirinya merasa sangat nyaman berada di sana daripada berada di rumah Raihan.


Meskipun megah dan mewah, namun Zefa merasa sangat asing dan sulit menjadi dirinya sendiri.


"Apa kamu yakin akan tinggal disini?" tanya Raihan sedikit pelan saat melihat bangunan rumah di depan nya.


"Jika Mas tidak nyaman disini, Mas pulang saja," jawab Zefa, lalu ia segera melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam rumah.


Akhirnya, setelah hampir dua bulan. Kini dirinya kembali pulang ke rumah ternyaman nya.


Bukan mendengarkan dan segera pergi, justru Raihan mengikuti Zefa dan ikut masuk ke rumah kecil tersebut..

__ADS_1


Ya, jika menurut Zefa, tentu saja rumah itu tidak lah kecil. Namun, jika menurut Raihan, rumah itu sangat kecil, bahkan jika di bandingkan dengan kamar nya, mungkin akan kalah.


"Kenapa Mas masuk? Bukankah aku sudah menyuruh Mas pulang?" tanya Zefa sedikit terkejut saat tiba tiba ia melihat Raihan yang langsung mendudukkan diri di sofa ruang tamu.


"Kenapa kamu menyuruh ku pulang? Bukankah aku masih suami mu? Jika kamu tidak mau ikut pulang bersama ku, maka biar aku yang ikut dengan mu!" jawab Raihan seketika membuat langkah kaki Zefa terhenti.


Ia membalik badan dan menatap suami nya dengan tatapan yang sulit di mengerti. Sementara itu, Raihan yang mendapatkan tatapan dari Zefa langsing beranjak dan menghampiri wanita tersebut.


"Kenapa?" tanya Raihan mengerutkan dahi nya saat sudah berada tepat di hadapan Zefa, "Apakah aku salah bicara?"


Tok.. tok.. tok..


"Istirahatlah, kamar ku yang sebelah kanan," ujar Zefa sambil menunjuk salah ke arah kamar nya.


Meskipun ia tidak menyukai keberadaan Raihan. Namun, biar bagaimana pun, Raihan adalah suami nya, ayah dari bayi yang di kandung nya. Lagipula, mengusir Raihan juga akan percuma, batin Zefa berdecak.


Cklek!

__ADS_1


Zefa membuka pintu rumah nya dan melihat seorang ibu paruh baya yang membawa sebuah bingkisan untuk di berikan padanya.


"Kirain kamu belum pulang Zef, udah betah di rumah suami kamu," ucap Ibu itu yang bernama Wati.


Zefa tersenyum tipis sambil menerima bingkisan dari ibu Wati, "Baru pulang Bu," jawab Zefa.


"Kenapa pulang? Kamu gak di usir sama suami kamu kan Zefa? Atau kamu udah di ceraikan? Ckckc orang kaya memang begitu Zefa, sudahlah. Kamu memang gak pantes sama dia, jomplang kalau kata kita mah, kalian itu kaya langit sama bumi. Jadi sudahlah, jangan terlalu tinggi bermimpi."


"Untung nenek kamu belum sadar, jadi dia gak akan tahu gimana nasib kamu. Coba pikirin kalau nenek kamu sudah sadar, yang ada dia koma lagi karena tau cucu nya udah di buang sama suaminya."


"Ya Allah Zefa, baru dua bulan loh padahal, sabar ya, harus kuat. Jangan terlalu lemah jadi perempuan, harus tunjukin kalau kamu itu bisa sendiri, laki masih banyak!" ujar ibu Wati panjang kali lebar.


Entah memberikan nasehat atau nyinyiran, yang jelas setelah mendengar perkataan ibu Wati seketika membuat mood Zefa semakin hancur.


Zefa mengepalkan tangan nya, ia menarik napas sesaat sambil memejamkan mata beberapa detik. Ingin sekali rasanya ia membalas perkataan ibu Wani, namun ia seperti tidak memiliki tenaga untuk hal itu.


Tubuh nya masih belum pulih, dan dia masih begitu enggan untuk berdebat hal yang tidak penting.

__ADS_1


"Maaf ya Bu, saya masih capek,. lagipula suami saya sudah menunggu saya di dalem. Mumpung lagi hujan katanya, oh iya, tolong bantu jagain mobil suami saya ya Bu, permisi. Assalamu'alaikum," jawab Zefa dengan memasang senyuman manis nya dan menunjuk ke arah mobil mewah yang terparkir di seberang jalan, tepatnya berada di pekarangan rumah tetangga nya yang lain.


...~To be continue... ...


__ADS_2