Scandal Sang DUTA (Duda Tampan)

Scandal Sang DUTA (Duda Tampan)
Bu Wati


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Pagi harinya, Zefa sudah bangun sejak pagi tadi. Ia segera menyiapkan sarapan untuk Raihan karena hari ini, suaminya akan berangkat bekerja, setelah beberapa hari libur.


"Kopi atau teh?" tanya Zefa ketika melihat suami nya sudah keluar dari kamar.


"Kopi saja," jawab Raihan sambil mendudukkan diri di sofa depan televisi.


Rumah Zefa hanya ada dua kamar, satu ruang tamu yang bercampur televisi, serta dapur dan satu kamar mandi.


Maka dari itu, Raihan sedikit merasa risi dan kurang nyaman karena begitu kecil, sempit dan juga keberadaan toilet yang berada di luar kamar.


Namun, bagaimana lagi jika hingga saat ini Zefa belum mau di ajak pulang ke rumah nya. Dirinya juga tidak mungkin jika harus meninggalkan Zefa seorang diri di rumah tersebut.


Mengingat, tetangga Zefa yang memiliki sifat kejulid'an yang sangat amat akut. Jadilah, membuat Raihan semakin tidak bisa meninggalkan Zefa.


"Apa kamu yakin, tidak apa jika di rumah sendirian?" tanya Raihan sedikit khawatir dengan istrinya.


"Mas, bukankah semalam kita sudah bicarakan?" Zefa menatap Raihan setelah meletakkan secangkir kopi di atas meja.

__ADS_1


Benar, bila semalam Zefa dan Raihan sudah berbicara berdua secara empat mata. Zefa memberikan kesempatan untuk Raihan memasuki hatinya. Dan Zefa pun juga sudah bersiap untuk membuka hati.


Namun, untuk sementara Zefa ingin tetap tinggal di rumah nya. Dirinya masih sangat merindukan kehidupan nya yang dulu. Selain itu, Zefa juga belum siap untuk bertemu dengan mama Zarra atau bahkan Alika.


"Mas... " Zefa kini duduk tepat di depan Raihan, membantu laki laki itu untuk memasangkan dasi, "Hati hati kerja nya, jangan terlalu lelah."


"Kamu yang jangan terlalu lelah, aku janji akan segera pulang," ucap Raihan, ia menarik tubuh Zefa dan mendudukkan nya tepat di pangkuan nya.


Memeluk dari belakang, sambil tangan kekar itu mengusap perut Zefa yang masih terlihat datar namun juga terasa sedikit berisi.


"Aku sudah mengisi dompet kamu, jika menginginkan sesuatu, pesan online saja, Jangan pergi keluar sendiri," imbuh Raihan yang langsung di balas anggukan kepala oleh Zefa.


"Cup, aku pergi dulu."


Setelah mengecup kening Zefa, Raihan segera pergi meninggalkan rumah kecil minimalis itu. Zefa menatap kepergian suami nya dengan perasaan yang begitu kalut.


Ia memejamkan matanya, hingga tanpa sadar air matanya menetes saat melihat mobil itu sudah tak terlihat lagi.


'Kamu harus kuat, Zefa. Harus!" gumam nya pelan sambil menghapus air mata.

__ADS_1


"Zefa, suami kamu sudah berangkat kerja?" tanya bu Wati yang tiba tiba datang dan menghampiri Zefa.


Seketika itu juga, raut wajah Zefa langsung berubah menjadi tersenyum, "Sudah Bu, ada apa ya?"


"Oh enggak! Itu tadi ada undangan dari pak RT, untuk kerja bakti besok lusa. Tapi, kayaknya kamu tadi belum bangun, makanya saya bilang sama pak RT, biar di titipkan ke saya saja." ucap Bu Wati dengan nada serta gaya khas nya.


"Ya, sebagai tetangga yang baik dan pengertian. Saya kan juga pernah muda kan ya, jadi ya saya maklum lah, kalau kalian sampai kesiangan bangun," imbuh Bu Wati sambil memberikan selembar undangan kertas kepada Zefa.


"Terimakasih Bu," jawab Zefa sedikit senyum canggung.


Ia masih ingat perkataan Raihan beberapa waktu lalu, yang mengatakan bahwa Bu Wati sempat mengintip lewat gorden jendela nya. Makanya Bu Wati bisa berfikiran seperti itu.


"Oh iya, emang suami kamu mau di ajak kerja bakti seperti itu. Kalau saya sih kurang yakin ya,"


"Untuk bisa atau tidak nya, nanti biarkan saya tanya dulu sama mas Raihan ya Bu Wati. Lagipula, jika memang tidak bisa, pasti akan di usahakan kok," ujar Zefa dengan sedikit malas namun masih bersikap se sopan mungkin.


"Oh ya Bu, maaf ya saya lagi mencuci di dalam. Saya tinggal dulu ya Bu, saya juga belum ganti sprei karena kotor gara gara semalam," imbuh Zefa lalu segera bergegas masuk ke dalam begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Bu Wati.


'Gara gara semalam?' gumam Bu Wati dalam hati sambil menelan saliva nya sendiri.

__ADS_1


...~To be continue... ...


__ADS_2