
...~Happy Reading~...
"Zef, bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi? Bisakah kita lupakan tentang perjanjian itu? Aku tahu, untuk saat ini, mungkin di antara kita belum ada kata cinta. Tapi aku lelah Zef, aku lelah jika harus berhenti lagi." ujar Raihan lalu menghela napas dengan berat.
"Aku sudah tidak muda lagi, dan aku butuh kamu Zef. Tolong, berikan aku kesempatan untuk memulainya. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan nya sama kamu, dan berikan aku kesempatan untuk membahagiakan kamu," imbuh Raihan panjang lebar.
"Tolong buka hati kamu untuk aku!"
"Bagaimana dengan mbak Alika? Mama?" tanya Zefa sambil mengepalkan tangan nya kuat.
Bukan ia tidak mau memulai semuanya dengan Raihan. Bukan juga ia tidak mau membuka hati, karena sejujurnya kini ia sudah mulai merasa nyaman dengan Raihan.
Secepat itu? Segampang itu? Memang itulah kenyataan nya. Zefa, seorang gadis polos dan lugu yang memang begitu haus dengan kasih sayang.
Sejak kecil, ia hanya tinggal bersama sang nenek. Dan setelah ia remaja ia harus pontang panting bekerja untuk biaya sekolah nya sendiri.
Tidak ada waktu untuk nya bermain, apalagi dekat dengan seseorang. Dan kini, setelah ia menikah dengan Raihan.
Ia merasa hidup nya sangat jauh berubah. Ia merasa ada yang memperhatikan, menyayangi nya bahkan memanjakan nya.
__ADS_1
Meskipun Raihan tidak pernah bersikap romantis, namun Zefa sudah merasa cukup nyaman berada di dekat Raihan. Terlebih ketika laki laki itu selalu menuruti kemauan nya.
Namun, Zefa juga tidak bisa egois. Masih ada mama Zarra dan juga Alika yang mungkin akan menjadi kendala kebahagiaan mereka.
Lantas, apakah Zefa kuat dan sanggup melawan seorang wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan Raihan menjadi seperti sekarang? batin Zefa.
"Alika hanya masa lalu ku. Dan aku sudah selesai dengan nya!" jawab Raihan yang kini Ekspres wajahnya berubah menjadi datar.
"Dan untuk Mama. Aku yakin, kelak Mama bisa menerima kamu. Tidak cukup kah, ada aku, Papa dan Willy? Cepat atau lambat, Mama pasti juga akan bisa dekat sama kamu. Aku mohon, Zef, bertahanlah dan berikan aku kesempatan itu," pinta Raihan untuk yang kesekian kali nya, membuat Zefa kembali terdiam.
Cukup lama keduanya terdiam. Raihan yang menunggu jawaban dari Zefa, sedangkan Zefa yang masih mencerna ucapan Raihan.
"Loh, sudah malam kok belum pada tidur?" tanya seseorang yang membuat pembicaraan Raihan dan Zefa terhenti.
Memang ini salah nya sih, karena bicara di depan pintu. Dan entah sudah berapa lama bu Wati berdiri di pinggir jalan, Zefa hanya berharap tetangga super julid nya itu tidak mendengar semua pembicaraan nya.
"Belum tidur Zef? Apa lagi berantem? Masa masih pengantin baru udah berantem sih. Jangan gitu ah, gak bagus tahu." ucap bu Wati dengan nada menyindir, "Saya aja yang udah menikah puluhan tahun, gak pernah berantem loh!"
"Tidak ada yang sedang bertengkar Bu!" jawab Raihan kini mulai ikut buka suara, "Kami baru saja pulang beli makan. Dan sekarang, kami mau masuk," imbuh Raihan, lalu ia kembali menggendong tubuh Zefa dengan tiba tiba.
__ADS_1
"Mas!" pekik Zefa terkejut, namun dengan cepat ia segera mengalungkan kedua tangan nya di leher Raihan.
"Maaf Bu, kami permisi dulu. Sudah malam, istri saya sudah meminta jatah, silahkan pulang. Selamat malam!" ucap Raihan lalu tanpa menunggu jawaban Bu Wati, ia segera membuka pintu dengan sebelah tangan nya dan masuk ke dalam.
Bukan hanya Bu Wati yang di buat melongo okeh jawaban Raihan. Namun Zefa juga tak kalah melongo nya saat mendengar kata meminta jatah.
Sejak kapan dirinya bilang minta jatah. Wajah nya kini sudah memerah karena menahan malu. Zefa sudah hafal dengan tabiat Bu Wati. Yang mana, sudah pasti besok dirinya akan menjadi trending topik di group ibu ibu arisan di perumahan itu.
"Kenapa?" tanya Raihan mengerutkan dahinya saat melihat tatapan maut dari Zefa.
"Kata kata kamu nyebelin!" cetus Zefa yang kini sudah turun dari gendongan Raihan dan langsung mendengus.
"Aneh gimana? Wajar dong, jika seorang istri meminta jatah ke suami," kata Raihan terlihat begitu santai.
"Ya tapi gak perlu bilang ke Bu Wati juga Mas, mulut dia itu ember! Gimana kalau nanti— emmmttt!"
Ucapan Zefa langsung terhenti saat dengan tiba tiba Raihan langsung mengecup bibir nya dengan cepat dan menuntut.
'Biar dia makin ember di luaran sana!' bisik Raihan sedikit melirik ke arah jendela yang memang belum di tutup gorden sepenuh nya. Dimana ia melihat adanya siluet orang yang berdiri di sana.
__ADS_1
Dan Raihan tahu, itu bukanlah hantu atau setan, melainkan orang yang sama yang tadi ia temui di depan rumah, Bu Wati.
...~To be continue......