
...~Happy Reading~...
Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, kini makanan yang di pesan Zefa sudah tiba. Mata wanita hamil itu langsung berbinar kala melihat beberapa menu kesukaan nya sudah terhidang di atas meja.
Berbeda dengan Zefa yang sangat antusias seolah tak sabar menyantap makanan nya, justru Raihan di buat terdiam dan speechless dengan apa yang ia lihat.
Dirinya pernah memakan, menu seperti ini, namun baru kali ini dirinya bertemu dan akan makan langsung di tempat nya.
"Kenapa bengong? Ayo makan, enak loh. Mas tahu, bapak yang jualan ini tuh sudah legend banget. Mereka jualan sudah dua puluh tahun di sini," ujar Zefa sambil menggigit ayam goreng nya yang sudah ia cocol dengan sambal.
"Dua puluh tahun? Apakah kamu saat bayi sudah makan disini, sampai tahu sedetail itu?" tanya Raihan sedikit berdecak tak suka.
"Ya enggak lah, ngaco kamu. Kan Zefa cuma katanya," jawab nya ikut berdecak.
"Jangan mudah percaya hanya dengan katanya!" ucap Raihan penuh penekanan, "Aku juga bisa buka warung beginian, beberapa hari terus aku bilang ke orang baru kalau ini legend dan udah buka sejak jaman penjajahan!"
"Dih, kamu kenapa sih Mas?" tanya Zefa yang baru sadar bahwa ada yang tidak beres dengan suami nya.
"Gapapa, katanya lapar makan lah!" ujar Raihan.
"Bukan nya kamu yang bilang lapar, tadi?" tanya Zefa langsung mengerutkan dahi nya, "Kalau emang gak mau makan, ya sudah. Buat Zefa semua!" imbuh wanita itu, lalu ia segera menyantap makanan nya tanpa perduli lagi dengan sosok laki laki di sebelah nya.
Krucuk krucuk krucuk!
__ADS_1
Seketika itu juga, Zefa langsung berhenti mengunyah makanan nya. Ia mendengar suara yang sangat ia kenal dan sudah ia hafalkan sejak dulu.
Yups, suara perut kelaparan, karena Zefa sudah bersahabat dekat dengan suara tersebut, maka dari itu ia langsung peka dan langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Cobain," ucap Zefa mengalah dan langsung menyuapkan nasi beserta lauk nya dengan menggunakan tangan ke mulut Raihan.
"Aku tidak lapar. Makanlah," kata Raihan menolak.
"A!" Zefa memaksa agar Raihan membuka mulut nya, hingga mau tak mau akhirnya Raihan terpaksa menerima suapan dari istrinya.
"Enak gak?" tanya Zefa tersenyum lega saat melihat Raihan sudah mulai mengunyah makanan nya.
"Biasa saja!" jawab nya langsung memalingkan wajah ke samping lantaran malu mengakui.
Ia kembali menyuapkan makanan ke mulut Raihan dengan begitu sabar, "Tentu saja lebih enak di restauran. Selain kualitas nya terjamin, tempat nya juga nyaman dan sejuk. Sedangkan disini panas dan harus berdesakan sama yang lain," imbuh Zefa terkekeh.
"Tapi disini seru, sangat ramah di kantong dan rasanya juga tidak begitu buruk. Disini murah, tapi tidak murahan. Tidak perlu menguras kantong dan yang pasti, tidak perlu pakai bensin, karena bisa jalan kaki kesini."
Deg!
Jalan kaki, Raihan baru tersadar bahwa tadi mereka jalan kaki. Itu berarti, nanti mereka pulang juga akan berjalan kaki.
Tidak, Raihan tidak mau Zefa kelelahan. Kandungan Zefa belum kuat betul, dan ia tidak mau terjadi apapun kepada kandungan Zefa.
__ADS_1
Apakah berarti dirinya harus makan banyak, agar ia bisa kuat menggendong Zefa sampai rumah? Benarkah begitu? Tentu saja, daripada Zefa harus berjalan kaki dan kelelahan, Raihan akhirnya memilih mengalah untuk memakan makanan itu agar perut nya kenyang dan bisa menggendong Zefa hingga rumah.
"Katanya gak lapar, tapi habis juga," gumam Zefa pelan sambil terkekeh.
"Terpaksa!" jawab Raihan langsung mengusap mulut nya dengan menggunakan tisu.
"Iya deh, iya yang terpaksa," Zefa tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.
"Kamu saja yang bayar, aku kenyang!" ucap Raihan yang benar benar merasa sangat kenyang akibat terus di suapi oleh Zefa tanpa henti.
Awal nya, Zefa sedikit bingung. Lantaran ia tidak membawa uang dan di suruh bayar. Sedangkan, jumlah total yang ia makan bisa lebih dari seratus ribu, karena porsi makan Raihan yang banyak.
Namun, kebingungan nya terganti dengan rasa terkejut, tatkala dimana Raihan menyodorkan dompet nya kepada Zefa.
"Mas—" Zefa tidak menyangka bahwa Raihan sampai menyerahkan dompet nya kepada Zefa.
"Aku kenyang, Zefa!" keluh Raihan sekali lagi, membuat Zefa menganggukkan kepala nya dengan cepat.
Ia merasa benar benar seperti seorang istri pada umumnya. Dimana di antara sepasang suami istri tidak ada yang di tutupi dan saling terbuka. Tanpa sadar, membuat bibir tipis wanita itu sedikit tertarik untuk membentuk sebuah lengkungan manis.
Meskipun, hubungan nya dengan Raihan belum sampai di titik sejauh itu, namun setidaknya kini ia bersyukur karena memang sudah mulai ada perubahan walau kecil.
Dengan Raihan mau ikut dengan nya ke rumah petak, makan di pinggir jalan dan memberikan nya kepercayaan untuk membuka dompet pribadi nya saja, sudah membuat hati Zefa terasa hangat dan di hargai sebagai seorang istri.
__ADS_1
...~To be continue... ...