
...~Happy Reading~...
"Hah! H—hamil? Kamu serius?" pekik mama Zarra langsung terkejut saat mendengar kabar yang begitu mengejutkan dari anak nya.
"Apa kamu yakin? Apakah benar dia anak kamu? Dan—"
"Cukup Ma!" potong Raihan dengan cepat, "Mulai sekarang, tolong Mama jangan temui Zefa lagi. Dan ketika Mama melihat dia dimana pun, berpura pura lah tidak mengenal. Aku rasa itu akan lebih baik!" ucap Raihan dengan tegas.
Ia sudah memutuskan, bahwa tetap akan mempercayai Zefa. Dan dia juga memutuskan akan melakukan pemeriksaan ulang di rumah sakit lain, tanpa sepengetahuan siapapun.
Dan kalau pun nanti hasil nya benar, bahwa dia tidak bisa memiliki anak. Dan anak yang di kandung Zefa pun bukan anak nya. Raihan pun tetap akan menerima nya.
Entah bayi siapa yang Zefa kandung, karena Zefa sudah menjadi istrinya, berarti anak itu memang milik nya.
Raihan sudah menyiapkan diri se siap mungkin, untuk menghadapi kenyataan di depan nya nanti. Tapi, jauh di dalam lubuk hatinya, dirinya memang berharap bahwa bayi yang ada di kandungan Zefa adalah benar anak nya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Alika?" tanya mama Zara setelah mengontrol keterkejutan nya.
"Dia sudah tidak punya keluarga lagi Rai, kamu tahu itu. Dan sekarang, dia sedang sakit parah, apa kamu akan setega itu meninggalkan nya?" imbuh mama Zara menatap intens wajah Raihan yang terlihat bingung.
"Aku akan menemui nya Ma," ujar Raihan, lalu ia langsung masuk ke dalam ruangan mantan istri nya untuk berbincang sebentar.
Sementara itu, di ruangan yang berbeda. Zefa masih dia menatap pada pemandangan langit yang begitu cerah dari balik jendela kaca di ruangan nya.
Matanya terus menatap burung burung yang begitu terbang bebas seolah tidak memiliki beban apapun.
"Apa yang harus ku lakukan? Sakit jika ki bertahan, tapi jika ku lepaskan akan jauh lebih menyakitkan."
"Jika memang sama sama menyakitkan, maka bertahanlah. Karena dengan kamu bertahan, kamu bisa memperbaiki dan mengubah rasa sakit itu. Tapi jika kamu pergi, kamu tidak akan memiliki kesempatan untuk melihat orang yang kamu sayangi lagi," ucap seorang laki laki yang kini memasuki ruang rawat inap nya.
"Bapak!" gumam Zefa pelan ketika melihat dosen nya kini masuk begitu saja.
__ADS_1
"Bertahanlah Zefa, aku yakin kami bisa dan kuat menghadapi semuanya," ucap Erick berusaha meyakinkan.
"Zefa, sebelumnya aku akan minta maaf sama kamu. Mungkin, secara tidak langsung semua yang terjadi dalam hidup kamu, karena aku."
"Di kehidupan ini, setiap manusia pasti memiliki tujuan hidup masing masing. Memiliki misi untuk membuat nya yakin dan terus bertahan hingga mencapai masa depan."
"Buatlah misi mu itu Zefa. Tekat kan hati kamu, untuk bertahan. Mempertahankan apa yang sudah menjadi milik kamu," ujar Erick panjang lebar.
Zefa terdiam, ia seolah mencerna setiap kata dan kalimat yang di ucapkan oleh Erick pada nya. Misi? Apa misinya untuk hidup ini? Hanya ingin melihat nenek nya sembuh, benarkah hanya itu? gumam Zefa dalam hati.
"Zefa, Raihan sudah menjadi milik kamu. Anak kamu, memiliki hak penuh atas dirinya. Tidak kah kau ingin mempertahankan nya sampai akhir?" tanya Erick mengeluarkan suara nya lagi, dan kini benar benar membuat Zefa terkejut.
Raihan? Suaminya? Tidak! Bahkan laki laki itu enggan mengakui anak yang ada di kandungan nya, lantas bagaimana bisa dirinya memiliki misi untuk bertahan dengan laki laki seperti itu, batin Zefa.
...~To be continue......
__ADS_1