Scandal Sang DUTA (Duda Tampan)

Scandal Sang DUTA (Duda Tampan)
Lapar


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Malam harinya, Zefa memilih untuk tidur di kamar nenek nya. Karena ia masih merasa kurang nyaman jika harus tidur satu ranjang dengan Raihan.


Meskipun mereka sudah menikah, bahkan sekarang dirinya sedang hamil. Namun tetap saja, ia masih merasa asing dan sedikit risi jika terlalu dekat dengan laki laki itu.


"Zefa!" panggil Raihan sambil terus mengetuk pintu kamar nenek Zefa.


Zefa beranjak dari tempat tidur nya dan berjalan menuju pintu, "Ada apa Mas?" tanya Zefa.


"Emmmtt itu," Raihan nampak sedikit ragu untuk berbicara.


Dia terlihat gugup dan juga sedikit canggung ketika harus berbicara atau meminta sesuatu kepada istrinya sendiri.


"Apa?" tanya Zefa lagi yang semakin bingung.


"Apakah tidak ada makanan disini?" tanya Raihan dengan cepat, seketika membuat Zefa langsung mengerjapkan matanya beberapa kali.

__ADS_1


Makanan? Apakah suaminya kelaparan? batin Zefa berfikir.


Tapi, jika di pikir, memang sejak pulang dari rumah sakit tadi, keduanya belum makan apapun. Dirinya tadi sempat sarapan di rumah sakit, namun Raihan? Ia tidak tau apakah laki laki itu sudah sarapan.


Sedangkan kini, jam sudah malam dan keduanya belum ada yang keluar dari rumah, apalagi Zefa yang belum membeli makanan apapun.


Jika di rumah Raihan, pasti selalu ada pembantu yang memasak makanan, dan pasti Raihan selalu memiliki stok makanan melimpah di dapur nya.


Sedangkan Zefa? Rumah nya sudah kosong selama dua bulan, dan tentu saja ia tidak memiliki persediaan makanan apapun.


"Mas mau makan apa?" tanya Zefa setelah menghilangkan keterkejutan nya.


"Di depan jalan sana ada tukang jualan makanan, mau coba makan di sana?" tanya Zefa pelan, ia takut jika Raihan menolak dan tidak menyukai makanan pinggir jalan.


Namun ternyata, Raihan justru langsung menganggukkan kepala nya dengan cepat, "Tapi kamu ganti pakaian kamu, jangan begini!" ucap Raihan seraya melirik penampilan Zefa dari atas sampai bawah.


Seketika itu juga, Zefa seolah baru tersadar bahwa sejak tadi dirinya hanya mengenakan sebuah daster milik nenek nya.

__ADS_1


Entahlah, setelah ia mengetahui bahwa dirinya hamil, ia mengurangi pakaian pakaian ketat. Dan ketika ia membersihkan lemari nenek, ia menemukan sebuah daster yang pas untuk tubuh nya. Jadilah Zefa mencoba nya dan ternyata nyaman sampai membuatnya keterusan memakai.


Setelah beberapa saat, Zefa sudah mengganti pakaian, ia segera mengajak Raihan untuk berjalan kaki saja menuju tempat tersebut.


Jarak nya tidak terlalu jauh, namun juga tidak terlalu dekat. Jika menggunakan mobil, Zefa bisa menebak bahwa di sana tidak akan ada lahan untuk parkir. Maka dari itu ia mengajak jalan kaki saja yang tidak perlu memikirkan tempat parkiran.


"Apakah masih jauh?" tanya Raihan sambil terus mengamati setiap pinggiran jalan, mencari sebuah ruko atau rumah makan yang di maksud oleh Zefa, namun tak kunjung ia temui.


"Sedikit lagi," jawab Zefa sambil terus berjalan tanpa menatap Raihan.


"Sejak tadi kau selalu bilang begitu. Sedikit lagi nya kamu itu berapa sih?" tanya Raihan menghela napas nya kasar, "Kalau tahu sejauh ini, mending tadi bawa mobil, Zef!" keluh nya.


Ia bukan mengeluh karena dirinya capek. Tapi Raihan sedikit kesal dan mengeluh lantaran ia ingat dengan kandungan Zefa. Dan berjalan kaki sejauh ini, tentu saja ia khawatir jika Zefa kelelahan.


"Nah itu dia!" ucap Zefa langsung melebarkan senyuman nya saat ia melihat sebuah warung tenda makan yang berada tepat di dekat jembatan.


Berbeda dengan Zefa yang sangat antusias mempercepat langkah kaki nya agar segera sampai. Justru Raihan di buat terpaku dan terdiam di tempat nya, ketika Zefa justru malah memilih tempat makan yang seperti itu.

__ADS_1


...~To be continue .. ...


__ADS_2