
...~Happy Reading~...
“Rai, apa yang terjadi?” tanya papa Nathan saat melihat putra nya keluar dari ruangan Zefa, setelah beberapa dokter berlari panik untuk memasuki ruangan itu.
Tubuh Raihan lemas, ia bagai tak memiliki tulang lagi di dalam tubuh nya. Hingga kini membuat nya ambruk di lantai sambil bersandar di dinding. Ia mengusap wajah nya frustasi dan sesekali ia menjambak rambut nya.
Ekspresi wajah nya datar, namun air mata nya terus berderai seolah tidak ingin usai mengalirkan bulir bulir air mata dari dalam pelupuk matanya.
“Rai ... “ kini bergantian Jingga yang mendekati keponakan nya itu.
“D—dia pergi,” kata Raihan bergumam sambil tertawa getir.
Meskipun laki laki itu tertawa, namun semua orang tahu bahwa tawa itu adalah tawa yang paling menyakitkan dalam hidup seorang Raihan.
Cklek!
Pintu ruangan itu kembali terbuka, membuat beberapa orang yang di sana langsung menghampiri dokter karena Raihan belum bisa di berikan pertanyaan.
__ADS_1
Dan ternyata benar, dokter mengatakan bahwa Zefanya tidak bisa di selamatkan, membuat tawa Raihan semakin pecah dengan di sertai air mata dan sesekali teriakan frustasi.
“Jingga, istri ku pergi, hahaha!” ucap Raihan tiba tiba saat Jingga menghampiri nya, “Aku akan menduda lagi, bagaimana? Keren bukan?”
“Rai .... “ Jingga menggenggam tangan keponakan nya, air matanya ikut menetes saat melihat kehancuran di wajah Raihan.
Ini sangat berbeda dengan perpisahan Raihan dengan Alika dulu. Raihan juga sedih, namun saat perpisahan nya dengan Alika kala itu, ia tidak sampai meneteskan air mata.
Laki laki itu hanya bersedih dan pasrah, karena ia berencana akan membuat Alika kembali lagi. Sangat berbeda dengan sekarang, dimana saat ia tahu bahwa Zefanya meninggalkan dunia untuk selama lama nya.
Tentu saja, Raihan sangat hancur dan terluka. Ia tidak tahu lagi bagaimana harus mengekspresikan kesedihan nya saat ini. Karena secara tidak langsung memang kepergian Zefanya dan Alika karena satu orang yang paling berarti dalam hidup nya.
“Kenapa dia meninggalkan aku, di saat aku sudah mencintai nya. Kenapa dia meninggalkan ku dengan kedua bayi sekaligus, bagaimana aku akan menjaga nya tanpa Zefa hiks hiks.” Raihan menutup wajah nya di sela kedua kaki nya.
Tangisan nya semakin terdengar begitu memilukan, ia bahkan tidak perduli dengan tatapan tatapan orang orang yang melihat nya menangis seperti anak kecil. Ia merasa sudah tidak sanggup lagi untuk masuk ke dalam dan menemui jasad istrinya.
Terlalu sakit dan menyakitkan saat ia melihat tubuh Zefa yang kini sudah tak bernyawa lagi. Bayangan rasa bersalah nya terus mengganggu di pikiran nya, membuat nya begitu sulit untuk bisa menerima kenyataan.
__ADS_1
“Rai, kamu harus sabar, dan kamu juga harus kuat demi kedua anak kamu. Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan, tapi percayalah bahwa Tuhan tidak akan memberikan kita cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.”
“Rai, ikhlaskan Zefanya pergi. Biarkan dia istirahat dengan tenang, dan aku yakin, kelak kamu pasti bisa menjadi ayah dan ibu yang baik untuk anak anak kalian,” imbuh Jingga berusaha untuk menguatkan keponakan nya.
"Bagaimana bisa, Jingga? Mereka masih bayi, dan mereka pasti membutuhkan ibu nya. Kenapa Zefa harus pergi secepat ini hiks hiks."
"Rai, semua sudah Takdir. Dan aku yakin, Zefa pasti akan bahagia di sisi Nya." ujar Jingga masih terus berusaha menenangkan keponakan nya.
“Rai ... “ Suara seorang wanita yang terdengar dengan nafas sedikit memburu, membuat pembicaraan antara Raihan dan Jingga teralihkan.
Keduanya langsung mendongakkan kepala nya dan menatap pada seorang wanita paruh baya yang baru saja datang bersama seorang wanita yang tengah duduk di kursi roda.
"Kak Zarra... " gumam Jingga pelan, namun berbeda dengan Raihan yang langsung diam dan menghentikan tangisan nya.
“Lebih baik Papa pergi, bawa istri Papa pulang!” ucap Raihan dengan ekspresi wajah datar nya.
Ia segera bangkit dari tempat nya dan memilih untuk masuk ke dalam ruangan Zefanya. Setidaknya, untuk saat ini ia tidak mau bertemu dengan ibu nya, ia tidak mau bila sampai harus mengeluarkan kata kata yang menyakitkan untuk sang ibu.
__ADS_1
...~To be continue .......