
...~Happy Reading~...
“Seharusnya kamu sadar diri Zefa, Siapa kamu dan siapa raihan. Jujur saja, selama ini aku tidak pernah memandang siapapun itu rendah. Tapi saat aku bertemu dengan kamu yang sudah memanfaatkan anak ku, aku benar benar tida habis pikir, bahwa ada perempuan yang seperti kamu!”
“Apa kamu tahu, aku yang sudah melahirkan Raihan, menyusui nya dan membesarkan nya dengan sepenuh hati. Sejak kecil dia sudah terbiasa hidup serba ada dan mewah, dan sekarang kamu ajak dia tinggal di tempat seperti ini.”
“Aku benar benar tidak menyangka, jika anak ku bisa sebodoh itu mau menuruti kemauan perempuan seperti kamu!”
Bayangan demi bayangan kata kata yang di ucapkan oleh mama mertua nya, masih begitu terngiang di kepala Zefa. Membuat wanita itu merasa begitu sakit dan hancur dalam sekejap.
Cklek!
Pintu yang tadi sudah ia tutup, kini akhirnya kembali terbuka. Menampilkan sosok laki laki yang selama beberapa bulan ini memberikan nya warna baru dalam hidup.
Namun, laki laki itu juga yang sudah membuat nya amat teramat kecewa.
Mengapa Raihan tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mama Zarra.
__ADS_1
Andai saja, Raihan menjelaskan semuanya kepada mama Zarra, mungkin tadi mama Zarra tidak akan datang dan mencaci maki dirinya,
Pasti, mama Zarra bisa menerima kehamilan nya, mungkin. Tapi setidaknya, ada beberapa persen kemungkinan mama Zarra menerima nya, jika tahu bahwa Raihan tidak benar mandul dan berhasil menghamili Zeffa.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Raihan, menatap lekat wajah cantik istrinya yang kini terlihat sedikit pucat.
Raihan meletakkan tas kerja nya di meja, ia duduk berjongkok di depan Zefa yang sejak tadi terus menatap nya intens.
Dengan masih memakai bathrobe, Raihan yakin, bahwa tadi istrinya baru selesai mandi. Namun, mengapa Zefa tidak lekas memakai baju? Bahkan, rambut nya masih basah di dalam handuk.
“Mama?” Dahi raihan langsung berkerut, ia masih belum mengerti kemana arah pembicaraan Zefa saat ini.
“Tadi mama kesini,” imbuh Zefa dengan sedikit tersenyum paksa, namun air matanya semakin deras mengalir.
Seketika itu jga, raihan seolah tersadar kemana arah tujuan Zefa berbicara. Jujur, ia sangat terkejut melihat istrinya yang kembali menangis setelah sekian lama.
Ya, setelah beberapa bulan terakhir Raihan melihat Zefa menangis, karena kepergian sang nenek. Kini akhirnya Zefa menangis lagi dan itu karena ulah mama nya. Padahal, raihan sudah meminta tolong kepada mama nya agar tidak agi menemui Zefa.
__ADS_1
Sengaja atau tidak sengaja, raihan sudah meminta tolong agar mama nya berpura pura tidak mengenal istrinya. Namun apa ini, mama nya itu justru malah datang ke rumah Zefa dan mungkin mengeluarkan kata kata yang menyakitkan.
“Apa yang Mama katakan? Tolong, jangan pikirkan apapun,” ucap Raihan sedikit panik sambil menghapus air mata Zefa.
“Kenapa Mas tidak jujur sama Mama kalau Mas itu normal. Kenapa mas masih menyembunyikan itu dari mama?” tanya Zefa dengan sekuat tenaga nya menahan diri.
Deg!
Seketika itu juga, Raihan langsung terdiam. Ia masih terus menatap wajah Zefa, hingga saat tiba tiba wanita itu memukul dada nya sendiri, membuat Raihan berusaha langsung menghentikan aksi tersebut.
“Aku sudah terbiasa mendapatkan hinaan dan cacian sejak dulu, bahkan sejak aku kecil. Tapi kenapa rasanya masih begitu sakit hiks hiks hiks.” Tangis Zefa langsung pecah seketika, membuat Raihan dengan cepat langsung memeluk tubuh itu erat.
“Sayang, tolong jangan pikirkan apapun. Ingat kandungan kamu, ingat anak anak kita. Zefa, aku mohon, tenang dulu,” ucap raihan berusaha sekuat mungkin untuk menenangkan istrinya, hingga tiba tiba tangisan Zefa terhenti dalam sekejap.
Raihan melepaskan pelukan nya, ia kembali menatap wajah Zefa yang kini terlihat jauh semakin pucat, bahkan raut wajah nya, wanita itu seperti sedang menahan sesuatu.
...~To be continue .......
__ADS_1