
...~Happy Reading~...
Tok ... tok ... tok ...
Baru saja Zefa keluar dari kamar mandi, ia sudah mendengar suara ketukan pintu dari luar. Untuk sesaat ia berfikir sambil menatap pada jam dinding yang berada di ruang tamu.
‘Apakah mas Raihan pulang cepat?’ gumam Zefa dalam hati nya,.
Tanpa berlama lama, ia pun segera berjalan menghampiri pintu sambil memegang perut bawah nya. Ya, sejak kandungan Zefa semakin besar, ia semakin kurang bisa bergerak bebas.
Bahkan, untuk berjalan saja, ia tidak bisa cepat. Dan pasti perut bawah nya akan mengalami kram jika tidak di pegang.
“Iya Mas, sebentar!” jawab Zefa semakin mempercepat langkah kaki nya.
Cklek!
Deg!
__ADS_1
Seketika itu juga, tubuh Zefa langsung mematung saat melihat seorang wanita paruh baya yang kini berdiri tepat di depan pintu rumah nya.
“M—Mama ... “ gumam Zefa pelan bahkan hampir tak terdengar.
Tak berbeda dengan Zefa yang langsung terdiam, mama Zarra pun juga ikut terdiam sambil mengamati tubuh Zefa dari ujung kepala hingga kaki. Dan kini, matanya kembali terfokus pada perut Zefa yang begitu besar.
“Ma, mas Raihan belum pulang, dan—“
“Aku ingin bicara sama kamu!” ucap mama Zarra dengan cepat memotong pembicaraan Zefa.
Dan tanpa permisi, mama Zarra langsung masuk begitu saja ke dalam rumah Zefa, karena sejujurnya ia sudah sangat risi sejak tadi di lihat oleh para tetangga Zefa yang sedang merumpi di depan rumah.
“Mama mau minum apa?” tanya Zefa berusaha bersikap se sopan mungkin saat melihat mama mertua nya tengah duduk di sofa.
“Memang nya kamu punya apa?” tanya mama Zara kini menatap Zefa dengan tatapan sedikit sinis, “Aku tidak ingin berlama lama disini, duduk lah!”
Zefa menganggukkan kepala nya, lalu ia mendudukkan diri tepat di seberang mama Zarra. Menarik napas panjang, ia meremas kedua tangan nya pada ujung Bathrobe yang ia kenakan, jantung nya berdetak dengan ksncang, dengan perasaan yang sangat sulit untuk di jelaskan.
__ADS_1
“Siapa ayah dari bayi mu?” tanya mama Zarra langsung pada inti nya, tanpa berniat untuk basa basi.
“A—ayah?” gumam Zefa terbata karena tidak menyangka bahwa mama mertua nya masih meragukan anak yang dia kandung.
Apakah Raihan belum menjelaskan kepada mama nya, bahwa kesehatan dirinya sudah di palsukan oleh Alika? Apakah Raihan belum mengatakan kepada sang mama, bahwa dirinya sudah melakukan banyak tes untuk membuktikan kesuburan nya. Lantas mengapa mama Zarra masih meragukan anak yang dia kandung. Batin Zeffa bertanya tanya dalam hatinya.
“Iya, siapa ayah nya? Ckckck, ku pikir kamu benar perempuan baik baik. Atau jangan jangan, skandal mu waktu itu, sengaja kau rekam dan sebarkan, agar Raihan mau bertanggung jawab.”
“Atau janan jangan, sebelum nya kamu sudah hamil, dan menjebak Raihan? Hahaha bodoh nya aku sampai memaksa anak ku sendiri untuk bertanggung jawab.” Imbuh mama zarra begitu menusuk relung hati Zefa.
“Tapi ini memang anak mas Raihan, Ma!” balas Zefa dengan berani.
“Apa kau pikir aku ini bodoh! Aku tahu jelas kekurangan anak ku. Jadi kamu tidak bisa membohongi ku!” seru mama Zarra semakin terlihat marah, “Baru berapa bulan kamu menikah dengan anak ku, dan kamu lihat seberapa besar kehamilan kamu. Ini semakin membuktikan bahwa kamu memang sudah hamil lebih dulu sebelum tidur dengan anak ku!”
Zefa hanya bisa menggelengkan kepala nya, tanpa terasa air mata nya sudah mengalir dengan begitu deras, membasahi wajah nya.
Hatinya begitu sakit dan dada nya begitu sesak saat mendengar tuduhan mama mertua nya yang begitu menyakitkan.
__ADS_1
...~To be continue .......