
...~Happy Reading~...
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, kini mobil yang di tumpangi papa Nathan sudah tiba di rumah sakit. Tak hanya Nathan yang datang, namun Langit dan Jingga pun juga ikut datang karena khawatir dengan keadaan Zefa.
"Rai, bagaimana keadaan istri kamu?" tanya Jingga saat melihat keberadaan Raihan yang sedang menangis di depan ruang UGD.
"Zefa baik baik saja kan, Rai?" imbuh papa Nathan yang juga khawatir.
"Rai masih belum tau Pa," jawab Raihan sambil menundukkan kepala nya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah kandungan Zefa baru menginjak tujuh bulan?" tanya Jingga penasaran.
Pasal nya, tadi ia mendapatkan kabar dari putra nya, Angkasa yang dia juga dapat kabar dari Willy.
Namun, saat Jingga tiba di rumah sakit, justru Willy tidak ada di sana.
"Aku juga gak tau. Tapi sepertinya tadi Mama datang ke rumah Zefa dan mungkin mereka sedikit berdebat," jawab Raihan sedikit ragu, karena memang dirinya juga belum tahu pasti apa yang terjadi.
"Ngapain kak Zarra datang ke sana?" tanya Jingga lagi.
"Lebih baik kamu tanyakan sama kakak kamu. Dia ada di rumah," jawab Nathan dengan raut ekspresi wajah datar nya.
"Kakak itu suami nya, emang kamu gak nanyain tadi? Kenapa juga dia gak kesini?" ucap Jingga sedikit mendengus tidak mengerti dengan kakak ipar nya.
__ADS_1
"Lagian aneh banget sih Rai, mama kamu itu. Heran, gak punya cucu ngebet banget pengen cucu. Giliran di kasih, malah banyak tingkah! Ckckck definisi orang gak ada rasa syukur nya!" cibir Jingga semakin berdecak kala mengingat sifat kakak nya.
Cklek!
Mendengar suara pintu yang terbuka, seketika membuat perdebatan mereka terhenti. Dengan cepat, Raihan segera menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan istri dan anak anak nya
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?"
"Kedua bayi Anda sudah lahir dengan selamat. Keduanya normal dan tanpa kurang satu apapun, hanya saja keadaan istri Anda sedikit lemah dan kritis," tutur dokter tersebut dengan sedikit menundukkan kepala.
"Apakah saya boleh melihatnya?" tanya Raihan yang sudah tak mampu lagi menahan air mata nya.
Dokter itupun menganggukkan kepala dan mempersilahkan Raihan untuk masuk. Karena dirinya keluar memang hanya ingin memanggil suami pasien, atas permintaan pasien sendiri.
Langkah kakinya berubah menjadi pelan. Hatinya sakit dan terasa begitu sesak, saat melihat senyuman manis yang terukir indah di wajah istrinya.
Wajah yang biasanya ceria dan berseri, kini berubah menjadi sayu dan sangat pucat. Tangan Raihan sedikit bergetar saat hendak mengusap wajah istrinya.
"Mas... " Zefa bergumam dengan begitu lirih, tak lupa ia selalu tersenyum di tengah rasa sakit nya.
"Hemm," jawab Raihan yang tak mampu mengeluarkan kata kata nya lagi.
"A—aku berhasil,... "
__ADS_1
Raihan segera menganggukkan kepala nya, lalu ia mengecup kening Zefa dengan begitu lembut. Kecupan yang awalnya hanya di kening, kini turun ke mata, hidung dan berakhir pada bibir pucat Zefa.
"Kamu berhasil, hiks hiks. Iya, kamu berhasil Sayang, terimakasih," gumam Raihan terisak dan kini ia memeluk istrinya dengan begitu erat.
"Mas... "
Raihan kembali melepaskan pelukan nya, ia menatap kembali wajah sang istri yang masih tersenyum.
"A—aku... " Zefa memejamkan matanya, seolah sedang berjuang sekuat tenaga untuk mengeluarkan suara.
"A—aku tidak pernah berbohong, a—aku bukan wanita murahan. Dan a—aku hanya melakukan itu dengan kamu."
"M—mereka sangat mirip dengan kamu, mereka anak anak kamu," imbuh Zefa memejamkan matanya erat dengan nafas yang mulai terengah.
"Iya Sayang, kamu memang tidak pernah berbohong. Maafkan aku, maafkan Mama, maafkan kami yang pernah menyakiti kamu," ucap Raihan menggenggam tangan Zefa erat.
Lagi dan lagi, Zefa tersenyum, ia mengulurkan tangan nya untuk mengusap wajah mulus suaminya.
"Do you love me?"
...~To be continue... ...
...Maaf ya, kalau Mommy jarang update. Mommy bener2 belum bisa update rutin.. InsyaAllah, awal bulan puasa Mommy akan coba untuk aktif lagi. ...
__ADS_1
...Sekali lagi, maaf ya 🙏🙏🙏...