
...~Happy Reading~...
“Apa yang sudah kamu lakukan?” tanya Nathan langsung pada intinya.
“Melakukan apa? Memang nya apa yang sudah aku lakukan?” Zarra menggelengkan kepala karena tidak mengerti dengan pertanyaan yang suaminya berikan.
Ia memilih mengabaikan nya dan berjalan menuju walk in closed nya untuk berganti pakaian.
Namun, baru saja dirinya meletakkan tas nya di meja, tiba tiba tangan nya sudah di tarik cukup kasar oleh Nathan.
“Papa, kamu ini apa apaan sih!” pekik Zarra tidak suka dan langsung menepis tangan Nathan tak kalah kasar.
“Aku tanya sekali lagi, apa yang sudah kamu lakukan!” seru Nathan yang sudah mulai habis kesabaran nya, akibat sang istri yang selalu bersikap semaunya, “Apa kamu tahu, bahwa akibat ulah kamu, Zefa masuk rumah sakit!”
“Oh karena dia,” seketika itu juga Zarra langsung berdecak dengan begitu malas, “Biarkan saja, memang nya kenapa kalau dia masuk rumah sakit?”
“Zarra!” bentak Nathan hingga membuat Zarra langsung menatap nya.
__ADS_1
Mungkin, ini adalah pertama kalinya dia dan Nathan bertengkar separah ini, sampai membuat Nathan harus membentak nya. Padahal, selama ini, Nathan adalah sosok suami dan ayah yang begtu lembut penyayang namun tegas.
“Aku gak ngerti, dimana akal pikiran kamu itu, dimana!” imbh Nathan langsung mengusap wajah nya kasar.
“Apa yang sudah ku lakukan? Kenapa kamu terus membela perempuan itu hah! Dan juga, memang nya kenapa kalau dia ada di rumah sakit? Bukan salah ku, itu salah dia sendiri karena terlalu lemah. Itu salah dia sendiri karena sudah menghancurkan anak kita!” ucap Zarra dengan nada bicara yang terlihat marah.
“Ahh atau jangan jangan, anak yang di kandung perempuan itu anak kamu?” tuduh Zarra seketika membuat mata Nathan langsung membola dengan sempurna, “Raihan tidak mungkin menjadi ayah anak itu, dan kamu membela nya sampai membentak ku, bisa jadi kalau—“
Plaaakkk!!!!
“Pa—“ Zarra kembali menatap Nathan, ia tidak menyangka bahwa suaminya bisa sampai menampar nya seperti itu.
“Asal kamu tahu, anak kamu normal. Alika lah yang bermasalah! Alika yang sudah memalsukan hasil pemeriksaan mereka. Jadi wajar jika Zefa bisa hamil, karena dia perempuan sehat dan normal. Tidak seperti Alika yang cacat dan licik!” ucap Nathan dengan napas yang memburu hebat.
Rahang nya mengeras dengan tangan yang terkepal kuat. Tidak ada penyesalan sama sekali dalam benak nya karena sudah membentak bahkan menampar istri nya. Nathan berfikir, bahwa Zarra memang pantas mendapatkan hal itu.
“Apakah benar, kamu itu seorang dokter? Bahkan sekarang aku meragukan mu Zarra.” Wanita itu kembali mendongakkan kepala nya untuk menatap suaminya.
__ADS_1
Se marah marahnya, Nathan padanya. Laki alki itu akan tetap memanggil nya sayang atau Mama. Namun kini,laki alki itu bahkan sampai menyebut namanya langsung.
“Kamu begitu lembut kepada para pasien kamu. Tapi kamu tidak bisa memperlakukan menantu mu sendiri dengan baik. Bahkan—“
“Aku sudah mengurus Alika!” saut Zarra dengan raut wajah datar nya.
“Alika bukan menantu mu lagi. Alika hanya anak dari sahabat kamu, menantu kamu itu Zefa. Orang yang akan memberikan mu cucu, orang yang akan menemani hidup anak kamu, dan dia adalah orang yang paling kamu sakiti, bahkan hampir kamu bunuh!” ucap Nathan penuh penekanan, hingga membuat Zarra kembali terdiam.
“Jika sampai terjadi sesuatu kepada Zefa, dan benar itu adalah ulah kamu. Maka bersiaplah, bukan hanya kedua cucu mu dan anak anak mu yang akan pergi meninggalkan mu, tapi juga AKU.” Imbuh Nathan lalu ia segera menyambar kunci mobil nya dan bergegas pergi.
“Papa! Pa, tunggu dulu! Nathaaannn!” pekik Zarra berusaha mengejar suami nya sambil berlari, namun laki laki itu seolah tulis dan memilih mengabaikan istrinya.
Sementara itu, dari sudut ruangan, Willy yang sejak tadi mendengar pertengkaran kedua orang tuanya hanya bisa terdiam dengan perasaan yang sangat kacau.
Bohong jika ia tidak kecewa dengan mama nya, namun ia juga kasihan kepada mama nya yang begitu hancur karena di tinggalkan oleh papa nya.
...~To be continue .......
__ADS_1