Scandal Sang DUTA (Duda Tampan)

Scandal Sang DUTA (Duda Tampan)
Warung tenda


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Zef, kamu yakin mau makan disini?" tanya Raihan sedikit pelan saat istrinya sudah memilih tempat duduk.


Zefa pun langsung menganggukkan kepala nya dengan cepat, "Sangat yakin, dulu aku sama nenek suka banget makan disini. Enak dan murah," kata Zefa tersenyum saat mengingat kebersamaan nya dengan sang nenek.


"Tapi—"


"Gapapa Mas, gak akan mati keracunan kok. InsyaAllah disini bersih, dan di jamin enak di lidah ku sih," imbuh Zefa terkekeh.


Deg!


Raihan melihat senyuman dan kekehan Zefa, seketika membuat jantung nya berdetak begitu cepat. Selama ini, ia hanya melihat Zefa tersenyum palsu.


Senyuman nya kali ini sangat berbeda dengan hari hari biasa yang sering ia lihat. Kali ini, senyuman Zefa terlihat begitu lepas dan seolah tanpa beban sama sekali.

__ADS_1


Hati Raihan menghangat, ia menyukai Zefa seperti sekarang ini. Dan mungkin dirinya akan selalu candu melihat senyuman dan tawa lepas Zefa yang seperti ini, namun bagaimana caranya? Apakah ia bisa membuat Zefa selalu tersenyum dan tertawa seperti itu? batin Raihan sambil terus menatap wajah Zefa.


"Eh neng Zefa, udah lama banget gak dateng," sapa abang penjual yang menghampiri Zefa.


"Hehehe iya Bang, nenek masuk rumah sakit. Jadi jarang kesini," jawab Zefa kembali tersenyum.


"Rumah sakit? Kenapa? Pantas saja gak pernah kelihatan, padahal biasanya si nenek lewat sini kalau sore pas baru buka," ucap si abang penjual.


"Sayang, kamu mau pesan apa? Bukankah tadi kamu bilang sangat lapar?" tanya Raihan sengaja menekankan kata sayang, hingga membuat keduanya langsung berhenti berbicara.


Bukan hanya si abang penjual yang terkejut dengan keberadaan Raihan, namun Zefa juga sangat terkejut saat mendengar Raihan memanggil nya dengan sebutan sayang.


"K—kamu mau makan apa Mas?" tanya Zefa yang mendadak menjadi gugup setiap mengingat sebutan panggilan dari Raihan untuk nya.


"Disini ada apa aja? Sayang, kamu saja yang memilih, aku ikut sama kemauan kamu saja," jawab Raihan dengan sengaja, lalu ia merebahkan kepala nya di bahu Zefa yang membuat wanita itu justru semakin di landa kegugupan.

__ADS_1


Raihan sengaja melakukan itu, karena ia tidak menyukai Zefa yang begitu akrab dengan abang penjual makanan. Entahlah, Raihan sendiri juga tidak mengerti mengapa dirinya kesal.


Namun satu hal yang ia tahu, sekarang, dirinya sangat bahagia karena bisa menyandarkan kepala di bahu Zefa, dan melihat wajah pias terkejut dari abang penjual makanan.


"Oh maaf Zefa, jadi mau pesan apa?" tanya abang penjual namun matanya terus melirik ke arah Raihan yang nampak begitu manja kepada Zefa.


Menarik napas nya panjang, Zefa mulai menyebutkan makanan yang ia pesan satu persatu. Ia memilih masing masing menu sebanyak dua porsi.


Seperti memanfaatkan kesempatan, tentu saja selagi ada suami nya yang akan membayar, jadilah Zefa memesan hampir semua menu di sana.


Zefa memang sangat berhemat dan bahkan sangat irit dulu. Pernah suatu ketika, ia hanya memegang uang dua puluh ribu saja, dan ia hanya bisa membeli dua bungkus nasi serta lauk tahu dan tempe goreng, serta Zefa meminta bonus sambal yang banyak agar bisa cukup untuk nya makan bersama nenek.


Memang sepahit itu hidupnya dulu, terlebih ketika nenek nya mulai sakit sakitan, ia harus membeli obat dan segala keperluan sang nenek. Hingga pada akhirnya sang nenek harus opname karena jatuh dan tak sadarkan diri sampai koma hingga saat ini.


"Mas jangan begini, malu di lihatin orang!" bisik Zefa berusaha menyingkirkan kepala Raihan dari bahu nya.

__ADS_1


"Malu sama siapa? Kita sudah menikah!" kata Raihan yang masih tetap bertahan di posisi ternyaman nya.


...~To be continue... ...


__ADS_2