
"Lepaskan aku, Mas. Aku gak mau pulang!" teriak Melisa, saat tangannya ditarik kasar lalu di paksa untuk masuk ke dalam mobil.
"Kita selesaikan masalah ini di rumah. Ingat ya, Mel. Mas tidak akan pernah menceraikan kamu," jawab Darius membuka pintu mobil dan memaksa istrinya untuk masuk ke dalam sana.
Melisa di dorong untuk memasuki mobil tersebut. Teriakannya diabaikan, tubuhnya disungkur'kan begitu saja ke dalam mobil. Air mata yang semula dia tahan sedemikian rupa kini tumpah dan membanjiri wajah cantiknya.
Grep!
Bruk!
Tubuh Darius tiba-tiba saja di cengkram kuat, satu pukulan pun mendarat di wajahnya. Siapa lagi yang berani melakukannya jika bulan Mahesa sang kakak. Wajah laki-laki itu nampak memerah penuh dengan amarah. Melisa menggunakan kesempatan itu untuk keluar dari dalam mobil selagi suaminya tersungkur di atas tanah.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri. Kasar sekali kamu sama istri kamu sendiri, hah? Kamu yang berselingkuh malah kamu yang marah, dasar manusia tidak bermoral!" teriak Mahesa murka.
"Kak Mahesa? Sedang apa kaka di sini? Apa jangan-jangan istri saya ke sini bersama kakak?" tanya Darius, berusaha untuk bangkit dan berdiri tegak.
"Iya, saya ke sini bersama istri kamu. Jika memang kamu sudah punya wanita lain, kenapa kamu tidak melepaskan dia?"
"Melepaskan dia? Tidak, aku tidak akan pernah melakukannya. Kaka sudah menolak untuk menikahi Melisa, dan sekarang kakak menyuruh aku untuk melepaskan dia? Jangan pernah bermimpi Kak Mahesa."
"Dasar laki-laki bejad, saya malu punya adik seperti kamu, Darius."
Plak!
Bruk!
Perkelahian antar saudara pun tidak terhindarkan lagi. Darius tidak diam saja tentunya, dia menepis dan membalas pukulan kakaknya itu. Keduanya benar-benar berduel, saling memukul dan menendang tidak ada satupun yang mau mengalah.
"Kamu laki-laki bejad, tidak punya perasaan!" teriak Mahesa, satu pukulan pun berhasil dia daratkan di wajah Darius, darah segar seketika mengalir dari hidung sang adik.
"Jangan pernah ikut campur dengan urusan rumah tangga aku, Kak Mahesa!" Darius melayangkan tangannya ke udara, hendak membalas pukulan sang kaka. Namun, Melisa seketika berteriak kencang mencoba untuk melerai perkelahian.
"Stop, apa yang kalian lakukan?" teriak Melisa memekikkan telinga.
__ADS_1
Baik Darius maupun Mahesa sontak menghentikan gerakan tangan masing-masing. Keduanya menoleh dan menatap wajah Melisa dengan napas yang terengah-engah juga bola mata yang memerah berada di puncak amarah.
Melisa menghampiri keduanya. Dia berdiri tepat di tengah-tengah mereka. Wanita itu pun menatap suami juga kakak iparnya secara bergantian.
"Hentikan, apa kalian tidak malu berkelahi di sini, hah?" teriak Melisa merasa murka.
"Jadi kamu ke sini sama kakak saya?" tanya Darius terbakar api cemburu.
"Iya, aku ke sini sama kakak kamu, kami tidak sengaja bertemu. Memangnya kenapa? Kamu cemburu?"
"Tentu saja Mas cemburu. Mas suami kamu, Melisa."
"Lalu dia siapa? Wanita itu siapa? Mas cemburu melihat aku dengan laki-laki lain sementara Mas sendirian selingkuh dengan wanita murahan itu? Egois kamu Mas."
"Kamu sudah berani melawan saya?"
"Selama ini aku menghormati Mas sebagai suami aku? Aku menghormat Mas sebagai imam aku, tapi sekarang tidak lagi. Aku gak akan melarang Mas dengan wanita itu, aku juga tidak akan meminta Mas untuk memilih satu di antara kami, silahkan Mas teruskan hubungan Mas sama dia dan ceraikan aku!" teriak Melisa panjang lebar.
Darius tentu saja merasa terpana. Selama ini istrinya itu adalah wanita yang penurut dan juga lembut. Dia tidak pernah sekalipun membantah apa yang dia katakan. Namun, Melisa yang saat ini berada dihadapannya terlihat sangat berbeda, wanita ini seperti sedang memuntahkan amarah yang selama ini sudah dia tahan.
"Diam kamu, kak. Jangan ikut campur dengan urusan rumah tangga saya, dan kamu Melisa kita pulang sekarang juga. Sampai kapan pun Mas tidak akan pernah menceraikan kamu, paham?" ketus Darius, meraih kasar pergelangan tangan istrinya dan hendak menariknya ke dalam mobil.
"Lepaskan aku, Mas. Jangan berani menyentuh tubuhku lagi, aku jijik sama kamu, Mas Darius."
Plak!
Satu tamparan pun mendarat di rahang Darius. Melisa benar-benar memuntahkan kekesalan yang selama ini dia tahan. Dia bahkan dengan begitu beraninya menampar wajah suaminya keras dan bertenaga tanpa rasa sungkan.
"Argh! Berani kamu menampar saya suami kamu, hah?"
Darius melayangkan pergelangan tangannya hendak membalas, tapi segera di tahan oleh Mahesa tentu saja.
"Hentikan, jangan berani-beraninya kamu menyentuh Melisa, Darius," tegasnya penuh penekanan.
__ADS_1
"Jadi kaka yang telah merubah istri saya menjadi istri yang pembangkang, bahkan berani menampar suaminya sendiri? Apa diam-diam kalian sering bertemu di belakangku?" teriak Darius membuat nyali Melisa seketika menciut.
Akan tetapi tidak dengan Mahesa, dia tersenyum menyeringai penuh ejekan. Tentu saja, perangainya itu dapat dengan mudah di tebak oleh Darius bahwa apa yang dia tuduhkan adalah sebuah kenyataan.
"Jadi benar? Kalian diam-diam bermain di belakangku? Astaga, Melisa!"
"Apa bedanya dengan kamu yang selingkuh dengan wanita murahan itu? kalian bahkan sampai memiliki seorang putri," jawab Mahesa penuh penekanan.
"Kita pulang Melisa," ketus Darius lagi masih bersikukuh, menarik pergelangan tangan istrinya kasar.
"Tidak, saya tidak akan membiarkan dia pulang dengan kamu. Melisa datang kemari dengan saya, dan dia akan pulang bersama saya juga." Tegas Mahesa, menarik pergelangan tangan kanan Melisa.
Kedua tangan Melisa di tarik kasar ke arah yang berlawanan oleh Mahesa dan juga suaminya. Tentu saja wanita itu sontak meringis kesakitan. Dia pun menepis telapak tangan kedua laki-laki itu secara kasar.
"Hentikan, aku tidak akan pulang dengan siapapun, aku akan pulang sendiri," ketus Melisa, dia berlari ke arah jalanan dan seketika menghentikan taksi yang kebetulan melintas di sana.
Wanita itu pun segera masuk ke dalam taksi tersebut. Baik Mahesa maupun Darius mencoba untuk mengejar dan menghentikan laju mobil. Namun, usaha mereka tentu saja sia-sia karena taksi tersebut melesat begitu saja meninggalkan mereka berdua.
"Melisa!" teriak Mahesa.
Keduanya pun berdiri tepat di tepi jalan. Mereka menatap taksi yang melesat meninggalkan tempat itu hanya dalam hitungan detik saja. Mahesa mengepalkan kedua tangannya. Dia pun menoleh dan menatap wajah sang adik dengan tatapan tajam.
Grep!
Mahesa mencengkram kuat kerah pakaian yang dikenakan oleh Darius. Bola matanya nampak memerah menatap tajam wajah adik kandungnya itu. Rahangnya pun mengeras benar-benar berada di puncak amarahnya.
"Dengarkan saya, Darius. Saya pastikan akan merebut Melisa dari kamu. Saya pikir kamu bisa membahagiakan dia, tapi ternyata saya salah. Kamu selalu saja menyakiti istri kamu yang lembut itu," ketus Mahesa penuh dendam.
"Lakukan saja kalau memang kaka bisa. Bukankah kaka itu laki-laki yang tidak normal, alias penyuka sesama jenis?"
"Hahahaha! Kata siapa saya penyuka sesama jenis? Apa kamu tahu kalau saya pernah tidur dengan Melisa istri kamu?"
Darius seketika mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...