
Melisa membuka kedua matanya. Suasana rumah sudah mulai gelap, dia pun menatap sekeliling mencari keberadaan Mahesa sang Kakak ipar. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Melisa berharap bahwa laki-laki itu masih berada di sana, tapi harapannya tentu saja sia-sia karena nyatanya dirinya hanya sendirian di rumah itu.
Tanpa terasa buliran bening jatuh begitu saja dari sudut matanya kini. Apakah kejadian semalam itu hanyalah mimpi? Melisa mengusap perban di punggungnya. Lukanya benar-benar masih utuh di balut dengan perban berwarna putih, itu artinya yang dia lewatkan semalam bukanlah mimpi. Malam yang indah yang tidak akan dia lupakan, malam yang membuatnya merasakan bahagianya diperlakukan spesial bak ratu, tapi entah mengapa menyisakan luka di relung hatinya kini.
Luka? Ya ... Apa yang terjadi semalaman menyisakan luka yang menganga di relung hati seorang Melisa. Tanpa sadar, rasa cinta memenuhi hatinya kini. Cinta yang tidak akan pernah bisa dia gapai, cinta yang mustahil dia raih, cinta terlarang yang tidak boleh dia harapkan.
Ceklek!
Pintu kamar tiba-tiba saja di buka. Melisa hampir saja menyebut nama Mahesa, tapi dia segera menahan ucapnya di tenggorokan. Darius suaminya sudah kembali setelah meeting di luar kota. Dia masuk ke dalam kamar dengan wajah datar.
"Mas Darius? Kapan Mas pulang?" tanya Melisa, mengusap wajahnya kasar lalu duduk di atas ranjang.
"Mas baru saja pulang, tidur kamu nyenyak sekali sampai-sampai kamu tidak sadar dengan kedatangannya Mas."
Melisa hanya tersenyum getir. Lagi-lagi dia mengusap wajahnya kasar, entah mengapa bayangan wajah Mahesa memenuhi otaknya kini. Laki-laki itu benar-benar telah menguasai hati, jiwa, perasaan bahkan otaknya meskipun suaminya tengah berada di sisinya.
"Gimana keadaan kamu? Sudah baikan?" tanya Darius duduk di tepi ranjang.
"Iya, aku sudah baik-baik saja, Mas."
"Luka di punggung kamu?"
Darius hendak membuka pakaian istrinya guna memeriksa luka di punggung Melisa. Tentu saja, wanita itu seketika kelabakan juga merasa gugup karena luka tersebut sudah di balut dengan perban oleh Mahesa sang kaka ipar. Dia pun memundurkan tubuhnya tanpa sadar.
"Kenapa? Mas hanya ingin melihat luka kamu?" tanya Darius seketika merasa heran.
"Lukaku sudah baik-baik saja Mas. Tak perlu di lihat."
Darius seketika menarik pakaian istrinya kasar, pakaian tidur istrinya itu hampir saja robek dibuatnya. Dia menyibakkan-nya kasar hingga punggung sang istri benar-benar terbuka nyata di depan matanya kini.
"Ini? Ko sudah di perban? Apa kamu sengaja pergi ke Dokter?" tanya Darius mengusap permukaan perban tersebut.
"I-iya, Mas. Rasanya sakit sekali, makannya aku segera ke Dokter. Aku juga demam karena luka ini." Terbata-bata Melisa mencoba untuk menjelaskan, tentu saja penjelasannya hanya sebuah kebohongan besar.
Sepertinya, Darius percaya begitu saja dengan apa yang dia ucapkan. Terbukti, laki-laki itu tidak mengatakan apapun lagi, dia seketika mengecup leher Melisa mesra. Sontak saja, hal itu membuatnya memejamkan kedua mata. Bukan karena dirinya merasa terangsang, tapi entah mengapa dia sama sekali tidak ada hasrat untuk melakukan hubungan suami istri dengan suaminya sendiri.
"Aku masih tidak enak badan, Mas. Bi-bisakah kita tidak melakukannya se-sekarang?" Pinta Melisa dengan nada suara berat juga terbata-bata.
__ADS_1
"Apa? Kamu berani menolak suami kamu? Dasar gak guna, enak saja kamu menolak keinginan saya!"
Bruk!
Darius menghempaskan tubuh istrinya kasar hingga Melisa dalam keadaan tertelungkup di atas ranjang. Seketika itu juga, laki-laki itu melakukan hubungan suami istri dengan cara yang kasar dan arogan. Tanpa aba-aba, bahkan tanpa pemanasan terlebih dahulu Darius membenamkan dalam-dalam pusaka miliknya tanpa ampun dalam keadaan tertelungkup.
"Argh ... Pelan-pelan Mas sakit!" ringis Melisa merasa kesakitan.
* * *
Setelah puas melakukan hubungan suami istri secara kasar dan secara berkali-kali tanpa jeda. Darius meminta istrinya untuk memasakan makanan untuknya, rasa lapar seketika mendera perut laki-laki itu. Dia menunggu dengan tidak sabar di ruang makan.
"Udah matang belum? Mas kelaparan ini," tanya Darius.
"Iya, Mas. Sebentar lagi matang ko."
"Apa Kak Mahesa datang ke sini?"
Deg!
"Eu ... Ti--"
"Kak Mahesa bilang dia datang ke sini."
Deg!
Tubuh Melisa semakin gemetar saja. Kenapa Kaka iparnya harus bercerita tentang kedatangannya ke rumah ini? Apa mungkin dia sengaja mengatakan kepada suaminya tentang hal itu? Pikiran buruk seketika memenuhi otak kecil seorang Melisa. Dia pun hanya mampu berdiri mematung tanpa mengatakan apapun lagi, untung saja dirinya belum sempat berbohong.
"Apa kamu sempat ketemu sama dia?"
"Tidak! Aku gak ketemu sa-ma dia, Mas."
"Hmm! Dia juga bilang begitu, Kak Mahesa bilang dia segera pulang karena rumah ini sepertinya dalam keadaan kosong."
"Oh, be-begitu," Melisa terlihat gugup.
Dia pun mematikan kompor lalu menyajikan makanan yang dia masak di atas piring. Setelah itu, Melisa meletakkannya di atas meja tepat di hadapan suaminya.
__ADS_1
"Apa kamu tahu, seharusnya dia yang menikah dengan kamu, Melisa."
"O-oya?"
"Sayang sekali dia menolak untuk menikah, dan Mas harus menggantikannya untuk menikahi kamu."
Melisa hanya tersenyum getir. Dia pun duduk di kursi meja makan. Kedua mata wanita itu menatap lekat wajah Darius yang saat ini sedang menyantap makanan dengan begitu lahapnya seperti orang yang kelaparan.
"Pelan-pelan, Mas. Nanti keselek lho," pinta Melisa mendekatkan gelas berisi air putih.
"Kamu tahu kenapa dia menolak menikah dengan Kamu, Mel?"
Melisa refleks menggelengkan kepalanya.
"Karena dia laki-laki yang berbeda dengan Mas."
"Maksudnya?"
"Dia itu tidak normal, alias belok!"
Melisa sontak mengerutkan kening. Dirinya seketika teringat apa yang telah dia lakukan bersama Kakak iparnya itu semalaman. Belok? Mana mungkin Mahesa laki-laki tidak normal mengingat betapa jantannya dia? Dirinya bahkan berkali-kali melakukan pelepasan begitu pun sebaliknya. Sekujur tubuhnya seketika merinding tatkala mengingat betapa perkasanya laki-laki bernama Mahesa.
"Dari mana Mas tahu bahwa kak Mahesa itu belok?" tanya Melisa kemudian.
"Buktinya dia masih belum menikah sampai sekarang? Mas bahkan tidak pernah mendengar dia berpacaran dengan siapapun. Usia kak Mahesa itu sudah 38 tahun lho, bentar lagi 40 tahun. Masa iya dia tidak ingin menikah dan merasakan nikmatnya bercinta dengan seorang wanita? Apa lagi namanya kalau bukan belok?"
'Kamu salah, Mas. Kak Mahesa laki-laki normal, dia laki-laki jantan bahkan lebih jantan dari kamu. Dia tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita dengan baik, dia bahkan pandai memuaskan wanita di atas ranjang. Aku sendiri yang sudah merasakan betapa jantannya kakakmu itu,' (batin Melisa).
"Lalu, kalau memang dia laki-laki tidak normal seperti yang Mas katakan barusan, kenapa kamu cemburu ketika Kak Mahesa menggendong aku waktu itu? Mas bahkan marah besar sampai-sampai Mas menyiramkan air panas di punggungku?"
"Itu karena Mas gak rela tubuh kamu di jamah oleh siapapun. Kamu itu milik Mas. Tubuh indah kamu ini hanya boleh di jamah sama Mas suami kamu, wajar dong kalau Mas marah?"
'Apa yang akan Mas lakukan kepadaku, jika Mas sampai tahu apa yang telah aku lakukan dengan kakakmu itu? Apa Mas akan membunuhku?' (batin Melisa).
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1