
Hari berganti dan waktu berlalu. Sudah satu bulan dari semenjak Melisa menghilang. Mahesa tidak pernah menyerah untuk mencari wanita itu.
Akan tetapi, dia benar-benar kesulitan mencari keberadaan Melisa karena minimnya informasi yang dia tahu tentang dia. Baik sahabat, maupun tempat-tempat yang sering Melisa kunjungi, Mahesa sama sekali tidak memiliki pengetahuan lebih tentang hal itu, karena dia lama menghabiskan waktu di luar negri.
Hal terakhir yang bisa dia lakukan hanyalah mendatangi rumah Darius sang adik. Mahesa hanya ingin memastikan apakah wanita itu sudah kembali ke rumah suaminya atau tidak.
Tok! Tok! Tok!
Pintu rumah sang adik pun di ketuk. Mahesa berdiri di depan pintu dengan perasan kalut. Jika boleh berkata jujur, dirinya berada di ambang dilema.
Dia akan merasa senang jika memang Melisa sudah pulang dalam keadaan baik-baik saja. Namun, di sisi lain dia akan merasa sangat kecewa jika Melisa benar-benar sudah kembali ke rumah itu, karena itu artinya Melisa sudah kembali menjalani hari-harinya sebagai istri dari Darius, dan sudah memaafkan semua kesalahan yang telah di perbuat oleh adiknya itu. Menyedihkan bukan?
Ceklek!
Pintu rumah pun di buka lebar. Seorang wanita nampak berdiri tepat di balik pintu. Mahesa tidak tahu apakah dirinya harus merasa lega atau malah sebaliknya, karena yang berdiri di hadapannya itu bukanlah Melisa melainkan wanita bernama Mira.
"Maaf, bukankah Anda kakaknya Mas Darius?" tanya Mira, menatap dari ujung kaki hingga ujung rambut laki-laki bernama Mahesa.
"Kamu? Bukannya kamu wanita itu? Astaga, hebat sekali kamu. Hanya dalam hitungan hari saja, kamu sudah mengambil alih rumah yang ditinggali adik saya bersama istrinya. Kamu benar-benar wanita yang luar biasa. Kamu pintar sekali," decak Mahesa tersenyum menyeringai.
"Ada perlu apa Anda datang kemari? Mas Darius sedang tidak berada di rumah," ketus Mira memalingkan wajahnya merasa kesal.
"Mommy!" tiba-tiba saja Talia berlari menghampiri dan segera di gendong oleh ibunya.
__ADS_1
"Lebih baik Anda pulang, saya akan memberitahukan kepada Mas Darius kalau Anda berkunjung kemari," ketusnya lagi hendak menutup pintu rumah.
"Tunggu! Kamu benar-benar tidak punya etika dan sopan santun. Siapa nama kamu? Pantas saja wanita seperti kamu menjadi seorang pelakor. Berani sekali kamu mengusir saya kakaknya Darius?"
Mira hanya bisa mendengus kesal. Dia pun mendekap erat tubuh Talia berharap bahwa gadis kecilnya itu tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Mahesa. Wanita itu pun mengalihkan pandangannya ke arah lain menahan rasa getir. Ucapan laki-laki itu lagi-lagi melukai perasaanya.
"Saya mau tanya sama kamu. Apakah gadis kecil ini adalah putri dari hasil hubungan gelap kalian? Alias, anak haram?"
Satu pertanyaan yang sukses membuat kesabaran Mira berada di ujung tanduk. Dia pun membulatkan bola matanya menatap tajam wajah Mahesa.
"Hati-hati ya Anda kalau bicara. Anak ini bukan anak haram, saya seorang janda. Dia putri kandung saya dengan mantan suami saya. Mas Darius mandul, mana mungkin dia bisa punya seorang anak dengan saya!"
"Waaah! Sungguh mengejutkan, jadi adik saya itu mandul? Hmm ... Baiklah, silahkan teruskan kumpul kebo kalian, berdoa saja semoga rumah ini tidak di gerebek oleh warga," decak Mahesa tersenyum menyeringai, dia pun pergi begitu saja dari hadapan wanita itu.
* * *
3 bulan kemudian.
Mahesa harus kembali ke Amerika untuk melakukan cek up rutin kesehatannya. Dengan berat hati dia harus meninggalkan tanah air di tengah perasaannya yang masih merasa gelisah, karena belum berhasil menemukan keberadaan wanita bernama Melisa.
Dia pun sedang berada di perjalanan menuju bandara. Taksi yang dia tumpangi hampir saja tiba di tempat tujuan. Mahesa menatap ke arah luar menyaksikan mobil yang berlalu-lalang.
Tatapan matanya nampak kosong. Pikirannya melayang memikirkan seseorang, di dalam otaknya hanya ada satu nama yaitu Melisa, Melisa dan Melisa. Wanita itu benar-benar telah menguasai hati, jiwa juga pikirannya. Mobil taksi pun melesat dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Berhenti di depan, Pak!" pinta Mahesa secara tiba-tiba, matanya menangkap sosok seorang wanita.
Meskipun agak ragu pada awalnya, laki-laki itu tetap meminta supir taksi untuk berhenti. Sang supir pun memperlambat laju mobilnya dan menepi lalu berhenti tepat di tepi jalan.
Mahesa keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa, dia menghampiri seorang wanita yang saat ini berjalan sendirian di bahu jalan memunggungi dirinya. Dia pun meneriakkan nama Melisa, dan berharap bahwa wanita itu benar-benar dia.
"MELISA!" teriaknya seraya berlari menghampiri dengan napas yang terengah-engah.
Wanita itu pun sontak menghentikan langkah kakinya. Dia refleks memutar tubuhnya dan mencari sumber suara. Mahesa yang semula berlari sontak memperlambat langkah kakinya.
"Kamu benar-benar Melisa, ya Tuhan!" decak Mahesa, kembali berlari lalu memeluk tubuh wanita itu erat.
"Kak Mahesa?" gumam Melisa, pelukan Mahesa membuat perutnya yang membuncit seketika merasa sesak.
"Kamu kemana saja, Mel? Apa kamu tahu saya mencari kamu selama ini? Apa kamu baik-baik saja? Saya takut kamu--" Mahesa tidak meneruskan ucapannya.
Dia merasa ada yang aneh dengan tubuh Melisa. Permukaan perutnya seperti menyentuh sesuatu yang bulat dan belum terlalu besar. Mahesa sontak mengurai perlukan lalu menatap tubuh wanita itu dengan seksama.
"Perut kamu, Mel? Ya Tuhan, apakah kamu sedang hamil?"
Melisa hanya bisa menundukkan kepalanya menahan rasa getir seraya mengusap permukaan perutnya lembut.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...