
Darius mengepalkan kedua tangannya. Apa yang baru saja di katakan oleh kakaknya sukses membuat hatinya merasa panas membara. Ingin sekali dia menghabisi nyawa kakaknya itu dengan kedua tangannya sendiri karena telah berani menyentuh istrinya.
Darius menepis pergelangan tangan Mahesa, dia pun melayangkan kepalan tangannya ke udara hendak memukuli sang kaka. Namun, gerakan tangannya seketika terhenti saat wanita yang menjadi selingkuhannya selama ini, berteriak mencoba untuk menghentikan.
"Hentikan Mas Darius!" teriak sang wanita seraya menggendong putrinya yang masih berusia 3 tahun.
Darius sontak menghempaskan tangannya sendiri. Dia terlalu sibuk dengan urusan rumah tangganya sampai melupakan ada wanita lain yang saat ini tengah berharap lebih kepadanya.
"Aku mohon berhenti! Kamu anggap apa aku ini, Mas?" teriaknya dengan bola mata memerah, buliran air mata pun memenuhi kelopak matanya kini.
"Lebih baik kamu urus saja wanita murahan ini!" decak Mahesa menatap sinis sang wanita.
"Aku bukan wanita murahan!" sangkal wanita bernama Mira.
"Apa? Bukan wanita murahan? Apa kamu tahu laki-laki ini memiliki seorang istri?"
Wanita tersebut memalingkan wajahnya merasa malu.
"Kamu pasti tahu betul bahwa merebut suami orang adalah perbuatan yang sangat murahan. Tapi tak masalah, toh istri dari laki-laki ini sudah merelakannya untuk kamu, jadi kamu bebas memilikinya mulai sekarang."
"Jaga mulut kamu, Kak Mahesa. Aku pastikan tidak akan pernah melepaskan Melisa. Aku akan membuat dia menderita karena telah berkhianat kepadaku, dan kamu Kak Mahesa, kamu tidak akan pernah bisa memiliki dia karena aku gak akan pernah menceraikan Melisa sampai kapan pun!" teriak Darius, rahangnya mengeras dengan bola mata memerah.
"Cukup, Mas. Cukuuuuup!" teriak Mira, semakin merasa terhina dengan sikap laki-laki yang telah 3 tahun menjalani hubungan dengannya itu.
"Kamu dengar? Wanita ini meminta kamu untuk berhenti, Darius. Kamu telah menyakiti 2 wanita sekaligus. Seharusnya kamu menyayangi istri kamu, memperlakukan dia dengan lembut, seharusnya kamu juga setia dengan istri kamu itu, tapi apa? Kamu benar-benar telah menyakiti dia sedemikian rupa, jadi jangan salahkan siapapun jika Melisa benar-benar meninggalkan kamu. Salahkan diri kamu sendiri yang tidak pandai dalam bersyukur, karena telah di anugerahkan istri yang sempurna seperti Melisa," tegas Mahesa penuh penekanan, setelah itu dia pun meninggalkan sang adik yang saat ini hanya bisa berdiri mematung.
Darius mencoba untuk mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh sang kaka. Ya ... Dia akui, selama ini dirinya memang tidak pernah memperlakukan istrinya dengan baik. Dia bersikap kasar dan semena-mena, sifat lembut istrinya membuatnya semakin meraja rela dan ingin menang sendiri. Yang lebih parahnya lagi, Darius telah mengkhianati istrinya dengan memiliki wanita lain selama 3 tahun lamanya. Penyesalan pun tidak ada gunanya dia rasa.
__ADS_1
Sementara itu, Mahesa segera masuk ke dalam mobil. Hatinya diliputi rasa khawatir. Kemana Melisa pergi saat ini? Dia hanya takut jika wanita itu akan melakukan hal yang di luar dugaan, mengingat betapa tertekannya Melisa saat ini.
Mesin mobil pun di nyalakan dan segera melaju kencang di jalanan. Mahesa akan mencari keberadaan wanita bernama Melisa kemanapun, tidak peduli meskipun dia harus mencarinya ke lubang semut sekalipun.
"Kamu di mana, Mel?" gumam Mahesa, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang seraya menatap ke arah kanan dan kiri berharap bisa menemukan Melisa.
Dret! Dret! Dret!
Ponsel miliknya seketika bergetar. Laki-laki itu pun meraih ponsel lalu mengangkat telpon.
📞 "Halo, Dad. Ada apa?" tanya Mahesa mengangkat telpon.
📞 "Kamu di mana? Daddy tunggu di rumah, ada yang ingin Daddy bicarakan sama kamu."
📞 "Baik, Dad. Saya pulang sekarang juga."
"Sial, kenapa Daddy meminta saya untuk pulang segala sih? Padahal saya harus mencari Melisa," gumam Mahesa, seketika menginjak pedal gas, mobil pun melesat dengan kecepatan tinggi.
* * *
Sesampainya di kediaman orang tuanya. Mahesa masuk ke dalam rumah. Kedua orang tuanya nampak sudah menunggu kedatanganya di ruang tamu.
"Ada apa Daddy meminta saya untuk pulang?" tanya Mahesa duduk di kursi ruang tamu.
Tuan Dario Mark, dan Nyonya Farida menatap wajah sang putra. Beberapa poto seorang wanita itu diletakkan di atas meja begitu saja. Mahesa seketika mengerutkan kening. Apakah mereka akan menjodohkan dirinya dengan seorang wanita lagi? Dia akan mencari jawabannya saat itu juga.
"Apa ini?" tanya Mahesa hanya menatap sekilas beberapa lembar poto tersebut.
__ADS_1
"Pilih salah satu di antara wanita ini. Sudah waktunya kamu menikah, Mahesa," ucap sang ibu dengan nada suara lembut.
"Kalian akan menjodohkan saya lagi?" tanya Mahesa dengan nada suara dingin.
"Sayang, usia kamu sudah 38 tahun. Mau sampai kamu melajang seperti ini? Kami sudah ingin menimang cucu, adikmu Darius sampai sekarang belum memberikan kamu cucu. Heran Mommy sama si Melisa itu, apa dia sebenarnya mandul? Sudah 3 tahun dia menikah dengan si Darius."
"Kata siapa Mommy gak punya cucu?"
"Hah? Maksud kamu? Apa si Melisa sedang hamil sekarang?"
Mahesa seketika mengusap wajahnya kasar. Rasanya tidak mungkin jika dia harus mengatakan kepada kedua orang tuanya tentang kelakukan putra bungsu mereka itu.
"Mahesa? Kenapa diam saja? Apa maksud ucapan kamu itu? Kami punya cucu?" sang ibu mengulangi pertanyaannya.
"Sudah-sudah jangan bahas masalah itu dulu. Sekarang kamu pilih salah satu wanita di poto itu, kami akan menikahkan kamu secepatnya," sela sang ayah.
"Tidak, Dad. Saya tidak akan menikah dengan siapapun. Jangan paksa saya, kalian tahu sendiri kalau saya tidak suka di paksa."
"Mahesa! Astaga, anak ini. Apa kamu ini laki-laki normal? Kamu selalu saja menolak untuk di jodohkan dengan wanita manapun, kenapaaa?" teriak sang ibu menaikan suaranya.
"Ya, saya laki-laki tidak normal. Jadi, berhenti menjodohkan saya dengan wanita manapun," jawab Mahesa, dia pun berdiri dan pergi begitu saja dari hadapan kedua orang tuanya, yang merasa terpaku dengan jawaban putra sulungnya itu.
'Kamu di mana, Melisa? Tunggu saya. Saya akan mencari kamu,' (batin Mahesa).
Laki-laki itu segera masuk ke dalam mobil. Seketika itu juga, mobil pun melesat meninggalkan halaman luas kediaman keluarga Dario Mark.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...