
"Jaga mulut kamu Darius! Sedikit pun saya tidak pernah punya pikiran kotor seperti itu. Saya mencintai Melisa tulus, saya juga sudah melarang dia agar tidak menjadi pendonor untuk saya, tapi dia menolak. Melisa mengatakan kepada saya bahwa, dia ingin menunjukkan ketulusan cintanya kepada kalian, terutama kamu," jawab Mahesa penuh penekanan.
Darius seketika mengepalkan kedua tangannya. Setulus itukah rasa cinta Melisa untuk Kakaknya itu? Lagi dan lagi, rasa cemburu mengusik relung hatinya. Rasa panas itu terasa membakar hati bahkan seluruh organ di dalam tubuh seorang Darius. Apa yang akan dia lakukan sekarang? Apakah dirinya akan merelakan wanita bernama Melisa begitu saja? Wanita yang baru dia ceraikan beberapa waktu yang lalu?
Tentu saja tidak! Jika dirinya tidak bisa memiliki Melisa, maka siapapun tidak boleh memiliki wanita itu, termasuk kakaknya sendiri. Betapa jiwa seorang Darius telah di penuhi oleh rasa dendam dan juga cinta buta yang menuntunnya melakukan hal yang akan menghancurkan kehidupannya kelak.
"Dasar munafik, kaka masih gak mau mengaku kalau kaka mendekati Melisa hanya supaya dia mau menjadi pendonor untuk penyakit kaka ini? Kenapa kamu tidak mati saja sekalian, Kak Mahesa. Hidupmu itu selalu saja menyusahkan orang lain!" ketus Darius.
"Kalau begitu kamu saja yang menjadi pendonor untuk kakakmu ini, Darius?" tiba-tiba terdengar suara sang ayah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Darius sontak menoleh dan menatap wajah ayahnya. Dia pun tersenyum sinis, mana sudi dirinya menjadi pendonor untuk Mahesa. Di bayar dengan jumlah uang berapa pun dia tidak akan pernah mau untuk melakukan hal itu.
"Aku, jadi pendonor untuk kakak? Hahahaha! Apa Daddy tidak dengar aku bilang apa tadi? Lebih baik dia mati saja sekalian, hidupnya selalu saja menyusahkan orang lain!"
Plak!
Satu tamparan keras sukses mendarat di rahang Darius. Tuan Darion Mark benar-benar telah hilang kesabaran. Putranya yang satu ini sudah melewati batas dan dirinya sudah tidak bisa mentolerir ucapan pedas yang baru saja keluar dari mulut putra bungsunya itu.
"Dasar anak kurang ajar. Tega sekali kamu berkata seperti itu tentang kakakmu sendiri. Percuma Daddy sekolahkan kamu tinggi-tinggi, tapi kamu tidak punya hati dan perasaan. Daddy benar-benar kecewa sama kamu, Darius!" teriak sang ayah merasa murka.
__ADS_1
"Itu karena kalian selalu pilih kasih. Dari semenjak kecil sampai sekarang baik Daddy maupun Mommy selalu mementingkan dia, selalu membela di bandingkan aku. Padahal aku putra bungsu kalian!" Darius balas berteriak, dia mencoba menahan rasa panas di rahangnya akibat tamparan sang ayah.
"Itu karena kakakmu sakit-sakitan, Darius. Seharusnya kamu mengerti dengan keadaan kakakmu ini!"
"Alah, Daddy selalu saja menjadikan itu sebagai alasan!"
"Cukup, Darius. Jangan bicara seperti kepada Daddy, kamu benar-benar tidak punya etika dan sopan santun!" sela Mahesa, merasa tidak terima dengan sikap kasar sang adik.
"Diam kamu, kak. Semua ini gara-gara kamu, semoga Tuhan segera mencabut nyawamu, Kak Mahesa!" bentak Darius, dia berbalik dan keluar begitu saja dari dalam kamar.
"Dasar anak kurang ajar!" teriak Tuan Dario Mark, hendak mengejar sang putra.
Tuan Dario Mark menatap wajah Mahesa dengan tatapan mata sayu. Bertahun-tahun putranya itu menahan dan melawan penyakitnya tanpa mengeluh. Sang putra bahkan menjalani pengobatan di Amerika tanpa di temani oleh siapapun. Sekarang, dia harus mendengar ucapan menyakitkan yang keluar dari mulut adiknya sendiri. Sebagai seorang ayah, tentu saja hati dan perasaan Tuan Dario Mark merasa sangat-sangat terluka.
"Dad," lirih Mahesa dengan nada suara lembut.
"Iya, sayang. Kamu baik-baik saja setelah mendengar ucapan adikmu yang laknat itu? Dia benar-benar keterlaluan, Daddy menyesal memiliki putra kurang ajar seperti dia," decak Tuan Dario Mark mengusap wajahnya kasar.
"Saya baik-baik saja, Dad. Yang menentukan hidup dan matinya manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa, jika saya memang di takdirkan untuk meninggal cepat, maka saya iklhas. Namun, jika saya masih di beri kesempatan untuk berumur panjang, maka saya akan menggunakan kesempatan itu dengan baik, Daddy tidak usah terlalu sedih. Adik saya yang satu itu memang selalu begitu, dan kami memang tidak pernah akur sejak kecil," jawab Mahesa mencoba untuk menenangkan.
__ADS_1
* * *
4 jam kemudian.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka lebar. Melisa dan Perawat yang sama masuk ke dalam kamar. Wanita itu nampak tersenyum sumringah. Dia segera berjalan menghampiri Mahesa.
"Sayang, kita akan segera menjalani proses pendonoran itu secepatnya. Kata Dokter, tubuhku benar-benar sehat untuk melakukan hal itu," ujar Melisa dengan begitu antusiasnya.
"Mel, eu ... Bisakah kita batalkan saja proses pendonoran itu? Saya tetap bisa sembuh meskipun tidak mendapatkan donor sumsum tulang belakang dari kamu."
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1