
Mahesa benar-benar mendaratkan bibirnya di bibir Melisa mesra. Harapannya di sambut dengan tangan terbuka, wanita itu membalas ciuman darinya. Melisa kembali menaikan kedua kakinya di atas kaki Mahesa, alhasil mereka berdua berciuman seraya berdansa mesra.
Diiringi musik sendu, keduanya benar-benar menikmati suasana yang romantis. Bulan sabit seolah menjadi saksi bisu keromantisan mereka berdua. Semilir angin malam seolah ikut menemani kebersamaan mereka yang sama-sama mendambakan kasih sayang.
Melisa memejamkan kedua matanya. Dia tahu bahwa apa yang sedang dia lakukan itu sebenarnya adalah sebuah kesalahan besar. Namun, dirinya begitu menikmati suasana romantis yang di suguhkan oleh kakak iparnya tersebut.
Sedangkan bagi Mahesa, dia hanya ingin mengobati luka yang sebabkan oleh adiknya. Apa yang dia lakukan saat ini setidaknya bisa menghibur perasaan Melisa yang yang sudah pasti tidak baik-baik saja selama ini.
Mahesa melepaskan tautan bibirnya, dia merentangkan tangannya seraya memutar tubuh Melisa dan membawanya kembali ke dalam dekapan tangannya. Kepala wanita itu sontak mendongak ke atas, seketika itu juga leher jenjangnya itu di kecup mesra oleh Mahesa.
Melisa seketika memejamkan kedua matanya, situasi yang tercipta saat ini benar-benar membuat jiwanya terasa melayang ke awang-awang.
Bak di dalam adegan film romantis, mereka berdua melakukan semua itu secara berkali-kali hingga suara music sendu itu berhenti berputar.
Grep!
Melisa mendekap erat tubuh Mahesa sang kaka ipar. Napasnya terdengar memburu akibat pergulatan dansa yang menguras emosi jiwanya. Mahesa balas memeluk tubuh ramping Melisa mesra penuh kasih sayang.
"Apa kamu memaafkan kesalahan saya di masa lalu? Andai saja saya tidak lari saat itu, mungkin kamu tak perlu melewati hari-hari yang menyakitkan bersama adik saya," bisik Mahesa, hembusan napasnya terasa hangat menyapu permukaan telinga Melisa membuatnya sontak memejamkan kedua matanya.
"Jangan membahas masa lalu. Tak ada gunanya menyesali semua yang telah terjadi. Waktu gak bisa di putar. Aku hanya ingin menikmati malam ini bersama kaka. Selama ini, hidupku menderita, Kak. Mas Darius tidak pernah memperlakukan aku seromantis ini, sebaik ini. Malam ini tubuhku, jiwaku milikmu, kak. Mari kita lewati saja malam ini, dan melupakan setelahnya," jawab Melisa memejamkan kedua matanya.
"Baiklah, mari kita lewati malam ini dengan perasaan bahagia. Saya akan membuat kamu tidak akan bisa melupakan malam ini, Melisa," ujar Mahesa, dia menggendong tubuh Melisa dan menuntun kedua kakinya untuk melingkar di pinggangnya kini.
__ADS_1
Kedua orang itu benar-benar menggila. Melisa yang memang haus akan kasih sayang dan belaian telah dibutakan dan terbuai dengan kenikmatan dan kebahagian sesaat yang di suguhkan oleh Kakak iparnya sendiri.
Nuraninya sadar betul bahwa apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan. Namun, perasaanya mengalahkan logika yang ada. Keduanya saling menatap satu sama lain. Tatapan penuh arti, tatapan kehausan juga tatapan penuh kasih sayang.
Sedetik kemudian, hal terlarang pun benar-benar mereka lakukan. Sesuatu yang akan menjadi boomerang di kehidupan keduanya suatu saat nanti. Keduanya benar-benar telah hilang akal. Di sana, di atap di tempat yang terbuka. Di saksikan rembulan malam, diiringi semilir angin malam Melisa dan Mahesa memuntahkan hasratnya masing-masing.
Puas melakukannya di atap, mereka pun melanjutkan kegiatan yang memabukkan itu di berbagai tempat yang berada di dalam rumah itu. Tidak ada penyesalan, tidak ada pikir panjang, tidak ada otak yang mampu berfikir waras di sini. Mereka berdua melakukan hal terlarang itu sampai pagi menjelang.
* * *
Keesokan harinya.
"Good morning, Mel. Bagaimana tidur kamu semalam? Nyenyak?"
Melisa yang baru saja membuka kedua matanya di sambut dengan kata-kata manis dan romantis yang keluar dari bibir manis seorang Mahesa. Dia yang masih belum sepenuhnya tersadar dari tidur panjangnya seketika mengusap wajahnya kasar. Senyuman manis pun dia sunggingkan.
"Jam 8 pagi."
"Wah! Udah siang ternyata. Aku harus bangun, aku harus membereskan atap sisa semalam," ujar Melisa hendak bangkit.
"Membereskan apaan? Semuanya sudah saya bereskan, Mel. Rumah pun sudah saya rapihkan, jadi pagi ini kamu bisa beristirahat tanpa melakukan pekerjaan rumah. Lagian, rumah sebesar ini masa gak punya asisten rumah tangga?"
"Hah? Kaka serius? Kaka udah membereskan atap? Kaka juga sudah melakukan pekerjaan rumah tangga? Kak Mahesa tamu di sini, mana boleh kaka melakukan hal seperti itu?"
__ADS_1
"Kata siapa tak boleh? Memangnya Darius menikahi kamu untuk di jadikan pembantu? Sayang sekali istri secantik dan selembut kamu harus melakukan pekerjaan rumah tangga yang melelahkan itu."
Satu kalimat yang membuat hati seorang Melisa merasa tersentuh. Kalimat sederhana, tapi begitu menenangkan. Rasa sesal seketika memenuhi relung hatinya kini. Kenapa bukan Mahesa yang menjadi suaminya? Itu adalah penyesalan terbesar di dalam hidup seorang Melisa.
Akan tetapi, lagi dan lagi dia merasa penyesalan tidak akan merubah apapun. Sekeras apapun dirinya meratapi kehidupan yang dia jalani, semua itu sama sekali tidak ada gunanya. Yang harus dia lakukan sekarang adalah, melupakan kejadian semalam. Dia akan menjadikan malam tadi adalah malam terindah di dalam hidupnya.
"Mel? Ko malah melamun? Sore ini saya harus kembali ke Amerika, saya harus cek up kesehatan saya," ujar Mahesa, membuat Melisa seketika merasa kecewa tentu saja.
Selama ini, dirinya tidak masalah meskipun harus di tinggalkan selama beberapa hari bahkan berminggu-minggu oleh suaminya, tapi entah kenapa hatinya begitu berat saat kakak ipranya itu mengatakan bahwa dia akan kembali ke Amerika.
"Bukannya kaka sudah sembuh? Kaka sakit apa sebenarnya?"
"Hmm! Kamu tidak usah tahu saya sakit apa. Doakan saja semoga saya lekas sembuh dan kembali ke tanah air agar bisa bertemu lagi dengan kamu, Mel."
"Tidak, aku berharap kaka bisa menemukan wanita yang baik dan menikah. Lupakan kejadian tadi malam itu, aku istri adik kaka sendiri. Tidak mungkin kalau kita akan melakukan hubungan terlarang terus-menerus kedepannya."
Mahesa terlihat kecewa. Namun, dia segera menepis rasa keceamya itu. Dia tahu betul bahwa Melisa bukanlah wanita yang bisa di ajak berselingkuh. Jauh di lubuk hati seorang Mahesa, dia berharap bahwa wanita ini selalu bahagia bersama Darius suaminya.
Melisa yang saat ini masih dalam keadaan polos seketika bangkit lalu duduk di atas ranjang. Dia menatap lekat wajah Mahesa sang kaka ipar dengan tatapan mata sayu. Bola mata wanita itu nampak memerah lengkap dengan buliran air mata yang memenuhi kelopaknya kini.
"Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya sama kaka, berkat kaka aku bisa merasakan di perlakukan bak ratu. Semalam bersama kaka membuat aku merasakan bahagianya di perlakukan dengan begitu istimewa. Namun, tetap saja apa yang kita lakukan ini adalah sebuah kesalahan besar."
"Terlepas dari masa lalu, aku berharap kaka bisa sembuh dan menemukan wanita yang sempurna, wanita yang baik dan akan membahagiakan kaka. Mari kita lupakan kejadian semalam, aku akan menjadikan itu sebagai kenangan terindah di dalam hidup aku, kak Mahesa."
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...