Semalam Bersama Kakak Ipar

Semalam Bersama Kakak Ipar
Menahan


__ADS_3

Ciuman panas pun seketika tercipta. Bukan sekedar ciuman penuh nafsu, tapi ciuman penuh kerinduan, ciuman kasih sayang, ciuman yang menyiratkan arti yang mendalam. Pertemuan pertama mereka setelah berpisah sekian lama membuat keduanya memuntahkan kerinduan yang selama ini terasa akan meledak.


Ciuman mereka pun kian dalam. Melisa memejamkan kedua matanya begitu menikmati rasa yang sulit dia ungkapkan dengan kata-kata. Rasa yang membuat batinnya bergejolak. Rasa yang membuat gairahnya benar-benar naik secara tiba-tiba, begitu pun dengan gairahnya yang selama ini bersemayam dengan tenang di dalam jiwanya. Namun ...


"Cukup, Mas," lirih Melisa, tiba-tiba saja melepaskan tautan bibirnya, napasnya tersengal-sengal menatap sayu wajah Mahesa.


"Kenapa, sayang?" tanya Mahesa mengerutkan kening.


"Jangan mengulangi kesalahan 2 kali, Mas. Kita tidak boleh melakukannya, aku seorang janda, aku tidak mau di pandang murahan hanya karena aku seorang janda."


"Hey! Siapa yang bilang kalau kamu murahan? Tidak sama sekali."


"Kita tetap harus menahannya sampai kita benar-benar sah menjadi suami-istri, aku harap kamu mengerti, Mas."


Mahesa seketika tersenyum, dia memang sudah tidak dapat lagi menaham gejolak di dalam jiwanya. Hasratnya pun kian memuncak sulit untuk dikendalikan, tapi entah mengapa laki-laki itu merasa lega dengan penolakan yang di lakukan oleh wanita ini.


Sikap Melisa menunjukkan betapa tingginya harganya sebagai seorang wanita, dan dia suka dengan hal itu. Meskipun sedikit kecewa, tapi rasa kecewanya itu hanya sepersekian % dari rasa kagumnya kepada wanita bernama Melisa ini.


"Terima kasih karena telah mengingatkan, sayang. Jika saja kamu tidak menghentikan saya, mungkin saya sudah benar-benar hilang kendali, Mel," lirih Mahesa.


Cup!


Satu kecupan pun mendarat di kening Melisa lembut dan penuh kasih sayang. Dia hanya memeluk tubuhnya yang saat ini sudah dalam keadaan berbaring di atas sofa sempit, membuat tubuh mereka benar-benar menempel sempurna tanpa jarak sedikit pun.


"Apa kamu kecewa, Mas?" tanya Melisa, menyandarkan kepalanya di dada bidang Mahesa kini.


"Kecewa? Tentu saja tidak. Justru saya semakin kagum sama kamu, saya suka dengan sikap kamu yang seperti ini. Kita memang manusia dewasa, melakukan hal yang seperti itu adalah hal biasa, tapi saya senang sekali karena kamu menahannya dan juga mengingatkan saya. Jujur, saya semakin kagum sama kamu, sayang," jawab Mahesa tersenyum kecil.


"Terima kasih karena kamu mau mengerti, Mas."


Keduanya pun sama-sama memejamkan kedua mata masing-masing. Mereka hampir saja terlelap saat itu juga, tapi suara ponsel yang bergetar seketika membuat mereka merasa terkejut dan bangkit secara bersamaan.


"Ponsel kamu bergetar, Mas," imbuh Melisa, mengurai jarak di antara mereka.

__ADS_1


Mahesa merogoh saku celana, menatap layar ponsel lalu mengangkat telpon.


📞 "Halo, Mom. Ada apa?" tanya Mahesa kemudian.


📞 "Dimana kamu?"


📞 "Saya lagi di--"


📞 "Pulang sekarang juga, adikmu ada di sini," ucap sang ibu penuh penekanan.


Tut! Tut! Tut!


Sambungan telpon pun seketika terputus. Mahesa mengusap wajahnya kasar. Sepertinya Darius berbuat ulah dengan menceritakan masalah mereka kepada orang tuanya. Dia harus menyiapkan mental. Masalah besar sedang menantinya di depan.


"Siapa, Mas?" tanya Melisa, menatap wajah Mahesa lekat.


"Mommy, Mel. Maafkan saya karena tidak bisa berlama-lama berada di sini, sayang. Saya harus segera pulang."


"Apa ada masalah?"


"Apa? Astaga, jangan sampai Mas Darius mengatakan yang tidak-tidak tentang kita, Mas."


"Kamu gak usah khawatir, saya akan membereskan masalah ini. Kamu baik-baik di rumah, jaga bayi kita. Saya akan segera mencarikan rumah yang layak untuk kalian."


"Hah?"


"Saya pergi dulu, Mel. Sebenarnya saya masih kangen sama kamu, tapi mau bagaimana lagi," pamit Mahesa berdiri tegak.


Melisa pun melakukan hal yang sama. Dia memeluk tubuh laki-laki itu lalu mengecup bibirnya singkat. Sepertinya perjalan cinta mereka tidak akan mudah untuk dilewati.


"Kamu juga hati-hati di jalan, Mas. Love you," lirih Melisa.


"Love you too, eu ... Saya pamitan sama Navisha dulu ya."

__ADS_1


Melisa menganggukkan kepalanya lalu mengurai pelukan. Keduanya pun membuka pintu kamar lalu berjalan menghampiri sang bayi yang saat ini masih tertidur dengan begitu lelapnya. Perlahan, Mahesa mengecup pipi M ingin aky tidur sang bayi lembut.


"Daddy pulang dulu, Nak. Daddy janji akan kembali lagi ke sini, Daddy sayang kamu," bisik Mahesa menatap dengan seksama wajah buah hatinya.


* * *


Sementara di tempat yang berbeda. Darius benar-benar pandai bersilat lidah. Dia membongkar hubungan gelap mantan istrinya dengan sang kaka kepada orang tuanya. Laki-laki itu berperan seolah dia adalah suami yang tersakiti dan suami yang telah dikhianati.


"Kamu gak bohong 'kan? Mana mungkin Mahesa berbuat seperti itu? Mendekati istri kamu sampai mereka punya bayi segala?" tanya sang ibu masih sulit untuk percaya.


"Mana mungkin aku bohong, Mom, Dad. Kalian bisa tanya langsung sama dia nanti. Mommy sama Daddy memang gak pernah berubah, selalu saja belain kak Mahesa padahal aku ini putra bungsu kalian!"


"Bukan seperti itu maksud kami, Darius. Hanya saja, rasanya tidak masuk akal. Gak mungkin kakakmu melakukan hal itu? Kapan mereka punya waktu buat selingkuh? Mahesa menghabiskan 3 tahun di Amerika. Dia bahkan baru kembali kemarin dari sana," ujar sang ibu kemudian.


"Selalu, selalu, selalu! Mommy selalu membela dia di bandingkan aku. Jangan jadikan sakitnya Kak Mahesa sebagai alasan! Kak Mahesa itu tidak sepolos yang kalian pikirkan, astaga! Harus bagaimana lagi aku menjelaskannya kepada kalian!" Darius semakin merasa kesal.


"Dia yang bilang sendiri kepada kami bahwa dia bukan laki-laki normal."


"Hah? Hahahaha! Semua itu bohong, dusta. Kalian percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh putra kesayangan kalian itu, hah?" Darius semakin menaikan suaranya.


"Yang dikatakan oleh Darius semuanya benar, Mom, Dad. Saya laki-laki normal. Saya juga mencintai Melisa, adik saya ini tidak bisa memperlakukan istrinya dengan baik. Dia bahkan sudah kumpul kebo dengan wanita lain. Mengkhianati Melisa dengan berselingkuh dengan wanita lain selama 3 tahun lamanya. Jadi, wajar saja jika Melisa akhirnya merasa kecewa dan lebih memilih saya di bandingkan dia!" tiba-tiba saja terdengar suara Mahesa, dia masuk ke dalam rumah dengan wajah penuh percaya diri.


Tentu saja hal itu membuat kedua orang tua mereka merasa bingung di buatnya. Ucapan siapa yang benar? Perkataan putra sulung, atau ucapan putra bungsu mereka? Baik ayah maupun ibu mereka seketika mengusap wajahnya kasar, merasa bingung.


Darius yang memang sudah menahan rasa kesalnya, dari semenjak dia masih berada di gedung pengadilan seketika bangkit dan menghampiri sang kakak. Sedetik kemudian ...


Buk ...


Plak ...


Bruk ...


Perkelahian pun tidak terhindarkan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2