
Buk!
Plak!
Bruk!
Perkelahian antara 2 saudara pun tidak terhindarkan lagi. Mereka berdua benar-benar saling menghantam satu sama lain. Hal tersebut tentu saja membuat kedua orang tuanya merasa terkejut sekaligus merasa panik.
"HENTIKAN, APA YANG KALIAN LAKUKAN?" teriak sang ayah merasa murka, bola matanya memerah, rahangnya pun mengeras menahan amarah.
Baik Mahesa maupun Darius sontak menghentikan gerakan masing-masing. Napas mereka nampak tersengal-sengal, bola mata keduanya memerah. Mereka pun melepaskan cengkraman tangan masing-masing.
"Dasar anak tidak tahu diri. Apa kalian tidak malu berkelahi seperti anak kecil, hah?" teriak sang ibu yang juga murka melihat kelakuan putra-putranya.
"Dia yang salah, Mom. Tidak semua yang dikatakan sama si Darius ini benar. Sebagiannya fitnah, Dad, Mom!" jelas Mahesa, dadanya seketika merasa sesak.
"Kamu baik-baik saja, Nak? Astaga, wajah kamu babak belur, jahat sekali kamu sama kakakmu sendiri, Darius."
Darius tentu saja mendengus kesal. Lagi dan lagi, ibunya itu lebih memihak kepada sang kaka. Rasa bencinya kepada Mahesa semakin menjadi-jadi kini.
"Mommy selalu membela dia. Apa aku ini bukan putra kalian, hah?!"
"Cukup, Darius! Kamu benar-benar seperti anak kecil! Sekarang minta maaf sama kakakmu ini, cepaaaat!"
"Tidak, saya tidak akan meminta maaf kepada laki-laki yang telah merebut istri bahkan menghamili adik iparnya sendiri, cuih ... Saya tidak sudi!"
"Dasar anak kurang ajar!"
Sang ayah melayangkan tangannya ke udara hendak menampar wajah Darius sang putra. Namun, laki-laki paruh baya itu seketika menghentikan gerakan tangannya saat melihat tubuh Mahesa tiba-tiba saja tumbang saat itu juga.
Bruk!
__ADS_1
Tubuh Mahesa benar-benar tumbang dan tersungkur di atas lantai
"Astaga, Mahesa!" decak Nyonya Farida, segera berjongkok dan menopang kepala putra kesayangannya itu.
"Heuh! Dasar so cari perhatian!" ketus Darius tidak merasa iba sama sekali.
"Cepat bantu Daddy menggendong kakakmu ke kamar, Darius!" teriak Tuan Dario Mark kemudian.
Mau tidak mau, Darius pun membantu sang ayah untuk membawa tubuh Mahesa ke dalam kamarnya. Dengan perasaan kesal, juga dengan wajah masam, dia terpaksa melakukan hal itu atas desakan kedua orang tuanya.
'Kenapa kamu tidak mati saja sekalian, kak? Nyusahin aja si hidupmu,' (batin Darius).
Pelan tapi pasti, keduanya pun mulai membaringkan tubuh Mahesa di atas ranjang. Wajah laki-laki itu terlihat babak belur akibat perkelahiannya dengan Darius adiknya sendiri. Hati Nyonya Farida benar-benar merasa sakit melihatnya.
"Mahesa ... Bangun, Nak. Bangun, sayang," lirih sang ibu mencoba untuk membangunkan putranya.
"Darius! Ikut dengan Daddy, kita harus bicara sekarang juga!" pinta sang ayah tegas dan penuh penekanan, dia pun keluar dari dalam kamar.
Lagi dan lagi, Darius mengikuti ayahnya dengan penuh keterpaksaan. Matanya nampak melirik ke arah sang kakak yang saat ini berbaring tidak sadarkan diri. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia beharap bahwa sang kaka tidak akan bangun lagi, selamanya.
* * *
"Kamu tahu kalau kakakmu sedang sakit keras?" tanya Tuan Dario Mark, duduk di kursi saling berhadapan dengan Darius putra bungsunya.
"Dari dulu kak Mahesa memang sudah sakit keras. Tentu saja aku tahu, Dad."
"Lalu, kenapa kamu masih berkelahi dengan dia? Kamu lihat, dia sampai tidak sadarkan diri seperti itu?"
"Daddy selalu memikirkan dia, tapi tidak pernah memikirkan perasaan aku. Dia menghamili istriku sendiri, mereka berselingkuh di belakangku. Seharusnya Daddy merasa simpati kepadaku. Seharusnya Daddy memikirkan bagaimana perasaan aku, bukan malah memojokkan aku seperti ini!"
"Lalu siapa wanita yang ada di rumah kamu itu? Bukankah kamu yang terlebih dahulu mengkhianati istri kamu sendiri? Kamu bahkan telah menjalin hubungan selama 3 tahun lamanya dengan wanita itu. Jangan pikir Daddy tidak tahu ya!"
__ADS_1
Darius seketika mengepalkan kedua tangannya. Dia pun memalingkan wajahnya tidak mampu menyangkal tuduhan sang ayah karena semua itu adalah sebuah kebenaran.
"Kenapa diam saja? Semua itu benar 'kan?"
"Jadi, Daddy tetap tidak merasa simpati kepadaku dan tetap membela putra sulung Daddy itu?"
"Astaga, Darius? Harus bagaimana lagi Daddy memberi pengertian sama kamu?" Tuan Dario Mark mengusap wajahnya kasar.
"Aku mau tanya sama Daddy sekarang? Apa Daddy akan menikahkan Kak Mahesa dengan mantan istriku?"
"Apa penting membicarakan hal itu sekarang? Dasar!"
"Tentu saja penting! Sangat penting. Aku gak akan pernah rela melihat Kak Mahesa menikah dengan Melisa! Tidak sampai kapan pun!"
Tuan Dario Mark kembali mengusap wajahnya kasar. Dia pun menarik napas berat lalu menghembuskannya kasar. Rasanya begitu menyakitkan melihat kedua putranya berseteru seperti ini.
"Dengarkan Daddy, Darius. Ini bukan waktu yang tepat untuk bersikap egois seperti ini. Kakakmu masih dalam keadaan sakit. Dia belum sembuh benar."
"Aku gak peduli."
"Daddy mohon bantu dia untuk sembuh. Hanya ada satu cara yang akan membuat Mahesa sembuh."
Darius seketika mengerutkan kening. Dia pun menatap wajah sang ayah dengan tatapan mata tajam. Apa maksud permintaan ayahnya ini?
"Tunggu, Dad. Apa maksud Daddy? Aku membantu kesembuhan kak Mahesa? Caranya?" tanya Darius masih belum bisa mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh ayahnya tersebut.
"Kata Dokter, satu-satunya cara agar Mahesa bisa sembuh total adalah dengan cara menerima pendonor sumsum tulang belakang, dan hanya kamu yang bisa melakukannya. Daddy mohon dengan sangat, bantu kakakmu, jadilah pendonor buat dia."
Darius seketika merasa tercengang. Di saat dia berharap Kakaknya itu segera menghadap ilahi untuk selamanya, ayahnya sendiri meminta dirinya untuk menyelamatkan sang kaka?
'Hahahaha! Apa-apaan ini? Mana sudi aku menyelamatkan nyawa laki-laki itu di saat aku berharap dia mati,' (batin Darius).
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...