
Melisa berjalan keluar dari dalam kamar dengan di antar oleh Nyonya Camelia sang ibu mertua. Dia pun meraih sang putri yang semula di gendong oleh mertuanya itu. Wajah Nyonya Camelia terlihat kecewa. Ingin sekali dia berlama-lama dengan cucu satu-satunya itu.
"Jangan lupa besok kamu kembali lagi kemari ya, Mel. O iya, katanya kamu kerja?" tanya Nyonya Camelia.
"Iya, Mom."
"Lalu, Avisha sama siapa kalau kamu tinggal bekerja?"
"Sama baby sister, Mom. Itu juga baby sister tidak menjaga Avisha selama 24 jam. Dia hanya menjaganya ketika saya pergi kerja saja."
"Hmm ... Kasian sekali, cucu Oma. Begini saja, Mel. Bagaimana kalau Avisha di titip di sini ketika kamu bekerja, biar Mommy yang jagain dia. Dari pada cucu Mommy ini di asuh sama baby sister," usul Nyonya Camelia.
"Eu ... Apa gak ngerepotin Mommy nantinya?"
"Tentu saja tidak, Mel. Mommy justru senang bisa selalu dekat sama cucu Mommy ini."
Melisa tersenyum menanggapi. Entah mengapa hatinya benar-benar merasa bahagia. Andai saja dari dulu sikap Nyonya Camelia seperti ini, mungkin dia akan menjadi menantu paling bahagia di dunia ini.
"Terima kasih, Mom. Kalau memang Mommy inginnya seperti itu, mulai besok Avisha akan aku antarkan ke sini setiap pagi," jawab Melisa tersenyum ramah.
"Dengan senang hati Mommy akan menjaga Avisha."
__ADS_1
Seketika itu juga, bayi yang saat ini berada di dalam gendongan Melisa pun tersenyum manis. Mata jernihnya menatap wajah sang nenek, bayi yang masih berusia 3 bulan itu seolah mengerti dengan apa yang sedang di bicarakan oleh sang ibu dan juga neneknya itu.
"Avisha, sayang. Besok ke sini lagi ya, kita main bersama lagi kayak tadi. Oma sayang sama kamu, Nak. Muach!" lirih Nyonya Camelia, mengecup singkat pipi mungil sang cucu.
"Aku permisi dulu, Mom. Takutnya nanti kemalaman di jalan," pamit Melisa kemudian.
"Baiklah, kamu hati-hati jalan ya. Jaga cucu Mommy dengan baik. Supir Mommy sudah menunggu di depan."
Melisa menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah. Dia pun mengalami wanita paruh baya itu lalu berbalik dan keluar dari dalam rumah mewah keluarga besar Darion Mark.
Ceklek!
Melisa hanya bisa mendengus kesal. Orang yang paling ingin dia hindari akhirnya bertemu juga. Sesuatu yang sangat dia sesalkan sebenarnya.
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka lalu kembali di tutup kasar. Dua orang keluar dari dalam mobil tersebut. Ya ... Dia adalah Darius dan juga wanita bernama Mira. Kedua orang itu berjalan menghampiri seraya menatapnya dengan tatapan mata tajam. Senyuman sinis pun terukir dari bibir Darius juga kekasihnya itu.
"Kamu di sini ternyata?" tanya Darius tersenyum mengejek, dia pun menatap bayi yang saat ini berada di dalam gendongan Melisa.
__ADS_1
"Wah, dasar wanita tidak tahu malu. Baru juga cerai dari adiknya, eh ... Udah deketin kakaknya," celetuk Mira yang juga tersenyum sinis.
"Yang tidak tahu diri itu aku atau kamu, wanita murahan? Perempuan yang menjalin hubungan dengan suami orang, kumpul kebo selama bertahun-tahun. Yang lebih tidak tahu dirinya lagi, kamu segera mengambil alih rumah yang tinggali oleh istrinya setelah dia pergi. Apa bedanya aku sama kamu, hah?" jawab Melisa tidak mau kalah.
"Tapi setidaknya aku gak melahirkan anak haram kayak kamu, Melisa!"
"Kamu gak melahirkan anak haram ya karena mantan suami aku ini mandul. Coba kalau dia gak mandul, mungkin sudah berapa anak haram yang kamu lahirkan!"
Mira seketika mengepalkan kedua tangannya merasa kesal. Sementara Darius semakin tajam dalam menatap wajah Melisa mantan istrinya. Ya, dia memang mandul, tapi rasanya dia tidak terima jika kemandulannya dijadikan bahan olokan oleh mantan istrinya itu.
"Dasar kurang ajar, lancang sekali kamu mengatakan hal seperti itu, hah?" teriak Darius, dia pun melayangkan telapak tangannya ke udara hendak menampar Melisa.
"HENTIKAN. APA YANG KAMU LAKUKAN, DARIUS? JANGAN ADA YANG BERANI MENYAKITI CALON ISTRINYA MAHESA. SIAPAPUN YANG BERANI MELAKUKANYA, AKAN BERHADAPAN DENGAN MOMMY," teriak Nyonya Camelia datang di waktu yang tepat.
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1