
Melisa seketika merasa tercengang. Donor sumsum tulang belakang? Dia pun mencoba untuk berpikir keras. Pasti ada cara lain selain meminta bantuan kepada Darius untuk melakukannya. Laki-laki itu tidak akan bersedia mengingat bahwa mereka berdua sedang bertikai.
"Apa ada orang lain lagi selain Mas Darius yang bisa menjadi pendonor? Dia pasti tidak akan pernah bersedia untuk melakukannya, Mom," tanya Melisa.
"Sulit untuk mencari pendonor, Mel. Siapa lagi yang bisa melakukannya selain keluarga terdekat."
"Aku, Mom. Aku bersedia menjadi pendonor jika memang Dokter mengizinkan," ucap Melisa secara tiba-tiba.
"Mel?" lirih Mahesa seketika merasa terkejut.
"Kamu serius, Melisa?" Nyonya Farida pun merasakan hal yang sama.
Melisa menatap wajah Mahesa dan ibundanya secara bergantian. Senyuman kecil pun dia perlihatkan. Dia rela melakukan apapun demi kesehatan ayah dari buah hatinya itu.
"Kalian kenapa? Kenapa terkejut seperti itu? Mas Mahesa, Mommy. Aku serius, jika Dokter memperbolehkan aku benar-benar bersedia menjadi pendonor untuk kamu, Mas," ucap Melisa kemudian.
"Tapi, Mel. Menjadi pendonor itu resikonya besar lho. Kesehatan kamu juga bisa terganggu nanti. Kalau kamu sampai kenapa-napa, bagaimana? Lagian siapa yang akan menjaga Avisha ketika kamu dalam masa pemulihan nanti?"
"Avisha biar Mommy yang jaga. Kamu gak usah khawatir Mahesa," timpal Nyonya Farida, menatap bayi cantik yang saat ini masih berada di dalam gendongannya.
"Mom?"
"Melisa, Mommy akan sangat berterima kasih jika kamu bersedia untuk menjadi pendonor untuk Mahesa. Mommy janji akan segera menikahkan kalian jika proses pendonoran itu sudah berhasil dilakukan."
__ADS_1
"Tapi, Mom?" sela Mahesa merasa keberatan. Dia hanya merasa takut jika kesehatan wanita yang dicintainya itu akan terganggu jika dia nekat melakukan hal itu.
"Mas Mahesa tidak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja ko. Yang penting Mas bisa sehat lagi, semua ini demi putri kita."
Mahesa meraih pergelangan tangan Melisa lalu mengecup punggung tangannya mesra. Dia tidak menyangka bahwa perasaan Melisa bisa setulus itu terhadapnya. Rasa cintanya kepada wanita ini pun semakin menjadi-jadi kini.
"Mahesa, Melisa, Mommy akan membicarakan masalah ini kepada Daddy. Sementara itu, lebih baik kamu tinggal di sini dulu untuk sementara. Mommy juga ingin selalu dekat dengan Avisha," pinta sang ibu.
"Tidak usah, Mom. Gak enak kalau aku harus tinggal di sini. Kalau nanti Mas Darius tahu, bisa ka--"
"Gak udah mikirin dia. Putra Mommy yang satu itu memang sudah nakal sejak kecil. Dia sering banget berbuat onar."
Melisa hanya tersenyum menanggapi ucapan Nyonya Farida. Sikap ramahnya membuat hatinya merasa bahagia. Namun, dirinya tetap saja tidak bisa jika harus tinggal di rumah itu meskipun hanya untuk sementara.
"Maaf sebelumnya, Mom. Sepertinya aku gak bisa tinggal di rumah ini sebelum aku dan Mas Mahesa benar-benar menikah. Aku hanya ingin menjaga agar hubungan antara Mas Darius dan Mas Mahesa tidak bersitegang lagi."
"Baiklah kalau begitu, Mommy gak akan memaksa kamu untuk tinggal di sini, tapi kamu harus janji akan sering-sering berkunjung ke sini. Eu ... Jika masa idah kamu telah selesai, kami akan segera menikahkan kalian berdua," ucap Nyonya Farida dengan nada suara lembut.
"Baik, Mom. Sebelumnya aku benar-benar mengucapkan terima kasih sama Mommy. Aku pikir Mommy akan membenci aku karena aku telah mengkhianati Mas Darius. "
"Kenapa Mommy harus membenci kamu? Dari awal kamu memang seharusnya menikah dengan Mahesa. Yang terlebih dahulu selingkuh juga dia, kumpul kebo dengan wanita lain selama 3 tahun. Bahkan Mommy dengar kamu selalu diperlakukan tidak baik sama Darius. Sebagai ibunya, Mommy mewakili dia untuk minta maaf."
"Gak apa, Mom. Semua itu sudah berlalu, sekarang aku hanya ingin fokus dengan kesehatan Mas Mahesa. Jujur, aku cinta sama Mas Mahesa. Aku harap Mommy mau merestui kami."
__ADS_1
"Pasti, Mel. Mommy akan terima kamu sebagai calon istri Mahesa, karena sejak awal dialah yang seharusnya menikah dengan kamu."
"Terima kasih, Mom. Aku senang sekali mendengarnya. Aku tunggu kabar secepatnya tentang donor sumsum tulang belakang itu, lebih cepat lebih baik."
Mahesa menatap lekat wajah Melisa. Wanita yang menjadi sumber kekuatannya, ibu dari buah hatinya dan satu-satunya alasan dia bertahan dan mencoba untuk menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Terima kasih, Mel. Kamu masih mau menerima saya meskipun keadaan saya seperti ini. Penyakit yang saya derita bukanlah penyakit biasa. Penyakit ini sudah hampir sembuh sebenarnya, tapi belum bisa sepenuhnya pulih jika saya belum mendapatkan pendonor yang tepat. Saya cinta sama kamu, Mel. Saya janji akan sembuh demi kamu dan demi Avisha," lirih Mahesa panjang lebar.
Nyonya Farida menatap wajah putra sulungnya dan juga Melisa secara bergantian. Rasa bahagia pun terselip di dalam lubuk hatinya kini. Akhirnya Mahesa bisa menemukan tambatan hati, bahkan memiliki seorang putri yang luar biasa cantik dan lucunya, meskipun mereka melakukannya dengan cara yang salah, tapi tetap saja hal itu tidak mengurangi rasa syukurnya.
* * *
Setelah seharian berada di kediaman Mahesa. Menemani dan menghibur laki-laki itu, Melisa pun akhirnya pamit pulang. Sebenarnya dia masih ingin berlama-lama berada di samping Mahesa, tapi dia tidak ingin bertemu dengan Darius yang sewaktu-waktu bisa saja datang. Laki-laki itu adalah satu-satunya orang yang ingin Melisa hindari saat ini.
"Kamu hati-hati di jalan ya, Mel. Kamu pulang sama supir ya," pinta Nyonya Farida.
"Terima kasih, Mom. Besok aku usahakan untuk datang lagi kemari."
"Maaf, saya gak bisa antar kamu sampai depan. Keadaan saya masih seperti ini," ucap Mahesa merasa menyesal.
"Gak apa-apa, Mas. Mas istirahat saja. Aku pamit dulu."
Mahesa menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Dia pun menatap kepergiaan Melisa sampai wanita itu hilang di balik pintu. Rasanya dia ingin segera menikahi wanita itu agar perpisahan seperti ini tidak perlu terjadi.
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...