
Darius benar-benar tidak menyangka bahwa mantan istrinya itu mengandung, dan melahirkan seorang bayi hasil perselingkuhan dengan kakaknya sendiri di saat dirinya di vonis mandul. Hati seorang Darius benar-benar terbakar api cemburu. Rasa dendam itu pun kian mendalam, baik terhadap mantan istrinya maupun kakaknya sendiri.
"Dasar brengsek! Awas aja kalian, saya tidak akan pernah membiarkan kalian hidup bersama apalagi sampai menikah. Saya pastikan akan membuat hidup kalian berdua menderita," decak Darius, bola matanya nampak memerah. Rahangnya mengeras menahan rasa geram.
* * *
Mobil yang dikendarai oleh Mahesa mulai melipir dan berhenti tepat di depan sebuah rumah. Rumah sederhana yang di huni oleh wanita bernama Melisa bersama putri kesayangannya. Keduanya pun keluar dari dalam mobil secara bersamaan.
Mahesa berdiri di halaman rumah tersebut. Dia mengedarkan pandangannya menatap sekeliling rumah sederhana itu seraya mengerutkan kening. Hatinya merasa terluka, melihat wanita yang dicintainya juga putri kesayangannya itu harus tinggal di rumah yang menurutnya sangat sederhana.
"Ini rumah kamu, sayang?" tanya Mahesa.
"Iya, lebih tepatnya aku ngontrak di rumah ini," jawab Melisa tersenyum kecil.
"Hmm ... Kasihan sekali kamu harus tinggal di rumah seperti ini, Mel."
"Kenapa? Aku lebih suka tinggal di rumah kecil seperti ini, gak terlalu cape ngurus pekerjaan rumah. Lagian aku hanya tinggal berdua. Buat apa tinggal di rumah besar segala?"
"O iya, dimana bayi kita? Saya sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan dia."
"Dia ada di dalam, Mas. Mari kita masuk, putri kita mungkin sedang menunggu kedatangan ayah kandungnya."
Mahesa menggenggam erat jemari Melisa mesra. Senyuman bahagia pun mengembang dari kedua sisi bibirnya kini. Rasanya seperti mimpi dimana dia telah memiliki buah hati, hal yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Ceklek!
Pintu rumah pun di buka lebar. Keduanya masuk ke dalam rumah kemudian. Seorang baby sister nampak sedang menggendong bayi kecil berusia 3 bulan.
Mahesa segera menghampiri bayi tersebut dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Dia menatap wajah sang bayi buah hatinya bersama Melisa. Buliran air mata itu pun berjatuhan tanpa terasa.
"Namanya Avisha, Mas. Aku sengaja memberi nama itu karena bagiku, putri kita ini adalah hadiah dari Tuhan untukku," jelas Melisa, meraih tubuh sang bayi lalu menggendongnya.
__ADS_1
"Astaga, sayang. Ini bayi kita, putri saya, darah daging saya? Astaga, saya sama sekali tidak menyangka bahwa saya telah memiliki keturunan. Saya benar-benar merasa bahagia," lirih Mahesa, menatap sang bayi dengan tatapan mata sayu.
"Mas mau gendong?"
Mahesa menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
Perlahan, Mahesa mulai menggendong sang bayi dengan sangat hati-hati. Bayi cantik itu pun seketika menatap wajahnya lalu menyunggingkan senyuman. Dia seperti tahu bahwa laki-laki yang saat ini menggendong dirinya adalah ayah kandungnya sendiri.
"Dia tersenyum, Mas. Apa dia tahu bahwa Mas adalah ayah kandungnya?" tanya Melisa tersenyum sumringah.
"Sepertinya begitu. Sayang, ini Daddy, maaf karena Daddy baru datang kemari. Maafkan Daddy, Nak. Mulai sekarang Daddy gak akan pernah ninggalin kamu dan ibumu lagi, sayang."
Cup!
Satu kecupan pun mendarat pipi mungil sang putri. Lagi-lagi, laki-laki itu tidak kuasa untuk menahan rasa harunya. Rasa syukur pun dia panjatkan di dalam hati seorang Mahesa.
"Mbak, hari ini Mbak boleh pulang. Kebetulan sekali hari ini saya megambil cuti kantor," pinta Melisa, kepada baby sister yang sedari tadi berdiri di sana.
"Baik, Bu. Saya permisi dulu kalau begitu," jawabnya ramah. Dia pun keluar dari dalam rumah tersebut.
"Masa sih?"
Mahesa menganggukkan kepalanya seraya tersenyum sumringah. Sang bayi pun seketika memejamkan kedua matanya seolah begitu nyaman berada di dalam dekapan sang ayah.
"Avisha sepertinya sudah tertidur lelap, Mas. Sebaiknya dia di tidurkan di kamar," pinta Melisa kemudian.
"Benar juga, kamarnya yang mana?"
"Di sini, Mas."
Melis berjalan menuju kamar yang biasa dia tempati bersama sang putri. Dia pun membuka pintunya lalu masuk ke dalam kamar dengan diikuti oleh Mahesa. Laki-laki itu nampak menatap sekeliling kamar bernuansa pink lengkap dengan beberapa boneka yang tertata rapi di atas ranjang.
__ADS_1
Perlahan, dia pun mulai membaringkan tubuh Avisha di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Bayi mungil itu tiba-tiba saja menyunggingkan senyuman padahal kedua matanya tertutup rapat. Tentu saja hal tersebut membuat Mahesa seketika ikut tersenyum senang.
"Kita bicara di luar, Mas. Ada banyak yang ingin aku tanyakan sama Mas," pinta Melisa.
"Baiklah, hmm ... Ada banyak juga yang ingin saya ceritakan sama kamu, Mel."
Keduanya pun berjalan keluar dari dalam kamar. Pintu pun di tutup rapat agar pembicaraan mereka tidak menganggu tidur sang putri. Mereka duduk secara berdampingan. Keduanya saling menatap satu sama lain juga saling melempar senyuman.
"Kamu kemana aja, Mas? Kenapa tidak memberi kabar kepadaku sekalipun? Apa kamu tahu seperti apa kehidupan yang aku lewati selama ini? Apa kamu tahu betapa aku mengkhawatirkan kamu, Mas Mahesa? Aku pikir kamu sudah--" Melisa tidak kuasa untuk meneruskan ucapannya.
"Mati maksud kamu?"
Melisa menundukkan kepalanya. Otaknya seketika melayang kembali mengingat masa-masa sulit yang sempat dia lewati kala itu. Saat dirinya harus menjalani masa kehamilannya sendiri, melahirkan sendiri, juga berjuang mencari pekerjaan ke sana ke mari demi memenuhi kebutuhan dirinya dan juga si kecil.
"Maafkan saya, Mel. Sebenarnya ponsel saya hilang di bandara. Entah ketinggalan di taksi yang kita tumpangi, entah di mana. Sesampainya di Amerika saya ingin segera menghubungi kamu, tapi saya tidak tahu harus menghubungi kamu ke mana. Sekali lagi saya mohon maaf," lirih Mahesa, seketika memeluk tubuh Melisa merasa bersalah.
Wanita itu balas memeluk tubuh Mahesa erat. Dia melingkarkan kedua tangannya di punggung laki-laki yang sangat dia rindukan itu. Air matanya seketika tumpah, air mata kesedihan, air mata haru, juga air mata bahagia seolah melebur menjadi satu kini.
Akhirnya, dia tidak akan menjalani hidupnya sendiri lagi. Akhirnya, sang putri bisa merasakan kasih sayang ayah kandungnya. Akhirnya, dia memiliki sandaran hidup. Dirinya hanya akan meminta satu hal, setelah masa idahnya selesai dia ingin segera dinikahi oleh laki-laki bernama Mahesa tersebut.
"Setelah kamu menyelesaikan masa idah kamu, saya janji akan segera menikahi kamu, Mel," lirih Mahesa, seolah tahu apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Melisa.
Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya, dia semakin erat memeluk tubuh Mahesa juga memejamkan kedua matanya. Merasakan betapa nyamannya berada di dalam dekapan laki-laki yang sangat dia rindukan kehadirannya.
Cup!
Tiba-tiba saja Mahesa mengecup tengkuknya lembut. Tentu saja hal itu membuat Melisa seketika memejamkan kedua matanya merasakan merinding di sekujur tubuhnya kini.
"I love you, Mel," bisik Mahesa, hembusan nafasnya terasa dingin menyapu permukaan telinganya.
"I love you too, Mas Mahesa," jawab Melisa.
__ADS_1
Keduanya pun seketika mengurai pelukan. Tatapan mata mereka saling beradu menyiratkan arti yang mendalam. Sampai akhirnya, satu ciuman pun mendarat di bibir masing-masing.
BERSAMBUNG