Semalam Bersama Kakak Ipar

Semalam Bersama Kakak Ipar
Kembali


__ADS_3

Melisa seketika mengepalkan kedua tangannya. Hatinya benar-benar merasa gelisah setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh mantan suaminya. Rasanya sakit sekali mendengar hal itu. Namun, Melisa mencoba untuk menahan diri semampu yang dia bisa.


"Kamu pikir saya gak tahu apa yang telah kamu lakukan bersama Kak Mahesa di belakang saya, Mel? Saya tahu semuanya, dari A sampai Z saya tahu. Kamu bersikap seolah kamu adalah istri yang paling tersakiti karena perselingkuhan saya, tapi nyatanya kamu juga melakukan hal yang sama. Kamu mengkhianati saya, kamu tidur dengan Kaka ipar kamu sendiri!" ketus Darius, membuat Melisa seketika memejamkan kedua matanya menahan berbagai rasa di dalam hatinya.


"Apa kamu tahu kenapa aku melakukan hal itu, hah? Kamu tidak pernah memberikan perhatian kepadaku, Mas. Kamu bahkan meninggalkan aku dalam keadaan sakit demi wanita itu. Sedangkan Mas Mahesa berbeda, dia laki-laki yang lembut. Dia memperlakukan aku bak seorang ratu."


"Tidak seperti kamu. Kamu brengsek, kamu cuek, kamu bahkan memperlakukan aku dengan kasar. Jadi, wajar saja kalau akhirnya aku jatuh cinta sama Kaka kamu itu. Sekarang katakan dimana Mas Mahesa?" jawab Melisa penuh percaya diri.


"Jatuh cinta?" Darius seketika membulatkan bola matanya.


"Ya, aku jatuh cinta sama Kaka kamu. Jawab pertanyaan aku, dimana Mas mahesa berada saat ini?"


"Kamu pikir saya akan mengatakan sama kamu dimana dia sekarang? Hahahaha! Dia ada di neraka, Melisa. Saya gak akan pernah membiarkan kalian hidup bersama apalagi sampai menikah segala, saya pastikan tidak akan ada laki-laki yang mau sama kamu meskipun kamu cantik, Melisa!"


Melisa seketika berjalan mendekat. Kedua matanya menatap tajam wajah mantan suaminya penuh dendam. Rasa bencinya kepada laki-laki itu kian menjadi-jadi kini.


Plak!


Satu tamparan keras tiba-tiba saja mendarat di rahang Darius. Laki-laki itu merasa terkejut tidak menyangka bahwa Melisa akan seberani itu terhadapnya. Dia membulatkan bola matanya lalu melayangkan telapak tangannya ke udara hendak membalas, tapi pergelangan tangannya tiba-tiba saja di tahan oleh seseorang.


"Dasar banci, beraninya sama wanita," ujarnya tersenyum miring.

__ADS_1


Kedua mata Melisa seketika membulat sempurna. Buliran air mata pun memenuhi kelopaknya kini. Apakah dirinya tidak salah lihat? Dia ... Dia yang saat ini berdiri tepat di hadapannya adalah laki-laki yang sangat dia harapkan kehadirannya, laki-laki yang sangat dia tunggu kabar beritanya, ayah dari putri semata wayangnya.


"Mas Mahesa," gumam Melisa, buliran air mata pun seketika tumpah tidak tertahankan lagi.


"Kak Mahesa? Kapan kamu kembali ke sini? Ya ampun, saya kangen sekali sama kaka," ujar Darius seketika merubah ekspresi wajahnya.


"Jangan berakting di depan saya, Darius. Kamu masih belum berubah ternyata. Kamu masih saja kasar kepada Melisa, padahal status kalian sudah bukan suami-istri lagi!" bentak Mahesa merasa murka.


"Hahahaha! Jangan so jadi laki-laki gentle, kak Mahesa. Kamu itu sedang sekarat. Sebentar lagi kamu bakalan mati, Kak."


"Dasar adik kurang ajar! Berani kamu berkata seperti itu sama kakak kamu sendiri, hah?!" teriak Mahesa hendak menghantam wajah Darius, tapi segera di tahan oleh Melisa tentu saja.


Wanita itu memeluk tubuh Mahesa dari arah belakang. Bukan hanya menahan laki-laki itu yang hendak menghantam wajah mantan suaminya, tapi dia ingin sekali memuntahkan kerinduannya kepada Mahesa setelah sekian lama menghilang tanpa kabar dan berita.


Laki-laki itu seketika memejamkan kedua matanya. Dia mencoba untuk menekan emosi yang sebenarnya ingin sekali dia ledakan saat itu juga. Dia mengusap punggung tangan Melisa lembut.


"Dasar tidak tahu diri. Kamu berani memeluk kaka saya di depan saya mantan suami kamu? Hahahaha! Saya baru tahu wanita seperti apa kamu sebenarnya, Melisa!" decak Darius, entah mengapa hatinya terasa panas, rasa cemburu tiba-tiba saja memenuhi relung hatinya tanpa di duga.


"Cukup, Darius. Kita selesaikan masalah ini nanti, ingat urusan kita belum selesai," ketus Mahesa, dia pun menggandeng tapak tangan Melisa dan menariknya pergi dari tempat itu.


Hati seorang Darius semakin merasa terbakar saja kini. Rasa panas itu semakin menjalar di sekujur tubuhnya terasa membumi hanguskan organ tubuhnya di dalam sana. Dia menatap kepergian kaka serta mantan istrinya dengan tatapan mata penuh dendam.

__ADS_1


Laki-laki itu sama sekali tidak menyangka bahwa hatinya masih saja merasa cemburu melihat kebersamaan mereka berdua. Apakah rasa cinta itu masih tersisa di dalam lubuk hatinya? Atau, dia hanya merasa tidak rela jika kakaknya itu sampai memiliki wanita bernama Melisa, mantan istrinya sendiri? Entahlah, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang tahu.


"Brengsek, awas aja kalian berdua, aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup bersama apalagi sampai menikah," decak Darius penuh rasa dendam.


* * *


Sementara itu, Melisa segera menepis pergelangan tangan Mahesa sesaat setelah mereka sampai di luar gedung pengadilan. Dia menatap wajah laki-laki penuh rasa kecewa. Tangan Melisa bergerak memukul dada Mahesa pelan.


"Kamu kemana saja, Mas? Kamu bilang akan segera memberi kabar setelah kamu tiba di Amerika? Kamu bilang akan sering bertukar kabar, tapi apa? Kamu menghilang begitu saja, apa kamu tahu betapa khawatirnya aku, Mas? Aku bahkan melahirkan sendirian, hidupku menderita, Mas Mahesa. Kamu jahat, jahat, jahat! Hiks hiks hiks!"


Grep!


Mahesa segera memeluk tubuh Melisa penuh penyesalan. Dia mendekap erat tubuh langsing wanita itu. Satu-satunya wanita yang dia cintai saat ini. Satu-satunya wanita yang membuatnya kuat dalam menghadapai penyakit yang masih belum sepenuhnya sembuh.


"Maafkan saya, Mel. Saya benar-benar minta maaf, saya akan menceritakan semuanya sama kamu, sayang. Saya janji. Sekarang izinkan saya untuk menemui bayi kita. Dia dimana sekarang? Kamu menitipkan bayi kita sama siapa? Eu ... O iya, bayi kita laki-laki apa perempuan? saya benar-benar tidak sabar ingin segera bertemu dengan dia," tanya Mahesa dengan begitu antusiasnya.


"Bayi kita di asuh sama baby sister, Mas. Aku harus bekerja untuk menghidupi kami berdua. Bayi kita perempuan, dia sangat cantik," jawab Melisa perlahan mulai mengurai mengurai pelukan.


"Bayi? Jadi Melisa melahirkan bayi Kak Mahesa? Brengsek, kalian benar-benar telah menginjak-injak harga diri saya. Lihat saja, saya akan membalas semua penghinaan ini," gumam Darius yang saat ini berdiri di balik pilar.


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2