
"Apa maksud kamu, Mas? Bukankah kita sudah sepakat akan melakukan donor sumsum tulang belakang itu?" tanya Melisa seketika merasa heran kenapa Mahesa tiba-tiba saja berubah pikiran.
"Saya hanya takut kesehatan kamu akan terganggu gara-gara kamu melakukan hal ini. Saya takut kamu kenapa-napa, sayang."
"Aku baik-baik saja, Mas. Sungguh! Aku sudah berkonsultasi dengan Dokter tentang kemungkinan terburuk yang akan menimpa aku pasca pendonoran itu, dan kata Dokter aku hanya perlu di rawat selama beberapa hari di sini. Aku mohon, Mas. Aku mohon dengan sangat kamu jangan menolak pendonoran ini," jelas Melisa dengan nada suara memelas.
"Tapi, Mel--"
"Kalau Mas masih bersikeras, maka lebih baik kita gak usah menikah saja sekalian. Aku gak mau punya suami yang sakit-sakitan. Apa kamu gak kasian sama putri kita, Mas?!"
Mahesa diam seribu bahasa. Dia menatap wajah Melisa yang saat ini terlihat memelas lengkap dengan bola mata yang memerah menahan rasa kecewa. Rasanya, dia tidak kuasa untuk menyakiti apa lagi sampai mengecewakan Melisa.
"Mas? Kenapa kamu diam saja?" tanya Melisa, buliran air mata itu mulai berjatuhan membasahi wajah cantiknya.
"Iya saya mau, Mel. Demi kamu, demi Avisha putri kita."
"Syukurlah, terima kasih karena kamu bersedia menerima donor dariku, hiks hiks hiks!" tangis Melisa semakin terdengar nyaring.
"Kenapa jadi kamu yang berterima kasih kepada saya? Seharusnya saya yang berterima kasih sama kamu, sayang."
__ADS_1
Melisa meraih punggung tangan Mahesa lalu mengusap punggung tangannya lembut dan penuh kasih sayang. Senyuman kecil pun dia layangkan. Betapa dia sangat mencintai laki-laki ini lebih dari apapun.
* * *
Sementara itu di kediamannya Darius. Mira semakin menuntut atas kejelasan hubungannya dengan laki-laki bernama Darius. Mereka sudah terlalu lama tinggal bersama, tapi statusnya masih saja hanya sebatas kekasih biasa.
Wanita itu ingin segera dinikahi, apalagi Darius sudah menyandang status duda kini. Bukankah wajar jika dia menginginkan hal itu? Dinikahi oleh Darius sah secara hukum dan agama.
"Jadi kapan kamu mau nikahi aku, Mas. Kamu sudah menjadi duda lho sekarang," tanya Mira, menyambut kedatangan Darius yang baru saja tiba di kediamannya usai memprovokasi Mahesa di Rumah Sakit.
"Sabar dulu!" ketusnya, berjalan melintasi wanita itu begitu saja.
"Sabar?! Kurang sabar apa lagi aku ini, Mas? Kita sudah seperti suami istri kenapa kita tidak jadi suami istri sah? Ada apa sama kamu, Mas? Kamu pernah bilang sama aku kalau kamu akan segera menikahi aku kalau kamu sudah menceraikan Melisa, tapi sampai sekarang kamu tidak kunjung menikahi aku juga!" teriak Mira, mengikuti Darius dari arah belakang.
Blug!
Pintu kulkas di tutup keras. Darius yang sudah mencoba untuk menahan diri seketika benar-benar hilang kendali. Dia menoleh dan menatap wajah Mira. Rahangnya nampak mengeras, kedua tangannya pun mengepal kesal. Laki-laki itu mencengkram kuat kedua sisi pipi Mira, membuat wanita itu merasa terkejut tentu saja.
"Aku udah bilang untuk kamu bersabar, Mira! Kamu benar-benar wanita yang tidak tahu diri, gara-gara kamu rumah tanggaku berantakan. Gara-gara kamu aku bercerai dengan Melisa. Sekarang kamu meminta aku untuk menikahi kamu?! Hahahaha! Jangan bermimpi, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melakukannya!" teriak Darius murka.
__ADS_1
Suara tawa menggelegar pun terdengar begitu menakutkan. Mira tentu saja merasa tercengang. Dia baru mengetahui sisi lain dari laki-laki yang selama ini hidup bersamanya.
Bruk!
Tubuh wanita itu pun di hempaskan kasar hingga kepalanya tepat mengenai ujung meja makan sebelum akhirnya mendarat di lantai. Darah segar pun seketika menetes dari pelipis wajahnya kini.
"Argh!" teriak Mira kemudian.
Untuk beberapa saat, wanita itu terdiam menahan rasa sakit di kepalanya. Dia memejamkan kedua matanya, bukan hanya kepalanya saja yang sakit, tapi hatinya pun merasakan rasa sakit yang lebih dari sekedar luka di pelipis wajahnya saja. Namun, dia segera menguasai rasa sakit itu. Tubuhnya seketika bangkit dan berdiri tegak.
Mira menatap punggung Darius yang pergi begitu saja tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia pun menatap sekeliling dapur, pikirannya benar-benar telah hilang akal. Rasa sakit yang dia terima telah membutakan mata hati dan pikirannya kini. Tatapan matanya tertuju kepada pisau dapur berukuran besar. Tanpa berpikir panjang, dia pun meraih pisau tersebut kemudian.
"Kamu benar-benar laki-laki brengsek, Darius!"
Bles!
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1
PROMOSI NOVEL