
Tuan Dario Mark dan juga Nyonya Farida tentu saja merasa terkejut dengan apa yang mereka dengar dari bibir putranya itu. Mana mungkin putra sulungnya itu laki-laki tidak normal? Mereka tahu betul bahwa Mahesa sedang dalam keadaan tidak sehat. 3 tahun menjalani pengobatan di luar negeri tidak serta merta membuat penyakitnya sembuh benar.
"Bagaimana ini, Mas? Sampai kapan putra kita akan melajang seperti ini? Usianya saja sudah 38 tahun lho. Dia bisa jadi perjaka tua, Mas," decak Nyonya Farida menatap kepergian sang putra.
"Mungkin karena Mahesa tidak merasa percaya diri. Kita tahu sendiri bagaimana keadaan dia. Tubuhnya terlihat sehat, tapi--"
"Cukup, Mas. Putra kita sudah sembuh, 3 tahun lho, Mas. Dia telah menjalani pengobatan di luar negeri selama 3 tahun. Masa iya tidak sembuh juga? Aku hanya ingin melihat dia menikah dan memiliki seorang istri, syukur-syukur kalau dia bisa memberikan kita cucu. Aku hanya ingin melihat Mahesa bahagia dengan wanita manapun sebenarnya. Dia sudah banyak menderita selama ini, Mas," lirih Nyonya Farida panjang lebar. Kedua matanya nampak berkaca-kaca mengingat betapa menderitanya sang putra selama ini.
"Sabar, sayang. Kita berdoa yang terbaik saja untuk putra kita. Mahesa sudah sembuh, Mas yakin itu."
Nyonya Farida mengusap wajahnya kasar. Seketika itu juga suaminya segera memeluk istrinya mencoba untuk menenangkan. Hati orang tua mana yang tahan melihat penderitaan putranya, hidup melajang dan mengatakan bahwa dirinya adalah laki-laki yang tidak normal adalah sesuatu yang paling menyakitkan bagi kedua orang tua Mahesa.
* * *
Sementara itu, Mahesa berkendara tidak tentu arah. Di dalam otaknya hanya ada satu nama. Yaitu Melisa, wanita itu benar-benar telah mengusik ketenangan jiwanya.
Selama ini dirinya baik-baik saja tanpa Melisa, meskipun tubuhnya harus menahan rasa sakit yang tiada terkira akibat penyakit yang dia derita. Namun, tidak akhir-akhir ini.
Semenjak dia menghabiskan satu malam bersama wanita itu, kehidupan seorang Mahesa telah berubah. Rasa cintanya kepada Melisa terasa semakin membara.
Apalagi setelah dia melihat dan menyaksikan sendiri penderitaan yang di alami olehnya. Keinginannya untuk memiliki wanita itu kian besar kini.
"Kamu di mana, Melisa," gumam Mahesa.
Dia berkendara sepanjang hari, bahkan sepanjang malam hingga pagi menjelang. Namun, wanita yang dia cari sama sekali tidak bisa dia temukan. Laki-laki itu pun seketika mengusap lubang hidungnya tanpa sadar, bercak merah pun hampir memenuhi telapak tangannya kini.
"Sial, kenapa harus sekarang?" gumamnya lagi, menepikan mobil lalu berhenti tepat di tepi jalan.
Mahesa meraih botol kecil berisi obat-obatan, dia pun meminumnya bersama air putih yang memang selalu dia sediakan di dalam mobilnya. Laki-laki itu mendongakkan kepala, berharap bahwa darah segar yang mengalir dari lubang hidungnya itu akan berhenti mengalir. Sakit apa sebenarnya laki-laki bernama Mahesa itu?
* * *
__ADS_1
Satu minggu kemudian.
Darius menjalani hari-harinya sendiri dengan begitu kesepian di rumah besarnya itu. Tidak ada tawa Melisa yang biasanya menemani. Tidak ada rengekan manja sang istri, meskipun hanya selalu dia sikapi dengan sikap dingin. Rumahnya benar-benar sepi dan hening.
"Mas rindu sama kamu, Mel," gumamnya, menatap sekeliling rumahnya lalu mengusap wajahnya kasar.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu seketika membuyarkan lamunannya. Dia pun sontak berdiri dan berjalan ke arah pintu lalu membukanya kemudian. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Darius berharap bahwa yang datang itu adalah istrinya tercinta.
Ceklek!
Pintu pun di buka, harapannya pun seketika sirna. Yang datang bukanlah Melisa melainkan Mira, wanita yang selama ini menjadi selingkuhannya. Dia datang bersama putrinya yang bernama Talia.
"Daddy!" celoteh Talia segera memeluk Darius penuh kerinduan.
"Mira, Talia?" gumam Darius, otaknya seketika terasa berhenti berfungsi, saat apa yang menjadi harapannya hanyalah sebuah khayalan semu. Dia bahkan mengabaikan putrinya yang saat ini memeluk kedua kakinya erat.
"Hah? Eu ... Ten-tentu saja boleh. Silahkan masuk," jawab Darius, dengan perasaan enggan sebenarnya.
Dia pun menggendong Talia dan membawanya masuk ke dalam rumah. Mira nampak tersenyum menyeringai. Dia datang ke sana bukan tanpa alasan. Dirinya akan menuntut kejelasan prihal hubungan mereka.
"Istri kamu belum pulang, Mas?" tanya Mira mengedarkan pandangan matanya menatap sekeliling rumah.
"Iya, dia belum pulang sampai saat ini," jawab Darius dengan nada suara dingin.
"Oh, begitu rupanya. Aku tidak yakin dia akan kembali ke rumah ini setelah dia tau tetang hubungan kita."
Darius seketika mendengus kesal. Dia pun menurunkan tubuh Talia dan memintanya untuk beristirahat di dalam kamar. Gadis itu pun mengangguk patuh, lalu masuk ke dalam salah satu kamar.
"Apa tujuan kamu datang ke sini sebenarnya?" tanya Darius, menatap wajah Mira dengan tatapan mata tajam.
__ADS_1
"Apa lagi, aku 'kan sudah bilang tadi. Talia merengek-rengek minta ketemu sama kamu."
"Yakin? Bukan karena kamu punya tujuan lain?"
"Apa maksud kamu, Mas? Apa salah jika aku berharap lebih dengan hubungan kita? Toh istri kamu juga tidak akan pernah kembali lagi kemari. Aku yakin dia sedang bersama Kakak kamu sekarang."
Darius seketika mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya pun mengeras, hatinya terasa panas terbakar api cemburu. Membayangkan istrinya tidur bersama sang kakak benar-benar membuat hati seorang Darius merasa tersiksa.
Sebagai pelampiasan, dia pun seketika menarik pergelangan tangan Mira kasar dan membawakan masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu membuka satu-persatu pakaian yang melingkar di tubuh Mira tanpa perasaan.
"Tunggu, Mas. Kamu mau apa? Nanti Talia melihat kita. Tunggu sampai dia tidur dulu," teriak Mira mencoba untuk berontak, tapi teriakannya di abaikan.
Laki-laki itu benar-benar melampiaskan hasratnya dengan membabi buta dan kasar. Bukan rasa nikmat yang Mira terima melainkan rasa sakit yang tiada terkira. Suara isakan pun terdengar di tahan dari bibir wanita itu, tapi Darius sama sekali tidak menghiraukan.
"Mas! Pelan-pelan, sakit!" rintihnya seraya memejamkan kedua matanya.
* * *
Di tempat yang berbeda.
"Huek! Huek! Huek!" Melisa berjongkok di depan toilet.
Entah mengapa rasa mual itu tiba-tiba saja mendera. Tenggorokannya merasa tercekik, perutnya terasa kembung. Dia pun mengusap ujung bibirnya seraya menyandarkan punggungnya di tembok kamar mandi.
"Apa yang terjadi dengan perutku?" gumamnya, mengusap perut datarnya yang terasa aneh.
Pikiran Melisa pun seketika melayang mengingat sesuatu. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak. Bola matanya memerah lengkap dengan buliran air mata yang memenuhi kelopaknya kini.
"Ya Tuhan, kapan terakhir kali aku datang bulan? Tidak mungkin kalau aku ha-mil?" gumamnya, air mata itu seketika berjatuhan membasahi wajah cantiknya kini.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...