Semalam Bersama Kakak Ipar

Semalam Bersama Kakak Ipar
Janji


__ADS_3

"Kenapa kamu diam saja, Mel? Apa kamu tidak bersedia menikah dengan saya?" tanya Mahesa merasa tidak mendapatkan jawaban.


"Aku gak tahu, Kak. Aku terlalu syok mendengar semua ini. Aku bingung harus bagaimana, aku takut, kecewa dan tidak menyangka kalau Mas Darius ternyata mandul. Semua ini--"


"Sayang ... Dengarkan saya. Kamu tidak sendirian di sini, ada saya. Saya bukan laki-laki pengecut yang akan lari dari tanggung jawab. Saya cinta sama kanu, saya juga tidak peduli meskipun kamu mantan istri adik saya sendiri, karena memang seharusnya kamu menikah dengan saya bukan Darius."


Melisa lagi-lagi diam seribu bahasa. Buliran air mata itu seketika berjatuhan dari ujung pelupuk matanya kini. Hidup seorang Melisa yang memang sudah berantakan terasa semakin hancur tidak bersisa. Mahesa meraih pergelangan tangan Melisa lalu menggenggam erat jemarinya. Dia pun mengusap punggung tangannya lembut dan penuh kasih sayang. Telapak tangannya bergerak naik mengusap kedua sisi pipinya lembut dan penuh rasa cinta.


"Saya cinta sama kamu, Mel. Sudah lama saya memendam rasa ini. Saya pikir usia saya tidak akan panjang, itu sebabnya saya menolak untuk di jodohkan sama kamu, tapi saya menyesal karena telah melakukan hal itu. Sungguh, saya benar-benar menyesal, Mel."


Melisa masih diam membisu. Jiwanya benar-benar bergejolak menerima kenyataan pahit ini. Dia benar-benar tidak tahu jalan apa yang akan dia ambil kedepannya. Otaknya masih tidak bisa berfikir dengan jernih.

__ADS_1


Dia butuh waktu untuk berpikir, dia juga butuh waktu untuk menenangkan dan menjernihkan pikiran. Namun, Mahesa tidak ingin menunggu terlalu lama, karena ada hal lain yang harus dia pikirkan juga yaitu, masalah kesehatannya.


"Mel?" Lirih Mahesa lagi.


"Maaf, Kak. Aku masih butuh waktu untuk berpikir, semua ini terlalu mengejutkan. Aku masih belum bisa memberikan jawaban apapun. Aku akan sangat merasa senang jika aku memiliki suami yang baik seperti kaka. Kak Mahesa adalah suami idaman aku, tapi aku juga harus memikirkan hal lainnya."


"Banyak yang harus aku hadapi. Aku harus mempersiapkan diri tentang reaksi Mas Darius jika dia sampai tahu kalau ternyata aku hamil darah daging kakak, belum lagi mertua aku yang pastinya akan mencemooh aku karena aku hamil bayi dari laki-laki lain. Rasanya aku gak sanggup menghadapi semua itu, Kak. Aku takut ..." jelas Melisa panjang lebar.


"Hey ... Ada saya, Mel. Saya tidak akan membiarkan kamu menghadapinya sendirian, saya janji akan menemani kamu. Mari kita hadapi mereka bersama-sama. Saya janji tidak akan pernah meninggalkan kamu, saya janji tidak akan pernah menyakiti kamu seperti yang telah dilakukan oleh adik saya."


"Tapi kenapa, Mel? Saya benar-benar bahagia karena akhirnya saya akan memiliki seorang putra, ya ... Meskipun kita mendapatkannya dengan cara yang salah, tapi saya menganggap ini sebuah anugerah, juga jalan untuk kita bersama."

__ADS_1


"Terima kasih, kak. Aku sangat berterima kasih karena kaka sudah mencintai aku. Berikan aku waktu untuk menyelesaikan urusanku dengan Mas Darius. Namun, aku baru akan menggugat cerai dia setelah aku melahirkan. Aku gak mau kalau sampai Mas Darius tahu bahwa aku hamil. Please, jangan bilang sama dia tentang hal ini. Biarkan kehamilanku tetap di sembunyikan sampai buah hati kita lahir."


Mendengar kata, 'buah hati kita' seperti sebuah kekuatan bagi seorang Mahesa. Niatnya untuk sembuh semakin kuat. Rasa cintanya juga harapannya akan hidup bahagia bersama wanita bernama Melisa telah menjadi tujuan utama di dalam hidup seorang Mahesa.


"Saya akan menunggu dengan sabar, Mel. Saya akan menunggu sampai kamu benar-benar berstatus sebagai janda, saya juga akan menunggu sampai kamu melahirkan anak kita. Satu lagi janji saya kepada kamu, Mel. Saya janji akan sembuh dan menjalani hari-hari yang bahagia bersama kamu, Melisa," ucap Mahesa penuh keyakinan.


"Jawab pertanyaanku dengan jujur, Kak. Sebenarnya kaka sakit apa?"


Mahesa seketika diam membeku. Apakah ini adalah waktu yang tepat untuknya berkata jujur tentang penyakit yang selama ini dia derita? Penyakit yang membuatnya berjuang sendirian untuk sembuh. Penyakit yang membuatnya menolak perjodohan dirinya dengan Melisa 3 tahun yang lalu.


"Sebenarnya saya sakit--"

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2