
Darah segar seketika menetes dari punggung Darius kini. Dia pun sempat memutar tubuhnya dan menatap wajah Mira dengan bola mata memerah juga buliran air mata yang berjatuhan membasahi wajahnya. Sampai akhirnya, tubuh kekar seorang Darius pun tumbang di atas lantai.
Bruk!
Tubuh Darius terjatuh dan mendarat di atas lantai dengan posisi tertelungkup. Pisau dapur pun masih menancap sempurna di punggungnya kini. Darah segar seketika memerah membasahi lantai.
Mira sontak memundurkan langkah kakinya. Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan senekat ini. Kedua kakinya seketika terasa lemas, tubuhnya pun gemetar. Dia menatap telapak tangannya sendiri dengan bibir yang juga gemetar.
"Apa yang sudah aku lakukan! Hiks hiks hiks!" gumam Mira.
Tangisnya pun seketika pecah. Namun, dia tidak berani untuk mendekati tubuh laki-laki itu. Kedua mata Darius nampak terpejam sempurna, tapi dirinya tidak memiliki nyali hanya untuk sekedar memeriksa apakah Darius masih hidup atau sudah tiada.
Sedetik kemudian, wanita bernama Mira itu pun segera berlari ke arah kamar. Dia menggendong tubuh putrinya yang saat ini sedang tertidur lelap di atas ranjang. Wanita itu benar-benar meninggalkan tubuh Darius begitu saja. Hati dan jiwanya telah diliputi rasa kecewa yang mendalam yang telah menenggelamkan rasa cinta juga harapan-harapannya yang telah tertanam selama lebih dari 3 tahun lamanya.
* * *
Di Rumah Sakit.
Melisa nampak sedang memberikan ASI kepada putrinya tercinta. Ibu mertuanya pun senantiasa berapa di sana untuk menjaga sang cucu juga menemani Mahesa yang akan segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang dari wanita bernama Melisa.
"Mommy sudah sediakan susu formula untuk Avisha, mulai besok mungkin kamu gak akan bisa memberikan ASI lagi untuk dia," ucap sang ibu menatap wajah sang cucu di dalam pangkuan Melisa.
"Iya, Mom. Dia sudah terbiasa minum susu formula ketika aku tinggal bekerja. Jadi, Avisha gak akan terlalu rewel nantinya."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Mommy senang lho bisa menjaga bayi lagi. Sudah lama sekali Mommy tidak melakukan hal seperti ini, rasanya Mommy seperti muda lagi."
Melisa tersenyum menanggapi ucapan Nyonya Camelia. Dia pun menatap wajah Avisha dengan tatapan mata sayu. Mulai besok, dirinya tidak akan bisa menggendong putri kecilnya untuk beberapa hari ke depan karena dirinya akan menjalani proses pendonoran.
'Doakan Mommy dan Daddy ya, Nak. Semoga proses pendonoran Daddy-mu berjalan lancar dan kita bisa berkumpul lagi nanti,' batin Melisa, menahan berbagai rasa yang sulit dia ungkapkan dengan kata-kata.
Dret! Dret! Dret!
Ponsel milik Nyonya Camelia seketika bergetar. Wanita paruh baya itu seketika meraih ponsel lalu mengangkat telpon. Mahesa yang saat ini berbaring lemah di atas ranjang pun seketika merasa heran saat melihat perubahan raut wajah ibundanya.
📞 "Apa?" Nyonya Camelia tiba-tiba berteriak juga berdiri tegak.
"Apa yang terjadi, Mom?" tanya Mahesa mengerutkan kening.
"Mom?" tanya Melisa, mengusap punggung sang ibu lembut.
"Darius! Adikmu ada di ruang UGD sekarang. Punggungnya di tusuk dengan pisau," lirihnya kemudian.
"Apa?" Mahesa dan juga Melisa secara bersamaan.
"Mommy ke UGD sekarang. Daddy-mu juga sudah berada di sana," ujarnya lagi mencoba untuk berdiri tegak.
"Tunggu sebentar, Mom. Tenangkan dulu diri Mommy, ceritakan pelan-pelan siapa yang menelpon dan apa maksud perkataan Mommy tadi."
__ADS_1
"Daddy-mu nelpon, katanya Darius ada di UGD Rumah Sakit ini. Mommy juga tidak paham kenapa dan ada apa karena Daddy kamu tidak bilang apa-apa lagi," jelas Nyonya Camelia, suaranya terdengar gemetar begitupun dengan tubuhnya kini.
"Ya Tuhan!" decak Melisa, sekujur tubuhnya seketika merasa merinding. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Astaga! Apa yang terjadi?" decak Mahesa mengusap wajahnya kasar.
"Mommy harus segera ke ruangan UGD."
"Tunggu, Mom. Apa Mommy baik-baik saja ke sana sendirian? Aku antar ya," tawar Melisa.
"Gak usah, mana bisa ke UGD membawa bayi seperti ini. Kamu jaga Avisha saja di sini. Mudah-mudahan nyawa Darius masih bisa di selamatkan," jawab Nyonya Camelia. Dia pun berjalan keluar dari dalam kamar tersebut dengan tergesa-gesa.
Sementara itu, Mahesa mencoba untuk bangkit dan duduk tegak di atas ranjang. Walau bagaimanapun Darius adalah adik kandungnya. Meskipun mereka tidak pernah akur selama ini. Namun, ada rasa khawatir yang terselip di dalam lubuk hati seorang Mahesa.
"Kamu mau apa, Mas?" tanya Melisa, menatap wajah Mahesa yang saat ini hendak turun dari atas ranjang.
"Saya mau ketemu sama Darius, Mel. Saya takut dia kenapa-napa?"
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1