
Melisa dan laki-laki bernama Mahesa sudah berada di perjalanan menuju Bandara. Melisa dengan tegas mengatakan bahwa Mahesa harus tetap terbang ke Amerika untuk melakukan cek up kesehatannya. Bukan tanpa alasan dia bersikap tegas seperti itu, hal ini dikarenakan penyakit yang di derita oleh Mahesa bukan penyakit biasa.
Mahesa menggenggam erat jemari Melisa. Hatinya merasa begitu bahagia, akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan wanita ini setelah sekian lama. Ya ... Meskipun mereka kembali berpisah setelahnya, akan tetapi perpisahan mereka hanya untuk sementara dan keduanya telah berjanji akan bertemu kembali nantinya.
"Jaga bayi kita, Mel. Saya senang sekali karena akhirnya saya akan memiliki seorang bayi. Dalam mimpi pun, saya tidak berani berharap tentang hal ini, mengingat keadaan kesehatan saya. Semua ini sebuah anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk saya," lirih Mahesa.
Cup!
Satu kecupan pun mendarat di punggung tangan wanita itu lembut dan penuh kasih sayang. Senyuman bahagia mengembang dari kedua sisi bibirnya kini. Mahesa tidak pernah sebahagia ini di dalam hidupnya.
"Pasti, kak. Aku pasti akan menjaga bayi kita ini. Aku juga tidak berpikir bahwa aku akan mengandung bayi kaka, aku juga bahagia. Harapan terbesar aku saat ini adalah, kaka bisa benar-benar sembuh," jawab Melisa yang juga merasakan hal yang sama.
"Eu ... Mel, bolehkah saya meminta sesuatu sama kamu?"
"Tentu saja boleh, katakan saja."
"Eu ... Bisakah kamu memanggil saya dengan sebutan Mas? Hehehehe," tanya Mahesa seraya tersenyum cengengesan.
"Hah? Hahahaha! Tentu saja boleh, tapi rasanya pasti akan canggung sekali karena aku tidak terbiasa memanggil kaka dengan sebutan itu."
"Coba saja dulu."
"Baiklah ... Eu ... Mas Ma-he-sa," terbata-bata Melisa memanggil namanya dengan sebutan Mas.
"Sekali lagi."
__ADS_1
"Ikh, apaan sih? Sekali saja cukup, kak. Eu ... Maksud aku, Mas."
Keduanya pun tersenyum cengengesan. Hati mereka merasa berdebar tidak karuan. Perasaan keduanya juga terasa berbunga-bunga layaknya anak remaja yang sedang jatuh cinta.
Sampai akhirnya, taksi yang mereka tumpangi tiba di Bandara. Dengan berat hati keduanya harus mengakhiri pertemuan mereka. Meskipun keduanya telah berjanji untuk bertemu kembali, tapi rasanya tetap saja menyakitkan karena mereka belum sempat menumpahkan kerinduan yang sebenarnya tidak terbendung lagi.
Ckiit!
Mobil pun berhenti tepat di depan Bandara. Melisa bergeming di tempatnya. Kepalanya nampak menunduk sedih.
"Kamu gak mau mengantarkan saya sampai ke dalam?" tanya Mahesa.
"Boleh aku tidak ikut ke dalam? Eu ... Aku hanya akan mengantarkan Mas sampai sini saja."
"Lho, kenapa? Padahal saya ingin sekali di antar sampai--"
"Pasti, sayang. Saya pasti akan kembali, saya juga berjanji bahwa saya akan sembuh total, demi kamu, demi bayi kita." Telapak tangan Mahesa perlahan bergerak mengusap permukaan perut Melisa.
Cup!
Dia pun seketika mengecup perut buncit itu sebelum akhirnya memeluk tubuh Melisa. Satu kecupan pun mendarat di kening wanita itu mesra.
"Jaga diri kamu baik-baik, sayang. Saya akan segera menghubungi kamu setelah saya sampai di Amerika."
Melisa menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Saya harus turun sekarang."
Melisa kembali menganggukkan kepalanya, keduanya pun mulai mengurai pelukan. Kedua mata mereka seketika bertemu saling menatap satu sama lain. Senyuman kecil mengembang dari kedua sisi bibir masing-masing. Sampai akhirnya, kecupan kecil dan singkat mendarat di bibir masing-masing. Ciuman kecil itu pun berubah menjadi ciuman panas penuh gairah. Mereka saling me*mat dan berputar juga saling menyesap tidak peduli meskipun mereka tidak hanya berdua saja di sana, karena ada sang supir taksi yang saat ini memperhatikan mereka lewat kaca spion mobil.
"I love you," bisik Mahesa sesaat setelah dia melepaskan tautan bibirnya.
"I love you too, Mas," jawab Melisa tersenyum getir.
Dengan berat hati, Mahesa pun harus segera turun dari dalam mobil. Sementara Melisa hanya bisa menatap kepergian ayah dari bayi yang saat ini sedang dia kandung itu dengan berat hati sebenarnya. Tanpa terasa buliran air mata itu berjatuhan begitu saja dari pelupuk matanya kini.
'Selamat jalan, Mas. Aku akan menunggu sampai Mas pulang. Kembalilah dalam keadaan sehat. Aku cinta kamu, Mas Mahesa,' (batin Melisa).
* * *
5 bulan kemudian.
"Tarik napas, bu. Ayo, ibu pasti bisa. Kepala bayinya sudah terlihat," instruksi seorang Bidan yang membantu Melisa dalam melahirkan.
"Huuu ... Haaa ... Hmmm!"
Melisa menarik napas berat lalu menghembuskannya secara perlahan. Tidak lama kemudian, bayi yang di tunggu pun dilahirkan dengan selamat. Bayi perempuan yang begitu cantik.
"Selamat bu, Anda melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik," ucap sang Bidan, segera membersihkan bayi yang masih merah itu.
'Kamu di mana, Mas Mahesa. Kenapa kamu gak pernah menghubungi aku sekalipun,' (batin Melisa).
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...