Semalam Bersama Kakak Ipar

Semalam Bersama Kakak Ipar
Karma


__ADS_3

"Tapi keadaan Mas masih kayak gini, apa Mas kuat berjalan ke ruangan Unit Gawat Darurat?" tanya Melisa menghampiri Mahesa, sementara Avisha yang sudah tertidur lelap dia baringkan di atas ranjang.


"Saya kuat, Mel. Saya bisa berjalan sendiri ke UGD," jawab Mahesa.


"Aku akan temani Mas ke sana. Kita ke UGD sama-sama."


"Avisha siapa yang jaga, Mel?"


"Aku akan meminta Perawat untuk menjaga dia."


* * * *


Di ruangan Unit Gawat Darurat.


Nyonya Camelia dan Tuan Dario Mark menunggu dengan perasaan cemas. Mereka masih tidak mengerti kenapa Darius bisa berakhir seperti ini. Putra mereka di bawa ke sana oleh salah satu tetangga yang kebetulan berkunjung ke rumah Darius.


"Kenapa Darius bisa di tusuk? Siapa yang tega menusuk dia? Ya Tuhan!" tanya Nyonya Camelia mengusap wajahnya kasar.


"Mas juga gak tahu, kata orang yang membawa dia ke sini, Darius sudah dalam keadaan tertusuk di dalam rumahnya," jawab Tuan Dario Mark, menggenggam erat telapak tangan istrinya.


"Mira! Dimana wanita itu? Kenapa dia tidak ikut kemari? Bukankah dia tinggal bersama putra kita, Mas? Atau, Jangan-jangan pelakunya adalah wanita itu?"


"Masalah ini sedang di selidiki oleh pihak berwajib. Kalau memang dia pelakunya, Mas yakin wanita itu gak akan bisa lari kemana-mana."


"Apa yang terjadi, Mom, Dad? Darius kenapa?" tanya Mahesa duduk di kursi roda dengan di dorong oleh Melisa.


"Kenapa kalian ke sini segala? Dimana Avisha, dia sama siapa?" tanya Nyonya Camelia menatap wajah sang putra.

__ADS_1


"Avisha di jaga sama Perawat, Mom. Apa yang terjadi? Mas Darius kenapa?" tanya Melisa kemudian.


Ceklek!


Pintu ruangan Unit gawat Darurat seketika di buka. Dokter keluar dari dalam ruangan tersebut. Semua yang ada di sana segera menghampiri sang Dokter dan menanyakan keadaan Darius di dalam sana.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Tuan Dario Mark.


"Apa di sini ada yang bernama Melisa?" tanya sang Dokter.


"Saya Melisa, Dok," jawab Melisa, menatap wajah sang Dokter dengan perasaan heran, kenapa dirinya yang di cari di saat kedua orang tua Darius juga berada di sana.


"Pasien mencari anda, Nona Melisa."


"Saya?"


Semua yang ada di sana sontak menatap ke arah Melisa kini.


* * *


Di dalam ruangan Unit Gawat Darurat.


Darius nampak berbaring dengan posisi menyamping. Luka di punggungnya membuatnya tidak bisa berbaring terlentang seperti pasien pada umumnya. Kedua matanya nampak terpejam sempurna. Berbagai alat medis pun terpasang di tubuhnya kini.


"Mas Darius," gumam Melisa sesaat setelah dia sampai di dalam sana.


"Me-meli-sa," jawab Darius, dengan nada suara lemah, juga dengan napas yang terengah-engah menahan rasa sakit. Kedua matanya mencoba untuk menatap wajah Melisa yang saat ini terlihat samar-samar.

__ADS_1


"Kenapa Mas bisa seperti ini? Siapa yang melakukannya?"


"Ma-af, Mel. Ma-afkan sa-ya," lirih Darius.


Buliran air mata berjatuhan dengan begitu derasnya. Tatapan matanya nampak sayu menatap wajah mantan istrinya itu. Penyesalan memang selalu datang terlambat, dan karma selalu di bayar kontan sesuai dengan hukum tabur tuai.


"Iya, aku maafin kamu, Mas. Katakan siapa yang melakukan ini?"


Darius tidak mampu mengatakan apapun lagi. Keheningan pun tercipta, hanya suara mesin pendeteksi detak jantung saja yang terdengar patah-patah. Laki-laki itu nampak mengernyitkan kening, menahan rasa sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya kini.


"Se-moga ka-mu ba-ha-gia ber-sa-ma kak Ma-he-sa. Ma-afkan sa-ya."


Ucapan terakhir Darius sebelum suaranya benar-benar tertahan dengan mulut yang di buka lebar, kedua matanya nampak terbuka sempurna seolah melihat sesuatu yang mengerikan di depan sana.


"Mas? Mas Darius?"


Melisa mengguncangkan tubuh Darius. Kedua matanya seketika berair, dada seorang Melisa pun terasa sesak. Walau bagaimanapun laki-laki ini adalah orang yang pernah hidup bersamanya. Meskipun hanya rasa sakit yang dia terima, tapi mereka setidaknya pernah merasakan indahnya jatuh cinta. Manisnya menjadi pengantin baru dan bahagianya saling mencintai, meskipun rasa cinta itu harus berakhir juga pada akhirnya.


"Dokter!"


Melisa segera berteriak memanggil Dokter yang bertugas. Beberapa saat kemudian, yang di panggil pun akhirnya datang bersama petugas lainnya. Melisa segera memundurkan langkah kakinya agar sang Dokter bisa memeriksa keadaan pasien.


Tuuut!


Suara mesin pendeteksi jantung yang semula terdengar patah-patah kini hanya berbunyi satu nada saja. Hal itu menunjukkan bahwa sang pasien benar-benar sudah tidak lagi bernyawa.


"Innalillahi wainnailaihi rodziun."

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2