
"Gimana, Darius? Kamu mau 'kan menjadi pendonor untuk kakakmu?" tanya Tuan Dario Mark, mencoba bersikap selembut mungkin.
"Tidak! Aku tidak mau, Dad. Maaf, saya sibuk. Saya harus pulang sekarang," jawab Darius acuh ta acuh. Terlihat jelas dari wajahnya kalau dia sama sekali tidak peduli kepada sang kakak.
Laki-laki itu seketika bangkit lalu keluar dari dalam ruangan tersebut, meninggalkan sang ayah yang saat ini diliputi rasa kecewa yang mendalam terhadap sang putra. Dia bahkan tidak tahu sejak kapan kedua putranya itu mulai berseteru.
'Ya Tuhan lunakkan-lah hati putra bungsuku, sentuh-lah hatinya agar dia bersedia menjadi pendonor untuk kakaknya sendiri. Kenapa putra-putraku jadi seperti ini, ya Tuhan,' (batin Tuan Dario Mark).
Batinnya hanya bisa menangisi apa yang terjadi dengan kedua putranya. Tangis tanpa suara, tangis yang dia tahan air matanya. Orang tua mana yang tidak merasa sedih melihat kehidupan kedua putranya hancur hanya gara-gara makhluk berjenis kelamin wanita.
* * *
3 hari kemudian.
Melisa kembali dilanda rasa cemas. Sudah 3 hari ini Mahesa kembali tidak menghubungi dirinya. Apakah sesuatu yang buruk telah menimpa laki-laki itu? Sepulang kerja, dia akan mendatangi kediaman Mahesa. Rumah yang tidak lain dan tidak bukan adalah rumah mantan mertuanya sendiri.
Dengan mengambil resiko, dia nekat melakukan hal itu. Semua itu dia lakukan semata-mata demi Avisha, buah hatinya bersama Mahesa. Wanita itu nampak sudah berdiri tepat di depan pintu, dengan menggendong tubuh mungil Avisha. Dia menarik napas panjang lalu menghembuskan napasnya secara perlahan sebelum akhirnya menekan tombol bel.
Ting tong!
Bel pun dia tekan. Tidak lama kemudian pintu pun di buka lebar. Seorang wanita paruh baya nampak berdiri tepat di depan pintu. Dia menatap Melisa dari ujung kaki hingga ujung rambut. Untuk sesaat, wanita itu pun nampak mengerutkan kening. Namun, dia segera tersenyum ramah kepada Melisa.
"Melisa? Ya Tuhan, silahkan masuk," ucap Nyonya Farida tersenyum ramah.
Sikap ramah mantan ibu mertuanya itu membuat Melisa seketika merasa heran. Karena selama dia menjadi menantunya, sikap wanita itu selalu dingin terhadapnya.
"Selamat sore, Mom. Eu--"
"Masuk dulu, Mel. Kamu pasti mencari Mahesa 'kan?" sela Nyonya Farida belum sempat Melisa meneruskan ucapannya.
"Eu ... I-iya, Mom. Maaf kalau saya menganggu waktu istirahatnya Mommy."
"Langsung saja ke kamarnya. Eu ... Apa ini cucu Mommy?"
__ADS_1
"Hah?" Melisa seketika merasa tercengang. Dari mana Nyonya Farida tahu tentang hubungannya dengan Mahesa juga tentang buah hatinya itu?
"Boleh Mommy gendong?"
Melisa kembali tercengang.
"Mel?"
"Hah? Eu ... Iya, Mom. Tentu saja boleh," jawab Melisa akhirnya.
Perlahan Nyonya Farida mulai meraih bayi berusia 3 bulan itu. Senyuman lebar pun mengembang dari kedua sisi bibirnya itu. Akhirnya cucu yang dia dambakan berada di gendongannya kini. Terlebih cucunya itu berjenis kelamin perempuan.
"Astaga, cantik sekali kamu, Nak. Siapa namanya, Mel?" tanya Nyonya Farida menatap wajah cucu pertamanya dengan tatapan mata berbinar.
"Namanya Avisha, Mom."
"Avisha? Hmm ... Nama yang cantik, secantik wajahnya. O iya, Mel. Kamar Mahesa ada di sebelah sana, kamu masuk saja. Dia sedang istirahat."
"Baik, Mom," jawab Melisa.
Tapi apa ini? Sikap Nyonya Farida benar-benar di luar dugaan. Di luar nalar, di luar logikanya. Apa mungkin karena dia telah memberikan cucu yang selama ini diidam-idamkan oleh wanita itu? Ya, meskipun mereka melakukannya dengan cara yang salah, melakukan hubungan terlarang ketika Melisa masih menjadi istri dari laki-laki bernama Darius.
Sampai akhirnya, dia pun tiba di depan pintu kamar Mahesa. Melisa mengetuk pintu tersebut, suara yang sangat dia kenal pun terdengar dari dalam sana.
"Masuk!" teriak Mahesa dari dalam kamar.
Ceklek!
Melisa membuka pintu kamar. Dia pun masuk ke dalamnya dengan langkah kaki gontai. Mahesa nampak sedang berbaring lemah di atas ranjang dengan jarum infus yang menembus pergelangan kulit tangan kirinya.
Tatapan mata laki-laki itu menatap ke arah jendela. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa yang datang adalah wanita yang sangat dia rindukan. Sementara Melisa, dia menatap nanar tubuh Mahesa penuh rasa iba.
"Mas," lirihnya kemudian, membuat Mahesa sontak memutar kepala dan menatap wajah wanita itu merasa terkejut tentu saja.
__ADS_1
"Melisa?" gumam Mahesa, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Mas sakit lagi? Katanya kamu sudah sembuh, Mas? Kenapa kamu--" Melisa bahkan tidak mampu meneruskan ucapannya. Dadanya terlalu sesak. Melihat ayah dari buah hatinya berbaring lemah tidak berdaya membuat hatinya benar-benar merasa terluka.
"Saya baik-baik saja, Mel. Saya hanya perlu istirahat selama beberapa hari. O ya, apa kamu kemari bersama bayi kita? Dimana dia?"
"Baik-baik saja gimana? Wajah Mas pucat sekali, tubuh Mas juga kurus. Astaga, apa yang bisa aku lakukan untuk kesembuhannya Mas?" tanya Melisa mengabaikan pertanyaan Mahesa.
"Kamu belum menjawab pertanyaan saya? Dimana Avisha? Apa dia ada di sini juga? Atau, kamu tinggal bersama baby sister?"
"Avisha ada sama Mommy kamu, Mas. Beliau antusias sekali dengan bayi kita."
"Tentu saja beliau senang, sudah lama sekali Mommy ingin menimang cucu. Apalagi cucu perempuan. Semoga saja beliau mau menerima kamu sebagai menantunya lagi setelah melihat bayi kita."
"Mas belum menjawab pertanyaan aku. Apa yang harus aku lakukan agar Mas bisa kembali sembuh? Apa ada yang bisa aku bantu?"
"Yang perlu kamu lakukan adalah menjaga putri kita. Jaga dia dengan baik sampai Mas benar-benar sembuh. Berhentilah bekerja, fokus saja dalam merawat bayi kita."
"Kalau aku gak kerja, biaya hidup sehari-hari aku gimana? Buat beli susu formula, popok bayi dan lain sebagainya. Semua itu di beli pakai uang, Mas. Maaf, bukan maksud aku untuk--" Melisa tidak meneruskan ucapannya lalu menunduk sedih.
"Mel, kamu gak usah memikirkan semua itu. Semua kebutuhan kamu dan bayi kita biar saya yang tanggung."
"Gimana caranya? Mas 'kan lagi sakit? Mas sembuh saja dulu, sehat dulu. Setelah itu baru Mas mikirin kami berdua. Aku gak mau jadi beban buat Mas di tengah kondisi Mas yang sedang sakit seperti ini."
"Hanya ada satu cara agar Mahesa bisa sembuh, Mel."
Tiba-tiba saja Nyonya Farida masuk ke dalam kamar dengan menggendong Avisha. Dia berdiri tepat di samping Melisa kini. Wajah wanita paruh baya itu menatap sayu wajah Mahesa sang putra.
"Apa itu, Mom?" tanya Melisa.
"Mahesa harus mendapatkan donor sumsum tulang belakang. Masalahnya adalah, Darius menolak untuk menjadi pendonor, dan hanya dia yang bisa melakukan hal itu."
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...