
Mahesa menundukkan kepalanya. Apakah ini adalah waktu yang tepat untuknya memberitahukan kepada Melisa tentang penyakit yang selama ini dia derita?. Namun, apakah wanita ini tidak akan terkejut nantinya? Mengingat penyakit yang dia derita bukanlah penyakit yang biasa.
"Kak? Kenapa kakak diam saja?" tanya Melisa mengerutkan kening, sudah lama sekali dia ingin tahu tentang penyakit yang selama ini di sembunyikan oleh laki-laki bernama Mahesa ini.
"Sebenarnya saya mengidap kanker darah," jawab Mahesa akhirnya.
"Apa?" kedua mata Melisa seketika memerah. Buliran air mata memenuhi kelopaknya kini.
"Iya, Mel. Saya mengidap penyakit yang mematikan itu, tapi saya sudah hampir sembuh. 3 tahun menjalani pengobatan di Amerika, sel kanker di dalam tubuh saya sudah hampir menghilang sepenuhnya. Ya ... Meskipun begitu, saya harus tetap cek up kesehatan selama 3 bulan sekali untuk memastikan sel kanker itu tidak berkembang lagi di dalam tubuh saya."
Air mata Melisa seketika berjatuhan membasahi wajah cantiknya. Kenapa rasanya sakit sekali mendengar kakak iparnya mengidap penyakit yang luar biasa mematikan itu? Siapa pun pasti tahu betapa berbahayanya penyakit yang bernama kanker ini.
Kanker darah, atau bisa juga disebut dengan kanker hematologi, adalah kanker yang memengaruhi produksi dan fungsi sel darah. Kondisi ini disebabkan oleh pertumbuhan sel darah yang abnormal dan tidak terkontrol atau disebut sel kanker.
Sebagian besar kanker darah dimulai dari sumsum tulang di mana darah diproduksi. Di sumsum tulang, darah terbentuk ke dalam empat komponen, yaitu plasma darah, sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit, yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.
Jadi, selama ini Mahesa berjuang sendirian melawan penyakitnya itu? Jadi, ini juga yang membuat dia menolak untuk di jodohkan dengannya 3 tahun yang lalu? Dada Melisa seketika merasa sesak.
"Kamu pasti terkejut 'kan? Tapi, kamu tidak usah khawatir karena saya sudah sembuh, Mel. Apalagi sekarang saya punya tujuan hidup yaitu kamu," lirih Mahesa menatap wajah Melisa dengan tatapan mata sayu.
"Apa Kaka ke bandara hendak pergi ke Amerika untuk melakukan cek up kesehatan?"
Mahesa menganggukkan kepalanya.
"Lalu kenapa Kaka malah di sini bersama aku? Astaga, kalau penyakit Kaka bertambah parah gara-gara aku bagaimana? Seharusnya Kaka gak boleh batalkan perjalanan Kaka ke ke bandara? Ya Tuhan!" gerutu Melisa seketika merasa kesal. Rasa khawatir pun memenuhi relung hatinya kini.
__ADS_1
"Apa kamu khawatir?"
"Tentu saja. Penyakit kanker itu bukan penyakit yang biasa, kak. Pokoknya aku gak mau tahu, sekarang kita ke bandara. Aku akan mengantarkan kaka ke sana, oke?"
"Tidak bisa, pesawatnya mungkin sudah terbang sekarang."
Melisa mengusap wajahnya kasar. Kenapa hatinya bisa sesakit ini? Kenapa dia bisa sekhawatir ini? Sebesar itukah rasa cinta seorang Melisa kepada Kakak iparnya itu? Entah sadar atau tidak, sepertinya Melisa benar-benar telah mencintai Mahesa melebihi rasa cintanya kepada suaminya sendiri.
"Mel? Hey ... Kenapa kamu menangis? Saya tidak apa-apa, saya sudah bilang tadi kalau saya sudah sembuh," tanya Mahesa, meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipi mulus Melisa mesra.
"Tapi tetap saja, kenapa kakak membatalkan penerbangan kaka ke Amerika gara-gara aku? Seharunya kaka lanjutkan saja perjalanan kaka. Hiks hiks hiks!" Tangis Melisa semakin tidak terbendung lagi, rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi.
"Mana mungkin saya melanjutkan perjalanan saya setelah saya melihat kamu, Mel? Apa kamu tahu betapa saya mengkhawatirkan kamu? Saya sudah mencari kamu sesama 3 bulan ini, tapi kamu menghilang bak di telan bumi."
"Gak akan, Mel. Saya pastikan bahwa saya akan baik-baik saja, saya hanya ingin bersama kamu di sini."
"Tidak!"
"Hah? Maksud kamu?" Mahesa seketika mengerutkan kening.
"Kaka harus tetap terbang ke Amerika. Kaka beli tiket baru dan segera berangkat ke sana. Aku akan sangat marah jika kaka benar-benar membatalkan penerbangan ke Amerika dan lebih memilih bersamaku di sini," tegas Melisa penuh penekanan.
"Tapi, Mel. Kalau kamu menghilang lagi gimana? Kalau sampai saya tidak dapat menemukan kamu setelah saya kembali dari Amerika gimana? Saya tidak ingin kehilangan kamu ya. Bagaimana kalau kamu ikut dengan saya ke Amerika? Kamu temani saya berobat di sana."
"Tidak bisa, kak. Aku gak punya paspor, lagian aku sedang dalam keadaan hamil muda kayak gini. Bahaya kalau sampai naik pesawat. Aku janji gak akan kemana-mana. Aku janji akan menunggu kaka di sini. Kita masih bisa bertukar kabar lewat sambungan telpon."
__ADS_1
"Tapi saya tidak punya nomor ponsel kamu, Mel."
"O iya, mana ponsel kaka. Simpan nomor ponselku mulai sekarang. Pokoknya kaka gak boleh menunda penerbangan kaka ke Amerika, paham?"
Mahesa menyerahkan ponsel miliknya. Seketika itu juga Melisa segera melakukan sambungan telpon ke ponsel miliknya. Wajah wanita itu terlihat begitu khawatir, tapi entah mengapa, Mahesa begitu suka melihat sikap Melisa yang seperti ini.
Apa yang di tunjukan oleh Melisa seperti sebuah kekuatan baginya. Kekuatan yang luar biasa yang mendorong dirinya untuk sembuh total dari penyakit yang selama ini dia derita. Mahesa menyunggingkan senyam manis. Kedua matanya pun semakin intens dalam menatap wajah Melisa, wanita yang saat ini sedang mengandung buah hatinya.
"Ini nomor ponselku. Pokoknya Kaka harus sering memberi kabar kepadaku," ucap Melisa, dia yang semula menunduk seketika mengangkat kepala menatap wajah Mahesa.
"Ko kaka malah senyum-senyum kayak gitu? Apa kaka pikir semua ini lelucon? Apa yang akan terjadi dengan bayi kita jika keadaan kaka semakin memburuk? Lalu, bagaimana dengan aku jika penyakit kaka semakin parah nantinya. Aku gak sanggup jika harus melewati semua ini sendirian, hiks hiks hiks!" tangis Melisa kembali pecah seketika itu juga.
Grep!
Mahesa seketika memeluk tubuh wanita yang dia cintai itu. Satu tangannya bergerak mengusap perut wanita bernama Melisa lembut dan penuh kasih sayang. Hati Mahesa benar-benar merasa bahagia.
"Saya janji akan sembuh, Mel. Saya akan mengikuti apa yang kamu katakan tadi, saya akan terbang ke Amerika hari ini juga. Saya juga berjanji akan mendampingi kamu, sayang. Kamu tidak akan sendirian, saya hanya meminta satu hal sama kamu, Mel. Jaga bayi yang ada di kandungan kamu ini. Jaga bayi kita. I love you, Melisa."
"I love you too, Kak Mahesa. Aku akan mengantarkan Kaka ke Bandara."
Mahesa menganggukkan kepalanya seraya tersenyum penuh rasa haru.
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1