Semalam Bersama Kakak Ipar

Semalam Bersama Kakak Ipar
The Last


__ADS_3

Bruk!


Tubuh Mahesa terkulai lemas tepat di atas rasa istrinya. Napasnya berhembus tidak beraturan begitu pun dengan Melisa yang kini tersenyum puas memeluk tubuh suaminya erat. Untuk beberapa saat, keduanya mencoba mengontrol detak jantung yang sempat berdetak kencang merasakan sensasi yang tiada terkira.


"Berat, Mas," gumam Melisa, semakin lama tubuh Mahesa menindih tubuhnya maka semakin sulit untuknya menopang berat badan sang suami.


"O ya, maaf Mas hampir ketiduran di sini," jawab Mahesa mengangkat tubuhnya lalu turun secara perlahan.


"Jam berapa sekarang?" tanya Melisa memeluk tubuh suaminya erat.


"Jam 2 pagi."


"Hah serius? Kita bermain selama itu?"


"Kenapa memangnya? Ini 'kan malam pertama kita, jadi wajar dong kalau malam ini kita bermain semalaman?"


"Benar juga, kita istirahat dulu kalau begitu. Aku lelah banget, Mas."


"Setelah istirahat, kita lanjut gaya baru?"


Melisa menganggukkan kepalanya dengan kedua mata yang terpejam sempurna. Beberapa saat kemudian, wanita itu pun benar-benar tertidur lelap di dalam dekapan hangat suaminya.


Cup!


Satu kecupan pun mendarat di pucuk kepala Melisa sebelum Mahesa akhirnya tertidur lelap sama halnya seperti sang istri.

__ADS_1


5 jam kemudian.


Tubuh Melisa seketika menggeliat saat merasakan sesuatu yang aneh menyentuh bagian sensitive tubuhnya. Dia pun membuka kedua matanya pelan, jemari suaminya nampak sedang bermain-main di bawah sana.


"Kamu lagi apa, Mas?" tanya Melisa, menatap wajah suaminya dengan tatapan mata sayu menahan rasa yang sulit dia ungkapan dengan kata-kata.


"Kamu sudah bangun ternyata, hehehehe!" jawab Mahesa tersenyum cengengesan, tapi tangannya masih saja bermain di bawah sana.


Grep!


Melisa mencengkeram pergelangan tangan suaminya membuat Mahesa sontak menghentikan gerakan tangannya seketika.


"Kenapa? Sakit?" tanya Mahesa kemudian.


"Aku gak udah gak tahan, Mas," jawab Melisa, dia tiba-tiba saja bangkit lalu naik ke atas tubuh kekar suaminya.


Kedua mata Melisa menatap lekat wajah sang suami dengan tatapan mata genit. Tatapan yang belum pernah dilihat oleh Mahesa sebelumnya. Tatapan nakal yang sukses membuat Mahesa seketika tersenyum merasa senang. Ternyata istrinya berubah menjadi wanita nakal ketika dia sedang berada di atas ranjang.


"Arggghhh, sayang!" gumam Mahesa, saat istrinya itu mulai mengeluarkan keahliannya dalam bergoyang di atas ranjang. Laki-laki itu seketika memejamkan kedua matanya, seorang Mahesa benar-benar di buat melayang ke awang-awang.


* * *


30 menit kemudian.


Kedua mata Melisa seketika terpejam sempurna. Tubuhnya pun mengejang disertai dengan jantung yang berdetak kencang saat pelepasan itu kembali dia dapatkan. Dia yang masih berada di atas raga suaminya menghentikan gerakannya merasakan sensasi nikmat yang berbeda dengan sebelumnya.

__ADS_1


Mahesa yang menyaksikan hal itu hanya bisa tersenyum lucu. Wajah Melisa benar-benar terlihat menggemaskan. Sesuatu yang membuat gairah seorang Mahesa semakin naik kepermukaan.


"Giliran Mas, sayang!" ujar Mahesa, membalikan keadaan.


Dia berbalik dan berganti posisi. Dalam sekejap mata, raga Melisa sudah berada di bawah kekuasaannya. Laki-laki itu pun mulai memburu apa yang dia cari, tubuhnya bergerak maju mundur dengan tempo yang beraturan. Sampai akhirnya, pelepasan itu pun berhasil dia dapatkan. Tubuhnya mengejang, dia pun memperlambat gerakannya sampai akhirnya berhenti dengan suara lenguhan panjang yang lolos begitu saja dari bibir seorang Mahesa.


Giliran Melisa yang kini menatap wajah suaminya. Wajah suaminya itu terlihat begitu tampan entah mengapa. Senyuman kecil pun tersungging dari kedua sisi bibirnya kini.


Apakah ini mimpi? Dimana dia memiliki seorang suami yang baik dan begitu mencintai dirinya? Apakah dia tidak sedang berkhayal? dimana laki-laki bernama Mahesa telah sah menjadi suaminya kini. Hidup seorang Melisa tidak akan pernah merasa kesepian lagi. Hidupnya tidak akan sendiri lagi mulai sekarang, dan dia tidak perlu banting tulang lagi untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari bersama sang putri.


"Mas," lirih Melisa sesaat setelah suaminya berbaring di sampingnya kini.


"Apa, sayang?"


"Aku mau minta satu hal sama kamu, Mas Mahesa."


"Apa itu, katakan saja."


"Kata orang, sipat asli laki-laki akan terlihat ketika dia sudah menikah. Aku minta sikap kamu tidak pernah berubah kepadaku. Aku berharap rasa cinta kamu tidak akan pernah memudar seiring dengan berjalannya waktu. Aku juga berharap, jika suatu saat nanti kamu bertemu dengan wanita yang lebih cantik dariku, ingatlah aku yang akan selalu mencintai kamu, ingatlah aku yang akan selalu berada di sisi kamu dalam susah maupun senang," ucap Melisa panjang lebar.


"Permintaan macam apa itu? Hal seperti tidak perlu di minta, karena Mas tidak akan pernah berubah. Cintanya Mas juga tidak akan pernah berkurang. Mas juga akan menjaga mata, hati dan perasaan Mas dari wanita-wanita di luaran sana. Kamu adalah ratu di hati Mas. Ratu di rumah dan dimanapun Mas berada. I love you, Melisa," jawab Mahesa bersungguh-sungguh.


"I love you too, Mahesa."


'Jika kamu ingin istrimu menjadi wanita penurut maka bersikap lembut'lah kepadanya. Mau istrimu bersikap baik, maka bimbinglah dia. Jika kamu mau istrimu setia, sayangilah dia dengan sepenuh hati. Jika ingin istrimu terlihat cantik, maka berilah dia modal untuk mempercantik diri. Jika ingin istrimu memiliki sopan santun, maka ajari'lah dia. Bagaimana bentuk wanitamu tergantung bagaimana kamu memperlakukannya.'

__ADS_1


MAHESA


...--------TAMAT--------...


__ADS_2