
Melisa seketika menundukkan kepalanya menahan rasa getir. Dia memundurkan langkah kakinya mengurai jarak di antara mereka. Mahesa yang menyaksikan hal itu tentu saja seketika mengerutkan kening. Senyuman lebar pun tiba-tiba saja dia layangkan, entah mengapa hatinya seketika merasa senang.
"Perut kamu, Mel? Kamu ha-mil?" tanya Mahesa.
Melisa hanya diam seraya menunduk getir.
Grep!
Mahesa kembali memeluk tubuh wanita itu. Kali ini tidak terlalu erat. Namun, Melisa kembali mengurai pelukan seketika itu juga.
"Kamu beneran hamil, Mel? Ya Tuhan! Kamu hamil darah daging saya, hahahaha!" lirih Mahesa membuat Melisa seketika mengerutkan kening.
"Apa maksud kaka?" tanya Melisa, merasa tidak mengerti dengan apa yang baru saja di katakan oleh laki-laki bernama Mahesa.
"Eu ... Kamu tinggal di mana? Apa kamu tinggal di sekitar sini? Bagaimana kalau saya ke rumah kamu? Saya akan menceritakan semuanya sama kamu."
Melisa semakin tidak mengerti. Otaknya tidak dapat berfikir dengan benar saat ini. Ucapan terakhir yang di ucapkan oleh Mahesa benar-benar membuatnya merasa terkejut.
Dia mengandung putra laki-laki bernama Mahesa ini? Bagaimana bisa? Bukankah mereka hanya melakukannya 1 kali? Bukankah seharusnya dia mengandung buah hatinya bersama Darius? batin Melisa merasa dilema. Wanita itu bahkan menurut begitu saja saat tubuhnya di papah untuk masuk ke dalam mobil taksi.
"Pak, kita ke Restoran yang di depan sana? Saya gak jadi ke bandara," pinta Mahesa kemudian.
__ADS_1
"Baik, Mas," jawab sang supir, seketika itu juga mobil pun kembali melaju meninggalkan tempat itu.
"Kaka mau ke bandara?" tanya Melisa akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Tadinya saya memang mau ke bandara, tapi sekarang gak jadi. Saya akan bersama kamu di sini."
"Aku gak apa-apa, kak? Kalau kaka mau ke bandara, teruskan saja perjalanan kaka. Aku baik-baik saja."
"Tidak, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Apa kamu tahu, saya sudah mencari kamu selama ini?"
"Tapi, kak--"
"Sttt! Dengarkan saya, Melisa. Saya tidak akan pernah meninggalkan kamu. Saya janji akan mendampingin kamu sampai kamu melahirkan, saya janji sayang!" sela Mahesa, tentu saja sikap Mahesa itu semakin membuat Melisa merasa bingung.
"Sekarang jelaskan kepadaku, kak? Apa maksud kaka yang mengatakan bahwa aku mengandung darah daging kaka?" tanya Melisa, ingin segera mengobati rasa penasarannya.
Mahesa menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, sebelum akhirnya menjelaskan duduk persoalan. Senyuman lebar pun dia layangkan. Jujur saja, hati seorang Mahesa benar-benar merasa bahagia. Dia bahkan mengabaikan niat awalnya yang semula hendak pergi ke Amerika untuk cek up kesehatan.
"Dengarkan saya. Lebih baik kamu segera ceraikan Darius. Kamu tahu, wanita itu sudah tinggal di rumah kalian sekarang," jelas Mahesa.
"Bukan itu maksud aku, Kak. Aku gak peduli dengan hubungan mereka. Apa maksud kaka yang mengatakan bahwa aku mengandung darah daging kaka?"
__ADS_1
"Suami kamu mandul!"
Kedua kaki Melisa seketika melemas. Jadi, mereka belum memiliki momongan karena suaminya itu mandul? Sungguh sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Apa? Mas Darius mandul? Kaka bercanda 'kan? Gak mungkin kalau--" Melisa tidak kuasa untuk meneruskan ucapannya.
"Betul, Mel. Suami kamu mandul."
"Lalu anak itu? Anak perempuan yang waktu itu?"
"Dia bukan darah daging Darius. Wanita itu seorang janda dengan satu anak."
Sesak, dada Melisa seketika merasa sesak. Tubuhnya semakin melemas saja kini. Jadi, dia benar-benar hamil darah daging Mahesa, kakak iparnya sendiri? Sungguh hal yang sangat memalukan, apa yang akan di katakan oleh orang-orang? Terutama apa yang akan di katakan oleh ibu mertuanya nanti jika mereka tahu tentang hal ini?
"Mel? Kamu baik-baik saja?" tanya Mahesa menatap lekat wajah Melisa merasa khawatir.
"Tidak! Aku tidak baik-baik saja, Kak. Apa kata ibu mertua aku kalau mereka sampai tahu tentang hal ini? Apa kata orang-orang nanti jika mereka tahu bahwa aku ternyata mengandung benih kakak iparku sendiri? Aku gak sanggup, Kak. Aku gak sanggup menghadapi semua ini, hiks hiks hiks!" Tangis Melisa seketika pecah.
"Dengarkan saya, Mel. Kamu gak akan sendirian. Ada saya yang akan menemani kamu. Saya janji akan bertanggung jawab. Saya akan segera menikahi kamu setelah kamu bercerai dengan adik saya. Kamu mau 'kan menikah dengan saya?"
Melisa diam tidak menjawab pertanyaan laki-laki bernama Mahesa itu. Dadanya terasa begitu sesak hanya untuk mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu apakah dirinya akan bersedia untuk di nikahi oleh laki-laki bernama Mahesa atau tidak.
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...