
"Mas? Kenapa kamu diam saja? Apa yang aku katakan tadi itu benar?" tanya Mira seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Darius.
"Yang mana?" Darius balik bertanya. Dia terlalu larut dalam lamunannya hingga tidak mampu mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Mira.
"Kamu masih menyimpan rasa kepada mantan istri kamu itu? Diam-diam kamu masih mencintai dia?"
"Hah? Jangan ngaco kamu. Sekarang kita pulang. Kita bicarakan masalah ini di rumah."
"Mau sampai kapan kita kumpul kebo kayak gini? Aku merasa jadi wanita yang tidak punya harga diri, Mas. Nikahi aku secepatnya."
"Saya bilang kita bicarakan ini di rumah, Mira. Apa kamu tidak punya telinga, hah?" tegas Darius mulai merasa kesal.
Laki-laki itu membuka pintu mobil lalu memaksa Mira untuk masuk ke dalamnya dengan kasar. Mira sempat berontak pada awalnya, tapi akhirnya dia pun pasrah begitu saja saat tubuhnya di dorong hingga dia benar-benar masuk ke dalam mobil tersebut.
* * *
1 minggu kemudian.
Akhirnya Melisa akan menjalani pemeriksaan secara menyeluruh apakah dirinya layak untuk jadi pendonor untuk laki-laki bernama Mahesa, ayah dari buah hatinya, laki-laki yang dia cintai dengan segenap jiwanya.
Mahesa pun sudah menjalani perawatan di Rumah Sakit. Ruangan VVIP yang akan di huni oleh mereka berdua sudah disiapkan. Jika boleh berkata jujur, Mahesa masih merasa keberatan jika Melisa, wanita yang dia cintai itu melakukan hal yang membahayakan kesehatannya. Dia takut jika kesehatan wanita itu akan terganggu nantinya.
__ADS_1
Melisa nampak itu sudah memakai pakaian pasien berwarna biru muda sama seperti dirinya. Dia sedang menunggu kedatangan Perawat dan juga Dokter yang akan membawanya ke ruangan khusus untuk menjalani pemeriksaan. Wajah Melisa nampak biasa saja, dia bahkan tidak henti-hentinya menyunggingkan senyuman. Entah senyuman senang, atau hanya senyuman penghibur agar Mahesa tidak terlalu merasa khawatir.
"Kamu yakin akan melakukan ini, Mel?" tanya Melisa, wajahnya terlihat khawatir.
"Tentu saja aku yakin, Mas. Hanya ini satu-satunya cara agar kamu bisa sembuh," jawab Melisa duduk di tepi ranjang dimana Mahesa berbaring lemah saat ini.
"Kalau kamu sampai kenapa-napa nantinya, gimana? Saya akan merasa sangat bersalah jika kesehatan kamu sampai terganggu gara-gara kamu menjadi pendonor untuk saya."
"Mas, aku baik-baik saja, sungguh. Selama ini aku gak punya riwayat penyakit apapun. Tubuhku normal dan sehat. Mas gak usah khawatir, sekarang Mas fokus saja dalam mempersiapkan diri untuk proses pendonoran itu, oke?"
Ceklek!
"Silahkan Mbak ikut dengan kami, kita akan melakukan serangkaian cek up kesehatan," ucap salah satu Perawat.
"Baik, Mbak. Tunggu sebentar," jawab Melisa, menatap wajah Perawat itu sekejap lalu kembali mengalihkan pandangannya kepada Mahesa.
"Sayang," rengek Mahesa.
"Aku pergi dulu, Mas. Aku hanya akan diperiksa saja, gak bakalan di apa-apain. Aku baik-baik saja."
"Tapi, Mel."
__ADS_1
"Mas, aku mohon izinkan aku pergi. Aku hanya ingin menunjukan kepada Mas, Mommy dan Daddy kamu, seberapa tulusnya perasaan aku kepada Mas. Beberapa besarnya cinta aku sama Mas Mahesa. Jadi, biarkan aku pergi," lirih Melisa menatap sayu wajah Mahesa kini.
Dengan berat hati, akhirnya Mahesa pun melepaskan genggaman tangannya. Dia menatap wajah Melisa dengan tatapan mata sayu. Betapa dia sangat bersyukur karena telah dicintai oleh wanita bernama Melisa ini.
"Terima kasih, Mel. Saya cinta kamu. Saya janji akan membahagiakan kamu dan putri kita, selamanya."
Ucapan terakhir Mahesa sebelum wanitanya itu benar-benar keluar dari dalam kamar rawat inap tersebut. Dia menatap tubuh Melisa lekat sampai wanita itu benar-benar menghilang di balik pintu.
"I love you, Mel," gumamnya kemudian.
Ceklek!
Pintu kamar pun kembali di buka lebar. Mahesa nampak mengerutkan kening melihat siapa yang datang. Darius sang adik masuk ke dalam kamar sendirian. Dia menatap tajam wajah Mahesa penuh kebencian.
"Katanya kamu cinta sama Melisa, Kak? Kamu kata dia adalah wanita yang paling berharga di dunia ini, tapi kenapa kamu membiarkan dia melakukan hal yang membahayakan nyawanya kayak gini, hah? Apa jangan-jangan kaka sengaja mendekati dia agar Melisa mau menjadi pendonor untuk Kakak?"
Mahesa seketika merasa tercengang.
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1